Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sukses mencairkan suasana diskusi publik Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Di tengah diskusi yang berlangsung dalam bahasa Inggris, Purbaya menyelipkan candaan singkat berbahasa Indonesia. Aksi spontan itu mengundang gelak tawa peserta, termasuk sang moderator yang ternyata memahami bahasa Indonesia.
Di balik humor tersebut, Purbaya menyampaikan pesan serius saat ditanya moderator seputar kondisi fiskal dan pasar keuangan domestik.
1. Kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah sangat kuat
Diskusi awal berlangsung formal. Moderator menyoroti kondisi fiskal, pasar keuangan, hingga kebijakan moneter. Purbaya menjawab dengan tenang dan terukur.
Ia menilai, pergerakan pasar modal yang berangsur-angsur pulih, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.
“Kalau melihat pasar modal sekarang, kondisinya mulai rebound. Artinya, sampai tingkat tertentu pasar menerima kondisi tersebut. Tapi yang terpenting adalah bagaimana ke depan,” ujar Purbaya.
Suasana berubah ketika Purbaya tiba-tiba berkelakar dalam bahasa Indonesia kepada penonton. Ia sempat menyindir moderator, mengira ucapannya tak dipahami.
Namun tawa langsung pecah. Moderator merespons dan mengaku mengerti bahasa Indonesia. Purbaya pun tersenyum, menyadari dirinya “kegep.”
2. Pemerintah tak akan intervensi Bank Indonesia
Usai momen ringan tersebut, diskusi kembali ke isu krusial: independensi Bank Indonesia. Moderator menanyakan potensi campur tangan pemerintah terhadap kebijakan bank sentral.
Purbaya menjawab tegas dan lugas.
“Apakah saya akan menggunakan Tommy Djiwandono sebagai boneka untuk mengendalikan bank sentral dari jauh atau tidak? Itu akan mudah dilihat oleh ekonom mana pun, komentator mana pun, atau pembuat kebijakan mana pun. Anda dapat melihatnya dengan mudah. Saya tidak akan melakukan itu,” beber Purbaya.
Menurutnya, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia tetap diperlukan. Namun, hal itu tidak berarti mengorbankan independensi bank sentral.
“Jadi ada komitmen bahwa Bank Indonesia akan tetap independen? Kami akan tetap independen,” ucapnya.
3. Membandingkan arah kebijakan saat terjadi krisis pada 2021
Purbaya juga sempat menyinggung pengalaman masa krisis 2021. Saat itu, muncul wacana ekstrem terkait menghapus bank sentral dan memberhentikan seluruh jajaran pejabat sentral saat itu.
Ia menegaskan, gagasan tersebut merupakan bentuk intervensi terhadap kebijakan moneter.
“Di masa lalu, selama krisis 2021, ada pemikiran untuk menghapus bank sentral dan memecat setiap bankir sentral pada saat itu dan menggantinya dengan yang baru. Itu adalah intervensi, tapi kebijakan tersebut tidak akan ditempuh,” katanya.
Ia menekankan, pemerintah memilih jalur yang sesuai dengan hukum dan tata kelola yang berlaku.
“Kali ini, tidak. Kami bermain sesuai aturan,” tegasnya.
Purbaya menambahkan, pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi fiskal dan moneter tanpa melanggar prinsip independensi Bank Indonesia, sejalan dengan praktik terbaik internasional.
Candaan singkat itu menutup sesi diskusi dengan nada ringan. Namun pesannya jelas: stabilitas ekonomi, kepercayaan pasar, koordinasi fiskal dan moneter, serta independensi bank sentral tetap menjadi prioritas utama pemerintah.