Kenaikan BI rate bikin emiten lebih selektif ekspansi dan tambah utang

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan tetap aktif mencari pinjaman perbankan untuk kebutuhan ekspansi, refinancing utang, hingga modal kerja di tengah kebijakan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menuju level 5,25%, kendati lebih selektif dalam ekspansi.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya memperkirakan meski biaya dana meningkat, aktivitas pembiayaan korporasi masih tetap berjalan. Kondisi tersebut didorong oleh permintaan domestik yang masih relatif resilien serta kebutuhan perusahaan menjaga pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian global. 

Selain itu, lanjutnya, volatilitas pasar modal membuat alternatif pendanaan murah menjadi semakin terbatas sehingga kredit perbankan masih menjadi pilihan utama bagi banyak perusahaan.

: Anomali kala BI Rate Naik Tapi Emiten Tetap Berburu Pinjaman Jumbo

Beberapa sektor bahkan diperkirakan masih cukup agresif melakukan ekspansi, terutama sektor perbankan, energi, infrastruktur, dan komoditas yang dinilai masih memiliki prospek bisnis positif dalam jangka menengah. Namun demikian, Andrey menyebut emiten akan mulai lebih selektif dalam menambah utang baru.

Menurutnya fokus para emiten ke depan bergeser menuju upaya menjaga kualitas neraca keuangan dan stabilitas arus kas.

: : BI Rate Naik, Amar Bank Belum Agresif Sesuaikan Suku Bunga

“Ke depan, kami memperkirakan emiten akan lebih selektif dalam menambah utang dan cenderung fokus menjaga kualitas neraca serta arus kas,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Strategi yang kemungkinan ditempuh, sebutnya, antara lain memperbesar porsi pendanaan internal, melakukan efisiensi operasional, refinancing dengan tenor lebih panjang, hingga melakukan diversifikasi sumber pendanaan melalui penerbitan obligasi maupun rights issue apabila kondisi pasar mendukung.

: : Emiten Properti ASRI, MTLA Cs Cermati Efek BI Rate terhadap Bunga KPR

Selain itu, perusahaan juga diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi dan cenderung menunda proyek-proyek yang dianggap belum prioritas.

Pasalnya, tak dapat dipungkiri bahwa  BI Rate dinilai berpotensi meningkatkan beban bunga sekaligus menekan profitabilitas perusahaan, khususnya emiten dengan tingkat leverage tinggi, arus kas yang belum stabil, serta kebutuhan pendanaan yang besar.

Sejumlah sektor dinilai paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga, di antaranya properti, konstruksi, consumer discretionary, hingga emiten yang masih berada dalam fase ekspansi agresif. Sebaliknya, perusahaan dengan neraca keuangan kuat, likuiditas besar, dan dominasi pinjaman berbunga tetap (fixed rate) diperkirakan lebih mampu bertahan di tengah era suku bunga tinggi.

Senada, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando menilai kenaikan BI Rate berpotensi memperbesar tekanan operasional perusahaan karena cost of funds ikut meningkat.

Dalam kondisi tersebut, dia menilai emiten belum akan langsung mengurangi pinjaman bank secara drastis karena kebutuhan pembiayaan untuk menjaga aktivitas bisnis dan investasi masih tetap berjalan.

Emiten, lanjutnya, cenderung mengubah strategi ekspansi perusahaan dengan lebih selektif dalam mengambil pinjaman baru dan hanya fokus pada proyek yang memiliki tingkat pengembalian tinggi serta visibilitas arus kas yang kuat.

“Pertumbuhan pinjaman kemungkinan tidak akan seagresif periode suku bunga rendah seperti tahun lalu,” katanya.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto menjelaskan dampak kenaikan BI Rate tidak dirasakan secara merata di seluruh sektor.

Rully menilai sektor properti, otomotif, teknologi, multifinance, hingga emiten consumer berbasis bahan baku impor menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan bunga.

“Di sektor-sektor itu, kenaikan bunga tidak hanya menekan sisi pembiayaan, tetapi juga bisa memperlambat permintaan akhir. Jadi laba terjepit dari dua arah sekaligus, yakni bunga naik dan penjualan melambat,” jelasnya.

Meski tekanan meningkat, pertumbuhan kredit perbankan sejauh ini masih menunjukkan ketahanan. Rully menyebut kredit perbankan pada April 2026 masih tumbuh sekitar 9,98% secara tahunan (year-on-year/yoy), menandakan dunia usaha masih membutuhkan pembiayaan dari sektor perbankan.

Menurutnya, fokus emiten ke depan bukan semata mengurangi utang, melainkan melakukan efisiensi struktur pendanaan agar tetap sehat di tengah suku bunga tinggi.

“Perusahaan yang prudent kemungkinan akan memperpanjang tenor, mengunci bunga tetap bila memungkinkan, menurunkan porsi utang valas yang tidak terlindung nilai, dan menunda capex yang tidak mendesak agar arus kas tetap sehat,” terangnya.