Pertamina Geothermal Energy (PGEO) bersiap memulai proyek PLTP Lumut Balai Unit 3

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menegaskan langkahnya dalam mengoptimalkan potensi panas bumi nasional. PGEO pun menggelar kick-off meeting untuk meresmikan ekskusi proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW).

Proyek yang berlokasi di WKP Lumut Balai, Sumatera Selatan ini ditargetkan beroperasi secara penuh atau commissioning operation date (COD) pada 2030.

Pertemuan ini menjadi titik awal pengembangan proyek melalui penguatan koordinasi yang melibatkan berbagai fungsi terkait di PGEO.

Seiring dengan itu, PGEO juga membangun sinergi yang erat dengan para pemangku kepentingan eksternal, mulai dari pemerintah daerah, kontraktor, masyarakat sekitar, PLN, hingga instansi pemerintah terkait. Kolaborasi lintas disiplin dan fungsi ini diarahkan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan proyek berjalan lancar dan selaras untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Gelar Konser Hybrid Brian McKnight, Folago (IRSX) Bidik Pendapatan Miliaran Rupiah

Direktur Operasi Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani mengatakan, kick-off meeting ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan seluruh aspek proyek, baik dari sisi teknis, perizinan, pendanaan, maupun pengelolaan risiko.

“Pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia kini memasuki fase yang semakin krusial, sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam RUPTL periode 2025-2034,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Rabu (14/1).

Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 ditetapkan sebagai bagian dari arah strategis pemerintah. Selain itu, proyek ini juga tercatat sebagai proyek strategis dalam Blue Book 2025-2029 Kementerian PPN/Bappenas.

Melalui pengembangan ini, PGEO menegaskan komitmennya

dalam memperkuat kapasitas panas bumi nasional secara berkelanjutan, sekaligus menjawab kebutuhan listrik di Sumatera Selatan yang terus meningkat.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari proyek PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang telah beroperasi sejak bulan Juni 2025 lalu. Capaian tersebut memperkuat langkah PGEO dalam mendekati target kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri sebesar 1 gigawatt (GW) dalam 2 – 3 tahun ke depan dan 1,8 GW pada 2033.

Seiring dengan arah pengembangan tersebut, PGEO telah mengidentifikasi potensi panas bumi hingga 3 GW dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola secara mandiri sebagai fondasi pengembangan jangka panjang.

Selain berkontribusi terhadap pasokan listrik, industri panas bumi juga memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Sepanjang 2010 – 2024, sektor ini mencatatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp 21,43 triliun sekaligus memberikan manfaat langsung bagi daerah penghasil melalui Dana Bagi Hasil (DBH) yang mencapai Rp 10,82 triliun pada periode 2019-2024.

Kontribusi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, melainkan juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui efek berganda (multiplier effect).

Asal tahu saja, saat ini PGEO mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW yang tersebar di enam wilayah operasi, serta tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lainnya, antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 110 MW, serta beberapa proyek co-generation bekerja sama dengan PLN Indonesia Power dengan total kapasitas mencapai 230 MW.

Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,07% ke Rp 16.865 per Dolar AS pada Rabu (14/1/2026)