Intip rekomendasi saham Summarecon (SMRA) usai kinerja marketing sales melesat

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan kinerja moncer di tahun 2025. Di mana, pendapatan prapenjualan alias marketing sales SMRA mencapai Rp 5,52 triliun sepanjang 2025.

Dalam catatan KONTAN, marketing sales SMRA berhasil melampaui target di tahun lalu. 

“Target marketing sales di 2025 Rp 5 triliun, tapi kami mencapai Rp 5,5 triliun, melebihi target,” ujar Presiden Direktur SMRA, Adrianto Pitojo Adi beberapa waktu lalu.

Sayangnya, Adhi masih belum memaparkan target kinerja di tahun 2026 lantaran diakui masih dalam penyusunan.  

Cek Rekomendasi Saham AMMN, BBYB, RAJA dan RMKE untuk Perdagangan Hari Ini (11/2)

Namun, kata dia, segmen pengembangan properti akan terus berkontribusi sebesar 70% ke pendapatan secara keseluruhan. Sisa 30% berasal dari recurring income.

Strategi yang dipasang untuk memenuhi target itu adalah dengan melakukan ekspansi bisnis mal. Terbaru, SMRA telah meresmikan Summarecon Mal Bekasi Tahap 2 (SMB 2).

Tim Riset Stockbit mengatakan, marketing sales SMRA sepanjang 2025 naik sebesar 27% secara tahunan alias year on year (YoY). 

“Dengan total penjualan Rp5,52 triliun, perseroan mencatatkan realisasi sekitar 11% lebih tinggi dari target yang ditetapkan untuk tahun buku 2025,” ujar riset yang diterima Kontan, Selasa (10/2/2026). 

Raihan marketing sales SMRA di tahun 2025 didorong oleh lonjakan penjualan pada kuartal IV 2025 yang mencapai Rp1,96 triliun. 

“Angka tersebut tumbuh 15% YoY dan melesat 41% dibandingkan kuartal III 2025 (QoQ),” katanya.

Produk residensial masih menjadi motor utama pertumbuhan SMRA di tengah dinamika sektor properti. Segmen rumah tapak menjadi penopang utama dengan porsi mencapai 74% dari total marketing sales sepanjang tahun lalu.

Selanjutnya, segmen ruko menyumbang sekitar 17% dari total penjualan, diikuti oleh kavling tanah sebesar 7%. 

“Lalu, kontribusi dari segmen apartemen tercatat 2%, serta segmen perkantoran dan komersial hanya berkontribusi sekitar 0,1% ke marketing sales,” tulis Stockbit.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat, marketing sales SMRA sepanjang tahun lalu ditopang oleh segmen penjualan properti, baik rumah tapak maupun apartemen. 

“Ini semestinya bisa memberikan tren positif untuk kinerja pada laporan keuangan sepanjang 2025,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (10/2).

Rebalancing MSCI: Indofood (INDF) Terdepak dari MSCI Global Standard Index

Research Analyst Panin Sekuritas, Aqil Triyadi mengatakan, pendorong raihan marketing sales SMRA di tahun 2025 dari product houses yang tumbuh 24% YoY dan memiliki kontribusi sebesar 73% terhadap total marketing sales. 

Berdasarkan lokasi, Summarecon Serpong masih menjadi kontributor utama dengan mencatatkan Rp2,48 triliun sepanjang 2025, naik 45% YoY. 

Namun, untuk proyeksi laporan keuangan tahun 2025, belum akan terimplikasi dari kinerja marketing sales mereka. Sebab, biasanya butuh waktu 1-3 tahun untuk pencatatan ke dalam accounting dan dapat diakui sebagai pendapatan. 

“Untuk itu, raihan marketing sales positif di 2025 akan dapat terimplikasi pada beberapa tahun berikutnya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (10/2).

Di tahun 2026, Nafan melihat, kinerja SMRA dilihat masih prospektif dengan portofolio propertinya yang menarik, dengan segmen penjualan untuk masyarakat menengah ke atas.

Sementara, Aqil merinci katalis positif untuk SMRA di tahun 2026 berasal dari potensi pemangkasan suku bunga, insentif PPN DTP yang masih dilanjutkan hingga 2027, dan peluncuran produk baru perseroan.

  SMRA Chart by TradingView  

“Sentimen negatif dari tantangan daya beli khususnya pada segmen kelas menengah ke bawah dan ketidakpastian ekonomi global,” ungkapnya.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, kinerja SMRA di tahun 2026 bisa lebih baik lantaran recurring income dari mal yang mulai pulih. 

“Sentimen positifnya potensi penurunan suku bunga KPR, sementara sentimen negatifnya dari kenaikan harga bahan bangunan yang bisa menggerus margin,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa.

Wafi bilang, valuasi saham SMRA masih menarik dengan diskon net asset value (NAV) yang besar dan harga saat ini di bawah rata-rata historis price to book values (PBV) lima tahunnya. Dia pun merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp630 per saham.

Aqil menghitung, valuasi SMRA saat ini PBV berada di 0,60x. Rekomendasi hold pun disematkan Aqil untuk SMRA dengan target harga Rp 450 per saham.

Nafan merekomendasikan add untuk SMRA dengan target harga Rp 412 per saham.