Rupiah spot ditutup ke Rp 17.967 per dolar Rabu (3/6), rekor terlemah sepanjang masa

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026), di tengah menguatnya mata uang Negeri Paman Sam dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.967 per dolar AS atau melemah 0,70% dibandingkan penutupan Selasa (2/6) yang berada di posisi Rp 17.839 per dolar AS.

SINI Rights Issue di Rp 5.000 & PTRO Jadi Standby Buyer, Saham Layak Koleksi?

Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren penurunan rupiah selama dua hari berturut-turut.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring menguatnya dolar AS dan melonjaknya harga energi global akibat memanasnya konflik di kawasan Teluk.

Melansir Reuters, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 1%.

Kondisi tersebut menambah tekanan bagi negara-negara pengimpor energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak berpotensi mempersempit surplus perdagangan, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi. Situasi ini pada akhirnya dapat memicu arus keluar modal dan pelemahan nilai tukar domestik.

Kupon Obligasi Rating AAA Naik 26 bps di Kuartal II, Tenor Satu Tahun Capai 5,10%

Chief Economist PermataBank Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah dipicu kombinasi sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan.

“Pemicu yang paling langsung adalah kenaikan harga minyak, surplus perdagangan April yang hampir habis, pelemahan rupiah ke rekor terendah baru, serta kekhawatiran bahwa posisi fiskal Indonesia akan semakin sulit dipertahankan jika harga energi tetap tinggi,” ujarnya.

Menurut Josua, pasar juga mulai mencermati risiko yang lebih luas apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Ia menjelaskan, apabila nilai tukar rupiah mendekati atau menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, sementara pasar saham terus melemah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, maka pelaku pasar dapat mulai memperhitungkan risiko penurunan kepercayaan investor terhadap aset domestik.

Merdeka Gold (EMAS) Realisasikan Seluruh Dana IPO untuk Percepat Tambang Emas Pani

“Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar mulai memperhitungkan risiko guncangan kepercayaan yang lebih luas,” tambahnya.

Pelaku pasar kini menanti respons lanjutan dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, terutama di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat lonjakan harga energi dan penguatan dolar AS.