
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten-emiten batubara terancam tertekan seiring dengan tren ekspor komoditas tersebut yang melemah secara nasional. Sentimen negatif terkait penjualan ekspor juga makin bertambah akibat ketidakpastian regulasi dari pemerintah.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batubara nasional mengalami penurunan sebesar 7,27% year on year (yoy) menjadi US$ 7,57 miliar sepanjang Januari—April 2026. Penurunan ini sejalan dengan volume ekspor batubara yang menyusut 6,70% yoy menjadi 114,54 juta ton pada Januari—April 2026.
Di tengah tren penurunan ekspor batubara nasional, beredar kabar bahwa sejumlah importir dari China menunda pembelian batubara dari Indonesia pada bulan Juni 2026.
Berdasarkan laporan dari China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD), langkah penundaan tersebut menyusul rencana pemerintah Indonesia yang hendak memusatkan ekspor sumber daya alam (SDA) melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Masih Banyak Tantangan Domestik, Kinerja IHSG Tertinggal dari Bursa Lain
Saham-saham batubara sendiri cukup tertekan akibat berbagai sentimen tersebut. Hal ini tercermin dari kinerja IDX Energy yang telah terkoreksi 37,80% year to date (ytd) ke level 2.770,107 hingga Kamis (3/6).
Padahal, di luar masalah tersebut, harga batubara global berada dalam tren positif. Hingga Kamis (4/6) pukul 18.45 WIB, harga batubara di pasar global berada di level US$ 146,25 per ton atau menguat 7,89% dalam sebulan terakhir.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima mengatakan, pelemahan ekspor batubara jelas akan berdampak langsung terhadap laporan keuangan emiten batubara dalam waktu dekat. Apalagi secara historis, penurunan ekspor sebenarnya sudah terjadi sejak 2023 yang tercermin dari tren berkurangnya laba bersih pada mayoritas emiten produsen batubara.
Kondisi ini jelas menambah tekanan bagi sektor batubara setelah munculnya berbagai ketidakpastian kebijakan. Salah satunya adalah rencana tata kelola ekspor batubara satu pintu yang sampai sekarang regulasinya belum jelas, namun sudah bisa memengaruhi permintaan dari pasar internasional.
“Ruang pertumbuhan volume dan pendapatan emiten batubara menjadi lebih terbatas dalam beberapa tahun terakhir,” kata dia, Kamis (3/6).
Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi juga sepakat, tren penurunan ekspor batubara akan terefleksi di kinerja keuangan kuartal II-2026 emiten di sektor tersebut, terutama bagi emiten dengan porsi ekspor tinggi.
Dia juga menyebut, penundaan pembelian batubara dari China akibat implementasi ekspor terpusat melalui DSI menjadi sentimen negatif baru bagi sektor batubara. Isu tersebut menjadi pertanda bahwa kebijakan sentralisasi ekspor SDA berpotensi memperlambat proses transaksi, mendorong kenaikan harga, serta memperketat pasokan dari sisi pembeli (buyer).
“Ini bukan cuma isu permintaan, melainkan isu process friction yang muncul dari ketidakjelasan mekanisme ekspor melalui DSI,” tutur dia, Kamis (3/6).
Alfamart (AMRT) Bukukan Laba Rp 3,41 Triliun di 2025, Manajemen Ungkap Pendorongnya
Dalam jangka pendek, prospek kinerja emiten-emiten produsen batubara jelas cukup menantang, meski dalam jangka menengah tetap konstruktif. Penurunan ekspor, terutama ke China, lebih disebabkan oleh kondisi kelebihan pasokan yang terjadi di Negeri Tirai Bambu. Kondisi ini sebenarnya bukan tren permanen, karena pada dasarnya China tetap membutuhkan impor batubara kalori tinggi yang tidak bisa diproduksi sendiri.
Katalis positif yang bisa mengangkat kinerja emiten batubara, terutama ketika memasuki semester II-2026, adalah efek pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi yang bisa mendisiplinkan pasokan batubara, kemudian diversifikasi pasar ekspor ke India dan Asia Tenggara, serta potensi kenaikan Harga Batubara Acuan (HBA) jika pasokan terkontraksi.
“Namun, ketidakpastian ekspor lewat DSI dan isu terkait harga akan menjadi sentimen yang menekan kinerja emiten selama semester II-2026,” imbuh Wafi.
Raden menilai, prospek sektor batubara belum sepenuhnya negatif karena fundamental permintaan domestik masih kuat. Hal ini dipicu oleh kebutuhan batubara untuk program hiliriasai yang terus meningkat.
Ditambah lagi, beberapa emiten batubara memiliki keunggulan berupa biaya produksi rendah, diversifikasi usaha, dan neraca keuangan solid, sehingga mereka konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar kepada para pemegang sahamnya.
Untuk ke depannya, Raden berharap emiten-emiten batubara bisa tetap menjaga efisiensi operasional dan memperluas pasar ekspor di luar China. Upaya meningkatkan porsi penjualan batubara ke pasar domestik juga bisa dilakukan oleh emiten, namun harus tetap ada langkah untuk diversifikasi bisnis ke sektor energi atau mineral strategis lainnya.
“Pasar domestik memang dapat membantu menyerap sebagian penurunan ekspor, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan besarnya permintaan dari pasar global,” jelas dia.
Berdasarkan capaian pada kuartal I-2026, Raden menyebut saham-saham seperti PTBA, BUMI, HRUM, dan INDY dapat menjadi pilihan utama bagi investor di sektor batubara hingga akhir tahun nanti.
Saham PTBA ditargetkan dapat menyentuh level Rp 3.000 per saham dengan stoploss di level Rp 2.550 per saham. Saham BUMI diproyeksikan menembus level Rp 200 per saham dengan stoploss di level Rp 140 per saham. Saham HRUM memiliki target harga di level Rp 950 per saham dengan stoploss di level Rp 680 per saham. Adapun saham INDY diprediksi dapat mencapai level Rp 2.750 per saham dengan stoploss di level Rp 1.800 per saham.
Di lain pihak, Wafi menyebut saham PTBA, BSSR, dan AADI dapat dipertimbangkan oleh investor lantaran menjadi unggulan di sektor batubara. PTBA memiliki nilai tambah lantaran porsi penjualan domestiknya mencapai lebih dari 30%, posisi emiten BUMN yang defensif, dan memiliki yield dividen menarik. Harga wajar saham PTBA ada di level Rp 3.200 per saham dengan potensi upside 12,7%.
BSSR memiliki keunggulan berupa price to book value (PBV) yang murah, arus kas kuat, dan eksposur terhadap isu kebijakan ekspor satu pintu yang lebih rendah. Hanya saja, Wafi tidak memiliki proyeksi harga saham BSSR.
Di sisi lain, AADI diunggulkan karena memiliki pendapatan solid meski rentan terhadap fluktuasi ekspor batubara ke China serta dividend payout ratio (DPR) yang tinggi sebagai buffer. Harga wajar saham AADI ada di level Rp 13.000 per saham dengan potensi upside 40,2%.
Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Tebar Dividen Rp 1,7 Triliun, Setara Rp 41,5 per Saham