
Sulawesi sedang bergulat dengan banjir saat gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Mindanao, Filipina, mengguncang wilayah timur Indonesia pada Senin (8/6). Dalam sebulan terakhir, banjir tercatat melanda ratusan desa di pulau yang kini menjadi pusat pertambangan dan hilirisasi nikel tersebut.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, sepanjang 1 Mei hingga 6 Juni 2026, terjadi 36 kejadian banjir dan tanah longsor di lebih dari 20 kabupaten/kota di Sulawesi. Bencana tersebut merendam lebih dari 12 ribu rumah dan merusak sedikitnya 66 rumah.
Banjir terbesar terjadi di Kabupaten Luwu Utara pada 13 Mei lalu dengan dampak lebih dari 3.000 rumah terendam. Sedangkan kejadian terbaru tercatat pada 6 Juni di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, yang menyebabkan 148 rumah terendam air.
Tingginya frekuensi banjir sejalan dengan pemetaan InaRISK BNPB, yang menunjukkan potensi bahaya banjir, banjir bandang, dan tanah longsor dengan tingkat sedang hingga tinggi tersebar di banyak wilayah di pulau tersebut.
Peta InaRisk juga menunjukkan sebagian besar wilayah di Sulawesi memiliki indeks risiko banjir tinggi. Indeks ini dihitung berdasarkan tingkat ancaman bahaya, jumlah penduduk dan aset yang berpotensi terdampak, serta kapasitas daerah dalam menghadapi bencana.
Sebagian besar wilayah di Sulawesi mengalami kenaikan indeks risiko banjir dari kategori sedang menjadi tinggi pada 2025.
Berbagai data ini memperlihatkan bayang-bayang risiko yang semakin membentang di atas pulau yang kini memikul ambisi ekonomi nasional tersebut.
Indeks Risiko Banjir 2020 (inaRISK BNPB) Indeks Risiko Banjir 2025 (inaRISK BNPB) Peta Bahaya Banjir (BNPB) Peta Bahaya Banjir Bandang (BNPB) Peta Bahaya Tanah Longsor (BNPB)