
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Saham perbankan berkapitalisasi besar alias big banks terus mencatatakan penurunan harga akibat aksi jual investor asing. Dua saham big banks bahkan tercatat berada di harga yang lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu.
Dua saham big banks itu di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Kedua saham blue chip ini rupanya tidak mampu menahan tekanan jual bersih alias net sell investor asing.
Pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026), harga BBCA tercatat di level Rp 5.425 atau turun 1,81% dibanding kemarin.
Adapun jika ditarik lebih jauh, saham BBCA sudah turun 32,82% dibanding posisinya di 1 Januari 2026 alias year-to-date (Ytd).
CNAF Salurkan Pembiayaan Baru Kendaraan Roda Empat Rp 1,97 Triliun hingga April 2026
Sedangkan, harga BBRI hari ini ditutup pada Rp 2.810, turun 3,10% dibanding kemarin. Harga BBRI juga tercatat turun 23,22% Ytd.
Harga dari BBCA dan BBRI ini menjadi rekor terlemahnya sejak perdagangan lima tahun lalu. Jika dibandingkan dengan posisi harga masing-masing di 4 Juni 2021, BBCA sudah merosot 17,80% dan BBRI terjun 33,94%.
Penurunan harga BBCA dan BBRI ini terutama disebabkan oleh hengkangnya investor asing.
Sepanjang tahun 2026 ini, BBCA sudah mencatat net sell sebesar Rp 31,34 triliun, sedangkan BBRI mencatat net sell sebesar Rp 9,57 triliun.
Jika dilihat dari data KSEI, kepemilikan asing terhadap BBCA pada akhir Mei 2026 telah turun 10,07% dibanding akhir Desember 2025. Saat ini, asing memiliki 36,91 miliar lembar saham BBCA.
BBCA Chart by TradingView
Sementara, kepemilikan asing BBRI pada akhir Mei 2026 terhitung turun 6,0% dibanding Desember 2025. Saat ini, asing memiliki sekitar 41,6 miliar lembar saham BBRI.
Sebenarnya saham big banks lain, yakni saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), juga terus mencatat pelemahan. Akan tetapi, harga dari BBNI dan BMRI saat ini masih lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, ada dua sentimen utama yang menyebabkan penurunan harga saham big banks, yakni kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) serta depresiasi rupiah.
Nafan menyebut, langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% pada Mei 2026 membuat banyak investor asing khawatir akan adanya penurunan kinerja dari saham big banks ke depannya. Alhasil, aksi jual pun semakin kuat.
BRI Insurance Tingkatkan Kegiatan Literasi Asuransi di Institusi Pendidikan
Akan tetapi, Nafan menyebut sentimen dari BI Rate ini hanya bersifat jangka pendek. Pasalnya, kinerja keempat saham big banks sampai saat ini masih tercatat solid, seperti laba bersih BBCA sebesar Rp 20,81 triliun dan BBRI sebesar Rp 15,89 triliun.
Dengan begitu, Nafan menyebut jika laporan kinerja big banks untuk Mei 2026 juga tercatat positif, maka sentimen BI Rate ini tidak akan lagi terasa.
Menurutnya, sentimen utama datang dari pelemahan kurs rupiah. Jika rupiah terus mengalami pelemahan, ia khawatir aksi net sell terhadap saham big banks belum akan mereda.
“Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu offload investor asing,” kata Nafan saat dihubungi, Kamis (4/6/2026).
Adapun menurut Nafan, saham BBCA dan BBRI merupakan dua emiten dengan kapitalisasi paling besar di bursa Indonesia. Sebab itu, kedua saham ini akan langsung terdampak oleh sentimen pasar, termasuk mengalami penurunan harga terdalam.
BBRI Chart by TradingView
Meski harganya terus melemah, Nafan tetap merekomendasikan akumulasi saham big banks secara bertahap. Untuk target harga secara jangka panjang, Nafan menyebut BBCA di Rp 8.375 dan BBRI di Rp 3.670.
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo juga optimistis saham big banks akan kembali menguat. Ia menyebut, secara teknikal, tengah terjadi fenomenal candle doji di BCA.
Candle doji adalah posisi di mana harga saham bergerak tipis antara naik dan turun harga. Jika BBCA berhasil rebound dari situasi ini,
Pendanaan Fintech Lending dari Lender Asing Naik 18,28% per Maret 2026, Ini Sebabnya
Aziz menyebut investor bisa melakukan trade jangka pendek dengan target harga Rp 5.875 sampai Rp 5.900. Ia juga menyebut harga support BBCA di Rp 5.300.
Sementara untuk BBRI, Aziz menyebut harga supportnya ada di Rp 2.780. Ia bilang, ini adalah saat yang pas bagi invesor untuk mengakumulasi BBRI dengan target harga jangka pendek do Rp 3.070.
Aziz menyampaikan, saat ini harga saham big banks tengah berada di valuasi yang rendah. Ini menjadi peluang bagi investor baru yang ingin mulai mengakumulasi.