Konflik AS-Iran bikin saham migas MEDC, RAJA, ENRG panen cuan saat IHSG loyo

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin panas menyulut gerak saham-saham emiten minyak dan gas (migas). Sebaliknya, risiko geopolitik yang meningkat membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi.

Berdasarkan data pasar hingga sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026), IHSG melemah 1,60% atau 131,77 poin ke 8.103. Sebanyak 682 saham bergerak di zona merah, dan hanya 113 saham yang masih menguat serta 163 saham belum berubah.

Ketika semua indeks sektoral terkoreksi, IDXENERGY menjadi satu-satunya yang menguat, yakni 1,60% atau 66,78 poin ke 4.247. Saham konstituen emiten subsektor migas kompak menguat. Misalnya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 5,80% ke Rp1.825. Level harga MEDC mencerminkan kenaikan 35,69% secara year to date (YtD).

Berikutnya, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 14,20% ke Rp2.010, atau menguat 25,62% secara YtD. Selanjutnya, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) naik 7,65% ke Rp915, level harga yang mencerminkan lompatan 83,73% secara YtD.

Selanjutnya, saham emiten terafiliasi Happy Hapsoro PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 5,56% ke Rp4.750. Penguatan sampai sesi I perdagangan ini menopang laju RAJA yang sejak awal tahun terkoreksi 22,13% YtD. 

: Nasib Harga Minyak Mentah dan BBM di Tengah Seruan Iran Tutup Selat Hormuz

Sementara itu, saham emiten migas yang bermain di sektor hilir dan perdagangan BBM, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) uuga menguat 2,70% ke Rp1.330. Secara YtD, harga saham AKRA telah menguat 5,56%.

Berikutnya, untuk saham emiten jasa angkutan perkapalan komoditas migas, ada saham PT Longindo Samudramakmur Tbk. (LEAD) yang menguat 6,63% ke Rp117, atau 14,94% secara YtD. Kemudian, ada saham PT Wintermar Offshore Marine Tbk. (WINS) yang menguat 1,82% ke Rp560, atau 4,67% sejak awal tahun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menegaskan ketegangan di Timur Tengah yang sedang memuncak, ditambah kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang terus berubah, hingga faktor lembaga pemeringkat kredit yang memperingatkan tekanan fiskal Indonesia menjadi kombinasi isu yang membuat kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik.

“Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20–25% distribusi minyak dunia, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan,” ujarnya dalam riset mingguan, Senin (2/3/2026).

Jika risiko gangguan pasokan berlanjut, ujarnya, harga minyak mentah berpotensi meningkat dan akan menguntungkan emiten batu bara dan migas dari sisi harga jual rata-rata (ASP).

“Namun di sisi lain dapat menekan sektor yang padat energi seperti aviasi, dan industri manufaktur berbasis impor bahan bakar. Kenaikan premi risiko juga biasanya mendorong penguatan harga emas, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi diuntungkan di tengah ketidakpastian global,” tandasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.