Kemnaker: Bakal ada 3,8 juta pekerjaan hijau tercipta pada 2026

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memproyeksikan sebanyak 3,8 juta pekerjaan hijau (green jobs) akan tercipta pada 2026. Angka ini merupakan bagian dari 52,79 juta pekerjaan yang berpotensi menjadi hijau seiring transformasi menuju ekonomi berkelanjutan.

Kepala Pusat Perencanaan Ketenagakerjaan Kemnaker, Mohammad Mustafa Sarinanto, mengatakan Indonesia harus bersiap menghadapi perubahan besar dalam lanskap ketenagakerjaan global yang kini mengarah pada ekonomi hijau.

“Kita adalah negara besar di kawasan Asia Tenggara. Salah satu aspek yang perlu diantisipasi adalah pekerjaan hijau. Di atasnya ada payung besar, yakni ekonomi hijau, yang akan banyak mengubah situasi dunia,” ujarnya dalam acara Diseminasi Hasil Riset: “Kesiapan Pasar Tenaga Kerja dalam Pengembangan Green Jobs di Sektor Energi Terbarukan“ pada Rabu (29/4).

Ia mengatakan, tren global menunjukkan isu lingkungan dan ekologi masih menjadi prioritas utama di negara-negara maju, termasuk dalam riset dan pengembangan. Hal ini membuat sektor pekerjaan hijau menjadi perhatian strategis.

Mustafa juga menyoroti pentingnya peta jalan pekerjaan hijau yang telah disusun pemerintah sebagai pijakan dalam mendorong transisi tersebut. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Dari total sekitar 155,27 juta tenaga kerja di Indonesia saat ini, sekitar 42% berada di sektor formal dan 58% di sektor informal. Transisi menuju pekerjaan hijau akan lebih terlihat di sektor formal.

Transformasi Pekerjaan Konvensional Jadi Pekerjaan Hijau

Meski begitu ia menegaskan transformasi ini tidak serta-merta menghilangkan pekerjaan, melainkan mengubah bentuknya. Sejumlah pekerjaan konvensional akan beralih ke peran baru yang lebih ramah lingkungan dan berbasis teknologi.

Di sektor otomotif, misalnya, mekanik konvensional akan bertransformasi menjadi mekanik kendaraan bermotor dan baterai kendaraan listrik (EV), dengan potensi tambahan sekitar 692.591 pekerja. Di sektor pertanian, pekerja tradisional akan beralih menjadi manajer produksi pertanian presisi dengan tambahan sekitar 388.940 tenaga kerja.

Sementara itu, di sektor pengelolaan limbah, pekerjaan penyortiran manual berkembang menjadi operator mesin pengolahan plastik (PET) dengan potensi sekitar 38.978 pekerja.

“Transisi ini tidak otomatis menghancurkan lapangan kerja, melainkan menuntut pembaruan keterampilan dasar secara masif,” kata Mustafa. 

Ia menambahkan, perubahan ini juga dipicu oleh pergeseran industri global, termasuk menurunnya daya saing sektor padat karya tradisional. Karena itu, penguatan keterampilan dan adaptasi teknologi menjadi kunci agar tenaga kerja Indonesia dapat memanfaatkan peluang dari ekonomi hijau.