Reksadana pasar uang masih bertahan positif, saham dan campuran kian tertekan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja industri reksadana sepanjang Mei 2026 menunjukkan perbedaan yang semakin lebar antar kelas aset.

Di tengah tekanan pasar saham dan obligasi domestik, reksadana pasar uang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif, sementara reksadana saham dan campuran mengalami koreksi cukup dalam.

Berdasarkan data Infovesta, reksadana pasar uang membukukan imbal hasil sebesar 0,27% secara bulanan (month on month/MoM) pada Mei 2026. Secara akumulatif sejak awal tahun hingga Mei 2026 year to date (YtD), kinerjanya tumbuh 1,60%.

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap masih mencatatkan kenaikan 0,22% secara bulanan. Namun, secara YtD, kinerjanya masih terkoreksi 0,62%.

Kinerja Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Bangkit

Tekanan paling besar terjadi pada reksadana campuran dan reksadana saham. Reksadana campuran turun 5,13% secara bulanan dan melemah 8,71% sejak awal tahun.

Adapun reksadana saham mencatatkan koreksi terdalam dengan penurunan 10,22% pada Mei dan merosot 17,66% secara YtD.

Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, mengatakan pelemahan kinerja reksadana pada Mei dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar saham dan obligasi domestik.

“Dari sisi saham, sentimen negatif berasal dari kekhawatiran terhadap hasil review MSCI, potensi arus keluar investor asing, serta tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar,” ujar Wira kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Menurut Wira, proses rebalancing MSCI pada Mei menjadi perhatian pasar lantaran tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Index, sementara sejumlah saham justru keluar dari indeks tersebut.

Kondisi itu ikut membebani kinerja reksadana saham maupun reksadana campuran yang memiliki eksposur besar pada pasar ekuitas.

Di pasar obligasi, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei membuat investor cenderung mengurangi risiko pada instrumen berdurasi panjang.

Di Januari 2026, Kinerja Reksadana Pasar Uang Paling Moncer Ketimbang Jenis Lain

“Kenaikan BI Rate tersebut memang ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

Akibatnya, reksadana pendapatan tetap masih menghadapi tekanan secara YtD, meskipun secara bulanan mulai menunjukkan perbaikan karena yield obligasi sudah berada di level yang lebih atraktif,” kata Wira.

Menghadapi kondisi tersebut, Sinarmas Asset Management menerapkan strategi investasi yang lebih defensif.

Untuk reksadana pendapatan tetap, perusahaan menjaga durasi portofolio pada level pendek hingga menengah, meningkatkan selektivitas terhadap obligasi korporasi berkualitas, serta mempertahankan likuiditas yang memadai.

Wira mengatakan pihaknya masih berhati-hati terhadap obligasi tenor panjang karena sensitivitasnya terhadap pergerakan rupiah, arah suku bunga, dan volatilitas global masih cukup tinggi.

Ketidakpastian Ekonomi Global, Reksadana Pasar Uang Bisa Jadi Pilihan Investasi

Pada reksadana saham dan campuran, Sinarmas Asset Management memilih mempertahankan porsi kas lebih besar dibandingkan kondisi normal guna mengurangi volatilitas portofolio.

“Hal ini dilakukan untuk mengurangi volatilitas portofolio di tengah tekanan pasar saham, pelemahan rupiah, dan risiko arus keluar investor asing,” kata Wira.

Menurutnya, porsi kas yang lebih tinggi juga memberikan fleksibilitas bagi manajer investasi untuk melakukan akumulasi secara bertahap ketika valuasi saham menjadi lebih menarik dan sentimen pasar mulai membaik.

Dari sisi pemilihan saham, Sinarmas Asset Management tetap fokus pada emiten dengan fundamental kuat, neraca sehat, arus kas solid, serta kemampuan menjaga profitabilitas di tengah tantangan ekonomi.

Sebaliknya, perusahaan cenderung lebih selektif terhadap saham berbeda tinggi maupun saham yang rentan terhadap capital outflow.

Untuk prospek Juni 2026, Wira menilai reksadana pasar uang masih menjadi pilihan paling menarik bagi investor ritel yang mengutamakan stabilitas dan likuiditas.

Reksadana Pasar Uang AS Cetak Rekor, Prospek di Indonesia Makin Dilirik

Instrumen tersebut dinilai relatif defensif di tengah tingginya volatilitas pasar sekaligus masih memperoleh manfaat dari tingkat suku bunga yang tinggi.

Selain itu, reksadana pendapatan tetap berdurasi pendek hingga menengah juga mulai menarik dicermati secara selektif seiring meningkatnya daya tarik yield obligasi. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kualitas kredit dan profil durasi portofolio.

Sementara bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, reksadana saham dapat mulai dipertimbangkan secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA).

Meski demikian, Wira mengingatkan bahwa volatilitas pasar dalam jangka pendek masih berpotensi tinggi sehingga pengelolaan risiko tetap menjadi faktor utama.