
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tekanan jual investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada akhir Januari 2026 dinilai lebih banyak dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Sepanjang periode 26-29 Januari 2026, nonresiden tercatat melakukan jual neto SBN senilai Rp 2,77 triliun, seiring memburuknya sentimen pasar keuangan global.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai, tekanan tersebut mulai terasa sejak pekan kedua Januari 2026.
IHSG Anjlok 4,88% pada Senin (2/2), Ini Pesan OJK untuk Investor
Padahal, pada awal bulan kondisi pasar domestik masih relatif stabil dan sempat menguat. Namun, ketidakpastian global yang meningkat, ketegangan geopolitik, hingga kembali mencuatnya isu tarif perdagangan membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.
“Ini lebih karena faktor eksternal. Ketidakpastian global meningkat, geopolitik memanas, ditambah sentimen tarif yang kembali muncul. Hal ini memicu tekanan di pasar keuangan, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara berkembang lainnya,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Meski demikian, Ramdhan menilai tekanan tersebut bersifat jangka pendek.
Ia menilai dinamika global saat ini lebih mencerminkan upaya negara-negara besar menunjukkan kekuatan ekonominya, yang pada akhirnya memicu volatilitas sementara di pasar keuangan.
IHSG Terpapar Sentimen Pergantian Pimpinan BEI dan OJK, Cek Rekomendasi Saham Berikut
Ia menambahkan, dominasi investor domestik menjadi salah satu kekuatan utama pasar SBN. Likuiditas domestik yang masih memadai membuat pasar obligasi lebih tahan terhadap guncangan dibandingkan pasar saham.
Untuk prospek arus modal ke depan, Ramdhan memperkirakan capital outflow masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, setidaknya hingga kuartal I 2026.
Ia memperkirakan kondisi pasar akan mulai lebih kondusif pada Maret hingga April 2026, seiring meredanya ketegangan global.
Sepanjang 2026, Ramdhan menilai SBN tetap menarik bagi investor domestik. Ketahanan SBN dalam menghadapi berbagai guncangan global, mulai dari pandemi hingga perang tarif.
“SBN kita terbukti punya ketahanan yang baik dan pemulihannya relatif cepat, ditopang likuiditas perbankan dan dukungan regulator,” katanya.
Daftar Direktur BEI & Bos OJK Mengundurkan Diri Usai IHSG Anjlok 10%
Sementara itu, minat investor asing ke SBN diperkirakan masih terbatas, mengingat ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda dan preferensi terhadap aset berdenominasi dolar AS yang dinilai lebih aman.
Adapun untuk pergerakan yield SBN pada 2026, Ramdhan menilai pergerakannya akan sangat dinamis hingga akhir tahun.
Namun, ia optimistis yield SUN 10 tahun berpeluang kembali mengarah ke level 6% setelah semester I 2026, seiring stabilisasi kondisi global dan terjaganya pertumbuhan ekonomi domestik.