
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga kombinasi sentimen domestik yang memperburuk persepsi risiko investor asing.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan arus keluar dana asing saat ini banyak dipengaruhi oleh proses rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.
“Dalam rebalancing MSCI Mei 2026, banyak saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tanpa penambahan konstituen baru yang signifikan. Ini membuat dana pasif global otomatis mengurangi eksposur ke Indonesia,” jelas Hendra kepada Kontan, Senin (25/5/2026).
Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed, Begini Prospek Rupiah Selasa (26/5)
Ia menjelaskan, tekanan jual yang terjadi bersifat mekanis karena mengikuti komposisi indeks, bukan didasarkan pada fundamental emiten.
“Akibatnya tekanan jual menjadi sangat besar karena sifatnya bukan lagi berbasis valuasi atau fundamental, melainkan kewajiban mengikuti indeks global,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp52,4 triliun sejak awal tahun. Hal ini mencerminkan penurunan risk appetite terhadap pasar Indonesia.
Namun demikian, Hendra menilai tekanan pasar tidak hanya berasal dari faktor global. Sentimen domestik justru menjadi perhatian utama investor asing.
“Pasar melihat adanya ketidakpastian arah kebijakan pemerintah yang berubah terlalu cepat dan sulit diprediksi,” jelasnya.
Salah satu yang disorot adalah rencana kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu yang mengalami perubahan waktu implementasi. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan investor dalam mengukur risiko investasi.
Menurutnya, investor asing sangat sensitif terhadap kepastian regulasi, terutama karena mereka berinvestasi dalam jangka menengah hingga panjang.
Franc Swiss Masih Jadi Valas Safe Haven Favorit, Begini Kata Analis
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut menekan sentimen pasar. Di tengah penguatan dolar AS, investor global cenderung mengurangi eksposur di emerging market, termasuk Indonesia.
“Pasar juga mulai mencermati risiko pelebaran defisit fiskal, sehingga kombinasi faktor global dan domestik ini menciptakan tekanan berlapis bagi IHSG,” ujarnya.
Meski demikian, Hendra melihat peluang stabilisasi pasar tetap terbuka setelah periode rebalancing berakhir.
“Biasanya tekanan terbesar terjadi menjelang tanggal efektif. Setelah itu, pasar akan kembali fokus pada fundamental emiten dan kondisi makro,” katanya.
Ia menilai, di tengah volatilitas, investor asing berpotensi melakukan rotasi ke saham-saham berkapitalisasi besar yang lebih defensif dan likuid.
“Sektor perbankan besar dan saham blue chip seperti BBCA, BMRI, BBNI, serta TLKM masih menjadi pilihan karena fundamentalnya relatif solid,” ungkapnya.
Ke depan, katalis utama yang ditunggu investor asing adalah kepastian kebijakan dan stabilitas makroekonomi domestik.
“Pasar ingin melihat arah kebijakan yang lebih konsisten, stabilisasi rupiah, serta pengelolaan fiskal yang terukur,” jelasnya.
IHSG Ambles 28%, Sucor Sekuritas Minta Investor Lebih Adaptif
Menurut Hendra, jika faktor-faktor tersebut mulai membaik, peluang aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia masih cukup besar.
“Secara valuasi, banyak saham Indonesia sudah berada di level relatif murah. Jadi meskipun jangka pendek masih volatil, dalam jangka menengah peluang recovery tetap terbuka,” tutupnya.