Rekomendasi saham Timah (TINS) usai cetak kinerja solid kuartal I/2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PT Timah Tbk. (TINS) dengan target harga Rp4.500 seiring proyeksi pembalikan kinerja keuangan emiten sepanjang 2026.

Dalam riset terbarunya, analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis mengerek estimasi laba bersih TINS sebesar 13,4% menjadi Rp3,4 triliun untuk tahun 2026. Langkah tersebut diambil menyusul realisasi kinerja kuartal I/2026 yang melampaui ekspektasi. 

Laba bersih emiten timah pelat merah ini tercatat mencapai Rp1,5 triliun pada tiga bulan pertama 2026. Capaian itu memenuhi sekitar 44,6% dari total target laba bersih perseroan yang telah direvisi untuk sepanjang tahun. 

: PT Timah (TINS) Setor Rp1,62 Triliun ke Kas Negara pada 2025

“Realisasi laba bersih TINS pada kuartal I/2026 yang melampaui ekspektasi mengonfirmasi tesis kami mengenai titik balik kinerja keuangan perseroan pada tahun penuh 2026,” ujar Andhika dan Naura, dikutip Senin (1/6/2026). 

Secara terperinci, lonjakan kinerja perseroan pada awal tahun ditopang oleh kuatnya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) timah murni yang mencapai US$49.200 per ton dan volume penjualan sebesar 6,0 kiloton (kt).

: : Cek Kisi-kisi Dividen Timah (TINS) yang Bakal Gelar RUPST

TINS juga membukukan ekspansi margin, dengan margin kotor naik menjadi 38,6%, margin EBITDA 37,2% dan margin bersih menyentuh 27,5%.

Meskipun memangkas asumsi volume penjualan tahunan secara konservatif ke level 25 kt, BRI Danareksa menaikkan proyeksi ASP timah TINS menjadi US$50.000 per ton dari perkiraan sebelumnya sebesar US$40.000 per ton.

: : Laba Bersih PT Timah (TINS) Meroket jadi Rp1,5 Triliun pada Kuartal I/2026

Penyesuaian dilakukan dengan tetap mengantisipasi risiko transisi regulasi ekspor baru serta berakhirnya relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada akhir Maret 2026, yang dinilai berisiko menahan laju konversi produksi ke penjualan untuk periode selanjutnya. Imbasnya, proyeksi laba bersih TINS untuk tahun 2027 dipangkas 8,7% menjadi Rp3,5 triliun.

Di sisi lain, bayang-bayang revisi royalti dinilai menjadi risiko utama bagi pergerakan saham TINS ke depan. Tim analis menjelaskan skenario kenaikan beban tersebut dapat membatasi ruang apresiasi harga saham.

“Kami belum memasukkan usulan revisi royalti ke dalam asumsi dasar kami, namun kami melihat hal tersebut sebagai risiko penurunan utama karena beban royalti yang lebih tinggi dapat menggerus margin kas secara material dan menahan laju peningkatan penilaian TINS dalam jangka pendek,” jelas mereka.

BRI Danareksa lantas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TINS dengan target harga (target price/TP) di level Rp4.500 per saham. Target ini menggunakan kelipatan price-to-earnings (P/E) sebesar 10,0 kali untuk 2026.

Berdasarkan analisis sensitivitas, apabila aturan kenaikan royalti tersebut diimplementasikan, laba bersih perseroan berpotensi menyusut ke kisaran Rp1,46 triliun hingga Rp2,50 triliun dengan implikasi penurunan target harga saham ke rentang Rp2.000 hingga Rp3.400 per saham.

Selain isu royalti, beberapa risiko kunci yang perlu dicermati investor terkait saham TINS meliputi penurunan harga timah global di bawah ekspektasi, gangguan pengapalan akibat perizinan RKAB, serta pembengkakan biaya kas. 

Timah Tbk. – TradingView

_______ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.