Rotasi saham pilihan sektor tambang dan konsumer di tengah gejolak pasar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Tekanan depresiasi rupiah, sentimen rebalancing indeks global, dan kenaikan BI Rate memaksa para pelaku pasar untuk menata ulang portofolio saham. Di tengah situasi pasar yang menantang, investor disarankan cermat memilah sektor penopang guna mengamankan keuntungan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa strategi mengoleksi defensive value stock menjadi pilihan paling rasional saat ini. Investor pun dituntut beralih ke emiten dengan kriteria fundamental kokoh dan memiliki posisi neraca keuangan yang bersih.

Kriteria utama dalam menyusun daftar saham pilihan kali ini adalah emiten dengan rasio utang valuta asing yang rendah. Selain itu, kekuatan posisi kas internal menjadi kunci agar kinerja perusahaan tidak terbebani cost of capital.

“Sektor perbankan masih cukup menarik sebagai pilihan karena fundamentalnya yang solid. Selain itu, tingkat biaya dana atau cost of fund industri ini relatif masih terjaga,” ujar Nafan saat dihubungi, Rabu (20/5/2026).

: IHSG Terdampak Respons Ekspor Satu Pintu, Purbaya Yakini Valuasi Emiten SDA Justru Naik

Selain perbankan, saham-saham di sektor komoditas seperti pertambangan dan energi masuk ke dalam radar rekomendasi. Daya tarik sektor ini ditopang oleh tingkat price-to-earnings (PE) serta nilai buku (PBV) yang masih murah.

Nafan menambahkan sektor telekomunikasi juga berpotensi menahan laju koreksi portofolio investasi karena diuntungkan tingkat permintaan terhadap infrastruktur berbasis konektivitas yang tetap tinggi di masyarakat.

Bagi pemodal yang ingin melakukan rotasi, beralih dari saham siklikal ke saham nonsiklikal seperti konsumer konsumen adalah langkah defensif yang tepat. 

Sektor konsumer, kata Nafan, dinilai kuat menghadapi tekanan inflasi barang impor karena memiliki kekuatan menentukan harga (pricing power).

Sebaliknya, investor disarankan mulai mengurangi porsi investasi pada kelompok growth stock serta lini bisnis yang sensitif bunga. Sektor teknologi dan properti menjadi dua lini utama yang paling perlu diwaspadai untuk sementara. 

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) 50 basis poin menjadi 5,25%. Adapun, suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga naik masing-masing menjadi 4,25% dan 6%.

Kondisi tersebut menjadi sentimen baru bagi pasar modal domestik di tengah derasnya arus keluar dana asing dan tekanan isu rebalancing indeks MSCI.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.