
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Penjualan mobil nasional mengalami penurunan pada tahun 2025. Faktor-faktor seperti daya beli yang menurun hingga kehadiran mobil listrik (EV) dari China menjadi penentu kinerja emiten sektor otomotif pada tahun 2026.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional dari pabrik ke dealer (wholesale) mencapai 803.687 unit, turun 7,2% dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 865.723 unit.
Sementara itu, penjualan dari dealer ke konsumen akhir (retail) sepanjang 2025 mencapai 833.692 unit, turun 6,3% dari 889.680 unit pada tahun sebelumnya.
Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas, mencatat bahwa pada Februari 2026 volume penjualan grosir mobil four-wheel drive (4W) meningkat 22% secara bulanan.
Sehingga, volume penjualan dua bulan pertama tahun ini mencapai 147.600 unit, naik 10% secara tahunan (year on year/yoy), atau mencakup 17% dari asumsi Gaikindo.
Rekomendasi Saham Otomotif: AUTO, DRMA, ASII, Mana yang Menarik Dikoleksi?
“Peningkatan pada Februari 2026 terutama didorong oleh merek-merek Jepang,” ujar Aurelia dalam risetnya pada 11 Maret 2026.
Beberapa merek mencatat pertumbuhan signifikan, antara lain Suzuki yang mencapai 9.659 unit, naik 247% secara bulanan, kemungkinan mencerminkan pengiriman yang tertunda dari bulan-bulan sebelumnya.
Volume Honda meningkat menjadi 5.385 unit, naik 34% secara bulanan, didukung oleh penawaran agresif selama Indonesia International Motor Show (IIMS). Sementara itu, Toyota dan Daihatsu juga mencatat kenaikan masing-masing 12% dan 7% secara bulanan, meski masih di bawah pertumbuhan pasar.
Di sisi mobil two-wheel drive (2W), volume penjualan grosir mencapai 587.000 unit pada Februari 2026, naik 2% secara bulanan. Akumulasi penjualan dua bulan pertama tahun 2026 mencapai 1,2 juta unit, naik 2% secara tahunan.
Akhmad Nurcahyadi, Analis KB Valbury Sekuritas, memperkirakan penjualan mobil 4W pada kuartal I–2026 akan sejalan dengan performa dua bulan pertama, salah satunya terdorong oleh momentum Idulfitri. Namun, untuk kendaraan 2W, pertumbuhan diprediksi stagnan karena kekhawatiran kelanjutan pertumbuhan sektor.
“Secara keseluruhan, pertumbuhan utama sektor tetap didorong oleh imbal hasil pinjaman mobil yang lebih rendah, yang akan dipicu oleh transmisi penurunan suku bunga acuan yang lebih nyata,” ucap Akhmad dalam risetnya pada 26 Maret 2026.
IHSG April Ditopang Dividen dan Aksi Korporasi, Volatilitas Masih Mengintai
Meski kehilangan sebagian pangsa pasar kepada merek non-Astra pada awal 2026, Akhmad menilai Astra tetap menjadi pemimpin merek individual. Pergeseran ini menunjukkan “peringatan” terkait penetrasi electric vehicle (EV) China yang agresif dan varian ICE baru.
“Kami tidak terkejut melihat dinamika pasar yang berkelanjutan dari tahun lalu hingga Februari 2026. Penetrasi yang kuat dari battery electric vehicle (BEV) China dan penawaran mobil internal combustion engine (ICE) yang beragam dari Jepang dan China adalah disruptor (pengganggu) utama,” terang Akhmad.
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, memperkirakan prospek sektor otomotif masih menantang. Meski demikian, ia melihat peluang perbaikan bertahap pada 2026 setelah penjualan yang melemah di tahun sebelumnya.
“Permintaan memang belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat masih selektif, terutama untuk pembelian berbasis kredit,” ucap Miftahul kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, menyoroti risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi menurunkan permintaan untuk mobil ICE.
Daya beli dan suku bunga juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja emiten sektor otomotif. Jika inflasi diperkirakan naik, Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi, menjadi headwind bagi industri.
“Tahun 2026 kita expect penjualan mobil akan sedikit lebih membaik dengan low to mid single digit growth,” ujar Harry Su kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Miftahul juga melihat tantangan dari suku bunga yang relatif tinggi, ditambah daya beli yang belum membaik. Pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan listrik membuat pemain konvensional tertekan.
Kinerja CPO Bisa Lanjut Positif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
Di sisi sentimen, Miftahul menilai katalis dari suku bunga dan permintaan kredit menjadi perhatian utama. Stabilitas nilai tukar dan insentif pemerintah untuk kendaraan listrik (EV) juga perlu diperhatikan ke depannya.
“Terkait suku bunga, dampaknya cukup besar karena mayoritas pembelian mobil di Indonesia berbasis pembiayaan,” kata Miftahul.
Untuk rekomendasi saham, Miftahul merekomendasikan wait and see pada PT Astra International Tbk (ASII). Harry Su menyarankan Buy saham PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dengan target harga Rp 1.000 per saham.
Akhmad merekomendasikan Buy saham ASII dengan target harga Rp 7.050 per saham, sementara Aurelia memberi peringkat netral untuk sektor otomotif.