
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Investor dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang dan/atau reksa dana pendapatan tetap sebagai penyeimbang portofolio di tengah ketidakpastian global dan ekspektasi penurunan suku bunga global yang lebih lambat.
Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas Francisca Gerungan menilai dari sisi makro, Bank Indonesia masih membuka peluang penurunan suku bunga acuan (BI Rate), meski sepanjang 2025 telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali. Saat ini BI Rate masih tertahan dan berada di level 4,75%.
Menurutnya, Keputusan BI pada 19 Februari 2026 untuk mempertahankan suku bunga menunjukkan fokus bank sentral pada stabilisasi nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, serta menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
: Top Performer Reksa Dana 2026: Saham Unggul, Pasar Uang dan Obligasi Tertahan
Kondisi ini membuat sebagian investor bersikap wait & see. Namun, dia mengingatkan bahwa sikap menunggu tidak berarti membiarkan dana menganggur tanpa imbal hasil.
“Harus juga disadari meskipun wait and see jangan membiarkan dana menganggur tidak menghasilkan. Investor dapat menerapkan prinsip diversifikasi dengan pilihan masuk ke reksa dana pasar uang dan atau reksa dana pendapatan tetap,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
: : Cek Reksa Dana Paling Moncer Hingga Februari Ini, Ada yang Cuan 12%
Saat ini, Francisca menilai investor dapat melakukan diversifikasi portofolio ke aset kelas yang lebih konservatif, moderat supaya bisa menjadi penyeimbang dalam keseluruhan portofolio nasabah dan memberikan solusi untuk dana menganggur.
Hal itu, lanjutnya, dengan tetap menyesuaikan profil risiko investor, tujuan investasi dan jangka waktu investasi.
: : IHSG Volatil, Diversifikasi Reksa Dana Dinilai Krusial
Sepanjang 2025, reksa dana pendapatan tetap menjadi primadona. Di Mirae Asset, bobotnya mencapai lebih dari 75% dari total Aset Under Administration (AUA) reksa dana per Desember 2025.
Kinerja produk reksa dana pendapatan tetap dari sejumlah manajer investasi rekanan bahkan mencatatkan hasil yang kompetitif. Beberapa produk mampu mencatatkan imbal hasil sekitar 8%–10% secara tahunan per Desember 2025.
Meski instrumen defensif mendominasi, potensi kenaikan pasar saham tetap menarik perhatian. Untuk investor yang ingin menangkap peluang tersebut secara bertahap, reksa dana campuran dengan porsi saham lebih besar menjadi alternatif.
Sepanjang 2025, terdapat reksa dana campuran yang mencatatkan kinerja lebih dari 30% YoY. Namun, produk ini memerlukan pemahaman yang lebih mendalam karena profil risikonya lebih tinggi. Namun tentunya dibutuhkan pendekatan edukatif dan analisis mendalam sebelum masuk ke instrumen ini.
Sementara itu, data Infovesta Utama mencatat kinerja reksa dana saham paling moncer secara year-to-date dibandingkan dengan kinerja reksa dana lainnya.
Produk reksa dana saham Cipta Saham Unggulan Syariah cetak return tertinggi. Berdasarkan data Infovesta, Infovesta Equity Fund Index naik 3,65% YtD, disusul Infovesta Balanced Fund Index yang menguat 2,33% sejak awal 2026. Sementara itu, Infovesta Money Market Fund Index naik tipis 0,5% dan Infovesta Fixed Income Fund Index terpantau stagnan.
Sementara itu, Infovesta Money Market Fund Index naik tipis 0,5% dan Infovesta Fixed Income Fund Index terpantau stagnan.
Adapun selama sepekan, kinerja reksa dana juga ditutup menguat dengan reksa dana saham mencatatkan return positif terbesar yakni 3,71%, disusul reksa dana campuran sebesar 2,28%, reksa dana pendapatan tetap sebesar 0,20%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.