Saham big banks tertekan sentimen makro

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tekanan pada saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks tampaknya kian besar. Perbaikan kinerja fundamental maupun sentimen positif yang dihembuskan perseroan tak mampu menahan arus dana keluar investor.

Mengawali perdagangan pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi tersungkur dengan catatan koreksi 4,52% secara harian ke level 5.342,14 pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026).

Tak pelak, saham big banks ikut terpukul. Secara harian, koreksi terbesar dicatatkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), yakni sebesar 6,23% menjadi Rp 3.010.

Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 5,47% ke Rp 2.590, kemudian PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang ambles 4,43% menjadi Rp 4.850, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang terkoreksi 3,39% menjadi Rp 3.710.

Pada titik ini, big banks mencatatkan rapor merah baru. Bagi BBCA dan BBRI, level harga saat ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir. Sementara bagi BBNI dan BMRI, ini menjadi rekor harga terlemah dalam tiga tahun terakhir.

Bank BSN Salurkan Pembiayaan Modal Kerja Rp 1,4 Triliun Kepada PT Pegadaian

Menurut Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, jatuhnya harga saham para big banks saat ini disebabkan oleh sentimen negatif makroekonomi Indonesia, terutama terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini sudah melewati Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Jika dinilai dari fundamentalnya, Harry bilang pada dasarnya kinerja emiten bank besar masih cukup solid selama empat bulan pertama tahun ini.

Secara khusus, BBCA juga baru saja menghembuskan sentimen positif melalui pengumuman pembagian dividen interim sebesar Rp 20 per saham pada bulan ini.

Sayangnya, kata Harry, sentimen tersebut tak cukup menarik minat investor karena imbal hasil dividen cenderung memudar saat suku bunga tinggi seperti sekarang. Apalagi, BBCA juga memasuki momentum perlambatan laba yang signifikan setelah hanya mampu tumbuh 3% secara tahunan (year on year/yoy) akibat moderasi pendapatan bunga bersih pada April 2026.

“Jadi dividen tak menjawab kekhawatiran inti soal tekanan margin saat biaya dana naik,” tutur Harry kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis bilang pengumuman dividen interim BBCA ini tak sebanding dengan torehan net sell di IHSG. Apalagi, sektor perbankan menjadi salah satu yang paling terdampak karena memiliki bobot indeks dan likuiditas yang besar.

BRI Insurance Gandeng Pordasi Luncurkan Program Personal Accident Bagi Atlet Berkuda

Abdul mengamini bahwa fundamental perbankan nasional masih relatif solid. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, kualitas aset yang terjaga, serta rasio permodalan yang kuat.

Namun, alih-alih fundamental, Abdul memprediksi pergerakan saham perbankan dalam jangka pendek bakal lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan nilai tukar rupiah, dan arus modal asing.

“Volatilitas saham big banks masih berpotensi berlanjut selama investor asing belum kembali mencatatkan net buy secara konsisten,” sebut Abdul.

Di samping itu, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya melihat investor kini juga fokus pada perkembangan sovereign rating Indonesia. Jika terjadi penurunan rating atau outlook yang lebih negatif, bukan tak mungkin tekanan harga saham big banks berlanjut.

Andrey bilang volatilitas kemungkinan masih tinggi dan koreksi masih bakal berlanjut jika tekanan makro tak kunjung reda. Maka dari itu, sentimen yang memainkan peran penting dalam pergerakan saham big banks ke depan justru adalah arah kebijakan fiskal pemerintah.

Meski sebagian besar sentimen negatif sebenarnya sudah mulai tercermin dalam valuasi para big banks, Andrey menegaskan bahwa momentum signifikan di level makro tetap perlu menjadi perhatian.

Saham BBCA Masih Anjlok Pasca Pengumuman Dividen Interim, Ini Sebabnya

“Secara historis, valuasi beberapa bank sudah berada di bawah rata-rata jangka panjangnya. Oleh karena itu, ruang penurunan tambahan mungkin lebih terbatas dibandingkan beberapa minggu lalu, kecuali terjadi kejutan makro yang signifikan,” ujarnya.

Andrey mempertahankan rating overweight untuk sektor perbankan. Koreksi yang lebih dipicu faktor makroekonomi saat ini menurutnya justru menciptakan peluang akumulasi bertahap bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang. Saham pilihannya jatuh pada BMRI dan BBRI, dengan rekomendasi buy dan target harga masing-masing di Rp 5.920 dan Rp 4.000.

Sementara Harry memberikan rating netral untuk sektor perbankan dan memilih saham BMRI dengan target harga Rp 6.000, mempertimbangkan proyeksi laba, kredit, dan basis dana murah yang kuat. Sedangkan Azis lebih merekomendasikan wait and see.

“Mengingat IHSG juga masih dalam downtrend,” kata Azis.