
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Saham emiten berbasis sumber daya alam tertekan pada perdagangan Rabu (21/1/2026), menyusul sentimen pencabutan izin pemanfaatan hutan oleh pemerintah.
Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Astra International Tbk (ASII) kompak melemah, sementara tekanan dinilai paling besar dirasakan PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU).
Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai dampak pencabutan izin pemanfaatan hutan terhadap masing-masing emiten berbeda. Untuk INRU, efeknya bersifat masif dan fundamental karena izin hutan merupakan aset utama operasional perseroan. Sebaliknya, dampak terhadap UNTR dan ASII dinilai relatif terbatas.
“Untuk INRU, dampaknya sangat fundamental karena izin hutan adalah tulang punggung operasional. Sementara UNTR dan ASII lebih terbatas dan cenderung bersifat sentimen sementara karena portofolio bisnis mereka sangat terdiversifikasi,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
IHSG Anjlok 1,24% ke 9.021,5 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: UNTR, ASII, CTRA
Ia menambahkan, pelemahan saham UNTR dan ASII saat ini lebih mencerminkan kepanikan pasar jangka pendek, bukan perubahan fundamental. Secara kinerja, kedua grup tersebut masih solid, sehingga koreksi harga saham justru membuka peluang valuasi yang lebih menarik.
Berbeda dengan INRU, Wafi menilai ketidakpastian masih tinggi pascapencabutan izin PBPH. Risiko gangguan pasokan bahan baku hingga potensi kenaikan biaya produksi dapat mengancam keberlanjutan operasional perseroan. Ke depan, kelangsungan bisnis INRU sangat bergantung pada keberhasilan upaya hukum atau pemulihan izin.
Dari sisi risiko, Wafi mengingatkan investor untuk mencermati ketidakpastian regulasi, terutama pada emiten berbasis sumber daya alam yang memiliki rekam jejak sengketa lahan atau pemanfaatan kawasan hutan. Emiten dengan profil tersebut dinilai lebih rentan menjadi target penertiban agresif pemerintah.
IHSG Melemah ke 9.085,3 di Pagi Ini (21/1), Top Losers LQ45: UNTR, ASII, ADMR
Terkait rekomendasi, Kisi Sekuritas memberikan target harga Rp30.000 per saham untuk UNTR dan Rp7.800 per saham untuk ASII. Sementara untuk INRU, Wafi menyarankan investor bersikap wait and see hingga terdapat kejelasan terkait status izin dan keberlanjutan operasional perseroan.
Hingga sesi II perdagangan Rabu (21/1/2026) pukul 14.09 WIB, tekanan terhadap saham UNTR dan ASII masih berlanjut. Saham ASII tercatat turun 9,97% ke level Rp6.550, sementara saham UNTR melemah 14,93% ke Rp27.200. Adapun saham INRU masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).