Proyeksi IHSG 2026 di rentang 9.000–10.500, analis ungkap penentu arah indeks

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Proyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 menunjukkan jurang pandangan yang lebar di kalangan analis. Di tengah volatilitas pasar pada awal tahun, sebagian analis tetap optimistis terhadap potensi reli indeks, sementara lainnya mulai menyiapkan skenario risiko jika sentimen global berbalik arah.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjadi salah satu institusi yang masih mempertahankan target agresif. Head of Research dan Chief Economist Rully Wisnubroto menilai IHSG masih memiliki ruang penguatan yang cukup tinggi hingga akhir tahun, ditopang fundamental domestik yang dinilai solid serta potensi akselerasi belanja dan investasi.

Menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan ekonomi berbasis penguatan fondasi domestik dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 dapat menjadi katalis lanjutan bagi sektor industri.

: Jalan IHSG Menuju 9.000 Masih Terbuka, Ini Katalis dan Tantangannya

“Perjalanan masih panjang, ini baru Februari. Jadi belum melihat revisi. Dalam skenario positif, masih di level 10.500. Kalau skenario paling pesmistis di level 8.000-an,” ujarnya dikutip, Rabu (18/2/2026).

Meski demikian, sejumlah analis lain mulai menyoroti faktor risiko eksternal, terutama potensi perubahan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Risiko ini dinilai dapat memicu arus keluar dana asing jika bobot saham domestik di indeks global dipangkas.

Pandangan lebih moderat disampaikan oleh BRI Danareksa Sekuritas. Head of Equity Research Erindra Krisnawa mengatakan pihaknya masih mempertahankan target IHSG 2026 di level 9.440, dengan asumsi fundamental domestik tetap terjaga.

“Namun terdapat risiko koreksi IHSG ke kisaran 8.900–9.175 apabila flow premium pada saham-saham kelompok konglomerasi mulai berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa skenario terburuk bagi pasar adalah jika MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market. Namun skenario tersebut dinilai masih ekstrem dan belum menjadi asumsi utama.

: : IHSG Dibuka Menguat 0,54% Pagi Ini, Saham BUMI, PTRO, hingga BBCA Naik ke Zona Hijau

MSCI sendiri masih memberi tenggat hingga Mei untuk menilai progres reformasi struktur dan transparansi pasar. Jika tidak memenuhi ekspektasi, Indonesia berpotensi mengalami pengurangan bobot di indeks global bahkan turun kategori menjadi frontier market—situasi yang dapat membatasi aliran dana investor institusional global.

Nada optimistis juga datang dari Sinarmas Sekuritas. Head of Retail Research Ike Widiawati melihat tren IHSG masih bullish dengan target moderat sekitar 9.000 dan potensi mencapai 9.600 pada skenario terbaik.

Menurut Ike, katalis domestik meliputi peningkatan alokasi investasi saham oleh dana pensiun dan asuransi, peluang pelonggaran suku bunga, serta potensi rebound saham blue chip berfundamental kuat.

Sementara itu, RHB Sekuritas mengambil pendekatan lebih hati-hati. Head of Research Analyst Andrey Wijaya menyebut pihaknya sedang meninjau ulang proyeksi IHSG seiring perkembangan terbaru data ekonomi dan dinamika pasar.

“Sebelumnya target IHSG kami berada di level 9.400 untuk 2026, dan saat ini sedang dalam proses review,” katanya.

Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan fase transisi pasar saham domestik: di satu sisi fundamental ekonomi masih menjadi bantalan optimisme, tetapi di sisi lain ketidakpastian global dan faktor struktural pasar tetap menjadi variabel penentu arah indeks hingga akhir tahun.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.