
Ussindonesia.co.id Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada Jumat (13/2/2026) dan berada di jalur mencatat kinerja mingguan terburuk sejak November 2025.
Aksi jual di saham teknologi menutupi sentimen positif dari data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.
Melansir Reuters pada pukul 10.22 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 67,89 poin atau 0,14% ke 49.384,09.
Indeks S&P 500 terkoreksi 3,79 poin atau 0,06% ke 6.828,97, sementara Nasdaq Composite melemah 51,78 poin atau 0,23% ke 22.545,37.
Wall Street Bergerak Datar, Investor Cerna Data Inflasi AS yang Lebih Jinak
Pasar saham sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi, namun kekhawatiran terhadap disrupsi berbasis kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual di berbagai sektor, mulai dari perangkat lunak hingga asuransi dan transportasi.
Selain itu, data ketenagakerjaan Januari yang lebih kuat dari perkiraan menimbulkan keraguan terhadap seberapa cepat pelonggaran kebijakan moneter akan dilakukan tahun ini.
Inflasi Reda, Peluang Pemangkasan Suku Bunga Naik
Sentimen sempat membaik setelah data menunjukkan inflasi AS naik lebih rendah dari ekspektasi pada Januari.
Pelaku pasar kini sedikit menaikkan probabilitas pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada Juni menjadi 69% dari sebelumnya 63%.
Asing Net Sell Rp 2,3 Triliun, Intip Saham yang Banyak Dijual Asing, Jumat (13/2)
Michael Metcalfe, Head of Market Strategy State Street Markets mengatakan, tren disinflasi masih berlanjut dan memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi telah melewati puncaknya.
“Ini memberi gambaran bahwa prospek inflasi terus membaik, yang pada akhirnya memungkinkan suku bunga turun di akhir tahun,” ujarnya.
Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan
Sektor teknologi menjadi penekan utama. Saham Nvidia turun 2% dan Apple melemah 0,8%, membebani S&P 500 dan Nasdaq.
Di sisi lain, saham perbankan besar seperti Goldman Sachs dan JPMorgan Chase juga melemah, menekan Dow Jones.
Prospek Sektor Bisnis yang Berpotensi Cuan pada Tahun Kuda Api 2026
Musim laporan keuangan yang telah berjalan lebih dari separuh periode menunjukkan belanja modal AI sebagai tema dominan di kelompok “Magnificent Seven”. Total investasi kumulatif mereka diperkirakan mencapai sekitar US$650 miliar. Namun, investor kini menuntut hasil nyata dari investasi tersebut.
“Pasar sudah mendiskon banyak potensi laba yang belum tentu terealisasi, sementara valuasi tidak lagi murah,” kata Brent Schutte, Chief Investment Officer Northwestern Mutual Wealth Management.
Sektor Kesehatan dan Emiten Chip Menguat
Saham sektor kesehatan menjadi penopang pasar. Eli Lilly naik 2,2% dan UnitedHealth bertambah 0,7%.
Sementara itu, Applied Materials melonjak 10% setelah produsen peralatan chip tersebut memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal kedua di atas ekspektasi.
Arista Networks juga naik 5,3% setelah memperkirakan pendapatan tahunan melampaui perkiraan analis.
Tahun Kuda Api 2026, Saham Sektor Logam dan Energi Diprediksi Moncer
Saham Baja dan Aluminium Tertekan
Laporan Financial Times yang menyebut Presiden Donald Trump berencana mengurangi sebagian tarif baja dan aluminium turut memengaruhi pasar.
Saham Nucor turun 2,9%, Cleveland-Cliffs melemah 3,6%, dan Steel Dynamics terkoreksi 3,7%. Produsen aluminium Alcoa dan Century Aluminum masing-masing turun 2% dan 6,4%.
Secara keseluruhan, kombinasi aksi jual di sektor teknologi dan ketidakpastian arah kebijakan membuat Wall Street berpotensi mencatat pelemahan mingguan terdalam dalam tiga bulan terakhir, meskipun tekanan inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda.