
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menegaskan bahwa kebijakan dividend payout saat ini belum menjadi prioritas perseroan, seiring posisi BSI yang masih berada dalam growing stage atau fase pertumbuhan.
Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan berbeda dengan bank-bank Himbara lainnya yang telah berada pada posisi matang, BSI masih membutuhkan penguatan modal untuk mendukung ekspansi bisnis yang agresif.
“Ketika institusi seperti kami dalam growing stage, memang dividend payout biasanya menjadi second priority setelah diskusi seberapa agresif BSI bisa tumbuh ke depan,” kata Cahyo dalam Konferensi Pers Kinerja Tahun 2025 BSI secara daring, Jumat (6/2/2026).
: BSI (BRIS) Bukukan Laba Bersih Rp7,57 Triliun pada 2025, Ini Pendoronganya
Dia mengungkapkan, pertumbuhan bisnis BSI sepanjang 2025 mencapai double digit bahkan di atas rata-rata industri perbankan. Tercatat sepanjang 2025, bank syariah terbesar di Indonesia ini membukukan pertumbuhan bisnis BSI sebesar 78,6% secara tahunan (year on year/YoY), menjadi Rp22,9 triliun.
Selain itu, tren positif tersebut diprediksi berlanjut pada tahun ini sehingga menuntut ketersediaan modal yang memadai agar ekspansi bisnis dapat berjalan dengan optimal. “Artinya kalau kita mau tumbuh agresif, ada kebutuhan capital untuk support terhadap pertumbuhan tersebut,” ujarnya.
: : Kontribusi BSI (BRIS) ke Laba Bank Mandiri (BMRI) Capai Rp7,56 Triliun
Kendati begitu, Cahyo menegaskan bahwa BSI tidak menutup peluang pembagian dividen. Dia menyebut, keputusan terkait pembagian dividen tetap akan bergantung pada hasil rapat pemegang saham tahun ini.
Adapun, BSI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 8,02% YoY menjadi Rp7,57 triliun sepanjang 2025. Capaian itu meningkat dibanding tahun lalu Rp7,00 triliun. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan kinerja positif sepanjang 2025 itu didorong oleh sejumlah indikator yang tumbuh secara berkelanjutan.
: : Usai Lepas dari Mandiri, BSI (BRIS) Bakal Fokus ke Segmen Consumer Banking
Misalnya saja pembiayaan yang tumbuh double digit 14,49% YoY menjadi Rp319 triliun pada 2025. Begitu pula dengan himpunan dana pihak ketiga (DPK) BSI yang tumbuh 16,20% YoY menjadi sebesar Rp380 triliun.
“Tentu saja ini semua merupakan hasil dari channel-channel digital dan juga channel-channel di cabang,” kata Anggoro.
Hingga akhir 2025, Anggoro mengungkapkan bahwa pertumbuhan pengguna aplikasi BYOND by BSI meningkat signifikan hingga 157% dengan total user mencapai 5,9 juta. Transaksi keuangan nasabah juga didukung oleh ATM/CRM BSI yang saat ini berjumlah 6.000 unit dan mesin EDC 21.000 unit, 126.000 agen BSI, serta outlet sebanyak 1.049 unit berupa kantor cabang dan kantor cabang pembantu.