Pasar bergejolak, saatnya akumulasi bertahap saham big caps BBCA hingga ADRO

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Analis menjagokan sejumlah saham big caps mulai dari sektor perbankan hingga tambang untuk dicermati saat kondisi pasar masih bergejolak.

Adapun, arus dana keluar asing atau foreign capital outflow dari pasar saham makin deras. Pada perdagangan Senin (18/5), tercatat net sell asing sebesar Rp463,74 miliar atau secara akumulasi sepanjang tahun menjadi sebesar Rp41,28 triliun.

Sementara itu, jumlah single investor identification (SID) pasar modal sampai 13 Mei 2026 yang mencapai 27 juta SID, di mana 9,7 juta di antaranya merupakan investor saham, diharapkan mampu menahan efek net sell asing.

Tercatat nilai rata-rata transaksi harian (RNTH) telah mencapai Rp27,46 triliun di akhir kuartal I/2026 di mana lebih dari 60% dikontribusikan oleh investor domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan bahwa secara teknis, ketika jumlah SID domestik melesat dan RNTH tumbuh tinggi di tengah net sell asing yang masif serta penurunan IHSG, mengindikasikan adanya akumulasi investor domestik yang menjadi penyerap utama dari aksi jual atau distribusi dana asing.

“Aksi jual asing ini dipicu oleh faktor makro ekonomi eksternal, terutama pelemahan rupiah yang menguji Rp17.597 dan kebijakan suku bunga global yang ketat (higher for longer), sehingga asing melakukan rebalancing portofolio keluar dari emerging market. Di sisi lain, partisipasi lokal diapresiasi karena berhasil menjadi bantalan agar IHSG tidak mengalami kejatuhan yang jauh lebih dalam (hard landing),” ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).

Dalam kondisi ini, David menyarankan investor domestik melakukan tiga strategi investasi. Pertama adalah follow the money. Dia menyarankan agar investor tidak “menangkap pisau jatuh” pada saham yang sedang didistribusikan masif oleh asing, melainkan menunggu hingga tekanan jual mereda dan harga berkonsolidasi.

Kedua adalah mengamankan likuiditas dengan menjaga porsi kas minimal 20–30% untuk bersiap melakukan buy on weakness saat pasar mulai berbalik arah atau rebound.

Ketiga adalah strategi fokus pada sektor defensif. David menyarankan agar investor mengalokasikan dana pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan daya tahan tinggi terhadap inflasi serta fluktuasi kurs.

Sementara untuk rekomendasi saham, IPOT menyarankan investor memilih saham-saham dengan fundamental yang kokoh. Dari sektor perbankan, David merekomendasikan BBCA dan BBRI yang memiliki permodalan kuat dan margin (NIM) yang sehat. Kedua nama ini menurutnya menjadi saham pertama yang diburu asing saat pasar rebound.

Selanjutnya dari sektor consumer goods David merekomendasikan UNVR yang bersifat sangat defensif dengan arus kas stabil karena produknya merupakan kebutuhan pokok harian masyarakat.

Terakhir, dari sektor komoditas IPOT merekomendasikan ADRO yang menurut David diuntungkan oleh pendapatan berdenominasi dolar AS ketika rupiah melemah. Selain itu, menurutnya ADRO memiliki efisiensi operasional yang sangat tinggi.

Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menyarankan investor ritel domestik untuk lebih waspada dan menerapkan strategi wait and see. Investor sebaiknya mencermati momentum pergerakan pasar sembari menunggu kejelasan arah dari berbagai sentimen yang ada. 

“Sebagai rekomendasi, kami menilai saham-saham big banks saat ini cukup menarik untuk diakumulasi secara bertahap,” ujar Adrian.

Berdasarkan data-data seperti peningkatan jumlah SID, outflow asing yang membesar dan jatuhnya IHSG, Adrian mengonfirmasi adanya fenomena exit liquidity oleh investor asing. Menurutnya, hal ini juga tercermin dari sentimen pasar pada akhir 2025, di mana euforia yang tinggi secara signifikan mendorong peningkatan partisipasi investor ritel. 

“Adapun, outflow asing ini utamanya dipicu oleh depresiasi nilai tukar mata uang yang cukup tajam. Selain itu, sentimen pasar kian terbebani oleh isu rebalancing indeks MSCI, ketidakpastian regulasi, serta dinamika makroekonomi di tingkat global maupun domestik,” pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.