Sentimen Domestik Lemah, Rupiah Turun Tipis ke Level Rp 17.130, IHSG Menguat ke 7.598

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada Selasa (14/4/2026) pagi melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 17.130 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.105 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan sentimen domestik yang masih sangat lemah.

“Pelemahan ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah, di antaranya kekhawatiran akan defisit anggaran, downgrade outlook pertumbuhan ekonomi, cadev (cadangan devisa) yang terus menurun, serta surplus perdagangan yang semakin kecil,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Per Maret 2026, defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tercatat melonjak sekitar Rp 240,1 triliun atau naik 140 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS, menurun dibandingkan posisi akhir Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS.

Adapun neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus 1,27 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor sebesar 22,17 miliar dolar AS dan impor 20,89 miliar dolar AS. Surplus perdagangan meningkat menjadi 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026 dari 0,95 miliar dolar AS, ditopang oleh penurunan impor migas.

Terkait outlook pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia memproyeksikan berada di level 4,7 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen. Kendati terdapat sejumlah sentimen negatif, rupiah dinilai berpotensi menguat di tengah sentimen pasar global yang pulih dan harga minyak yang turun ke kisaran di bawah 100 dolar AS per barel.

“Investor menaruh harapan pada perundingan damai (AS-Iran) yang diharapkan masih berlanjut,” ungkap Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp 17.050–Rp 17.150 per dolar AS.

IHSG Menguat

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa pagi bergerak menguat mengikuti bursa kawasan Asia seiring ekspektasi pelaku pasar akan berlanjutnya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. IHSG dibuka menguat 98,61 poin atau 1,31 persen ke posisi 7.598,80. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,09 poin atau 1,35 persen ke posisi 756,45.

“Kiwoom Research menyarankan pelaku pasar untuk menunggu IHSG break out 7.530 secara solid sebelum memutuskan untuk menambah posisi beli,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Dari mancanegara, pelaku pasar berekspektasi bahwa negosiasi antara AS dengan Iran masih akan berlanjut, meskipun perundingan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu. Liza mengatakan sentimen global saat ini berada pada fase risk-on yang rapuh, di mana pasar tidak membutuhkan resolusi penuh konflik untuk bergerak naik, cukup perbaikan marginal.

Sementara itu, risiko terbaru muncul ketika AS resmi memulai blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran (namun tetap mengizinkan jalur transit netral di Selat Hormuz) setelah negosiasi selama 21 jam di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

Iran menolak tuntutan penghentian program nuklir, sementara AS mempertimbangkan opsi serangan terbatas. Iran merespons dengan ancaman balasan dan menyebut blokade sebagai tindakan perang, serta menegaskan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk Persia yang akan aman.

“Pelaku pasar menilai langkah ini lebih sebagai strategi negosiasi dibandingkan eskalasi penuh, sehingga risk appetite masih bertahan,” ujar Liza.

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. – (Republika/Thoudy Badai)

Adapun harga minyak mentah global saat ini, di antaranya minyak jenis Brent berada di level 97,73 dolar AS per barel, sedangkan minyak jenis WTI berada di level 96,86 dolar AS per barel.

Secara fundamental, pasar minyak menghadapi tekanan dari gangguan produksi di kawasan OPEC serta backlog lebih dari 800 tanker yang menciptakan risiko tight supply berkepanjangan. Tanpa deeskalasi, harga minyak masih berpotensi naik ke kisaran 120–130 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan, inflasi 3,5 persen year-on-year (yoy), dan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,5 persen pada kuartal I 2026.

Namun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah menunjukkan pasar lebih fokus pada tekanan eksternal seperti yield global tinggi, dolar AS yang kuat, serta capital outflow.

Pemerintah menyoroti risiko fiskal dari kenaikan harga minyak, dengan potensi tambahan subsidi hingga Rp 100 triliun apabila rupiah bertahan di level 16.800–17.000 per dolar AS, yang menegaskan stabilitas saat ini lebih “managed” daripada organik.

Dalam konteks ini, pemerintah mulai mendorong diplomasi energi, termasuk kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Rusia yang beraudiensi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat kerja sama pasokan minyak jangka panjang.

Sementara itu, Kementerian Keuangan membuka akses pembiayaan daerah melalui pinjaman bank dan nonbank dengan syarat ketat (audit, persetujuan DPRD, tanpa tunggakan, batas utang), proses hingga 15 hari kerja, serta mekanisme pemotongan transfer jika gagal bayar sebagai upaya menjaga momentum fiskal di tengah tekanan likuiditas.

Pada perdagangan Senin (13/4), bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,35 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,17 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,26 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,29 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Senin (13/4), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,63 persen ke 48.218,25, indeks S&P 500 menguat 1,02 persen ke 6.886,24, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,06 persen ke 25.282,72.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 1.512,73 poin atau 2,68 persen ke 58.015,50, indeks Shanghai menguat 16,95 poin atau 0,42 persen ke 4.005,51, indeks Hang Seng melemah 247,65 poin atau 0,97 persen ke 25.908,50, dan indeks Strait Times menguat 18,11 poin atau 0,36 persen ke 5.002,28.