
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sektor saham dari elemen logam, api, dan kayu diproyeksikan bakal prospektif di Tahun Kuda Api 2026.
Pakar Feng Shui, Master Xiang Yi mengatakan, energi dari elemen api di tahun 2026 ini cukup besar, sehingga membuat volatilitas cukup tinggi.
“Api besar sekali energinya. Jadi, akan menimbulkan gejolak yang lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (13/2).
Prima Multi (PMUI) Lepas 80% Saham Graha Prima (GRPM) ke Grup Rimau, Ini Detailnya
Volatilitas di pasar itu masih akan terjadi hingga pertengahan tahun 2026. “Kondisi akan lebih tenang nanti menjelang akhir tahun,” katanya.
Elemen logam, api, dan kayu akan prospektif di tahun 2026 ini. Dari elemen logam, sektor saham keuangan, komoditas logam, dan elektronik.
Dari elemen api, ada sektor teknologi AI, energi, telekomunikasi, dan media. Sementara, dari elemen kayu, ada sektor farmasi dan kayu (pulp and paper).
Di sisi lain, elemen tanah dan air masuk ke elemen yang tak terlalu bagus di tahun 2026 ini.
Dari elemen tanah, ada sektor properti yang imbal hasilnya tak terlalu bagus di tahun ini. “Sementara, di elemen air ada sektor logistik dan transportasi,” ungkapnya.
CLSA Feng Shui Index 2026 juga memprediksi bahwa sektor elemen logam akan unggul di tahun Kuda Api 2026.
Melansir laman resmi CLSA, elemen logam sudah jadi primadona dalam beberapa tahun terakhir. Di tahun ini pun elemen ini kembali unggul lantaran dianggap mampu bereaksi cepat dengan unsur api. Dari elemen logam, sektor yang prospektif adalah teknologi, otomotif, dan baterai.
Kapitalisasi Pasar Kripto Menurun, Bagaimana Proyeksi Pergerakan Bitcoin?
Di posisi kedua, ada sektor yang berasal dari elemen api. CLSA memprediksi, sektor-sektor berelemen api akan sangat unggul di dua bulan terakhir tahun 2026. Sektor unggulan dari elemen api adalah internet, energi, telekomunikasi, dan perhiasan.
Di posisi ketiga, ada elemen tanah. Sektor dari elemen ini akan sangat unggul di bulan Oktober 2026. Sektor unggulan dari elemen tanah adalah konsumer, real estate, infrastruktur, dan semen.
Di sisi lain, Tahun Kuda Api 2026 diperkirakan CLSA penuh perubahan cepat dan pergerakan tajam untuk pasar Indonesia.
Awal tahun 2026 akan terasa tidak stabil, tapi kondisi biasanya membaik di pertengahan hingga akhir tahun, meskipun tetap ada kejutan.
“Ini mirip dengan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekarang,” kata riset terpisah terkait CLSA Feng Shui JCI yang diterima Kontan, Jumat (13/2/2026).
Sektor yang berpotensi menguat di tahun ini adalah sektor pertanian, crude palm oil (CPO), dan pangan. Ini berarti sektor yang dominan elemen kayu.
Lalu, sektor hiburan dan media, perhiasan dan logam mulia, serta sektor terkait hukum dan regulasi.
Riset CLSA memaparkan jika sektor yang berpotensi tertekan di tahun ini adalah sektor shipping dan pelayaran, perdagangan global dengan siklus yang sensitif pada ekspor-impor, serta bisnis berbasis logistik laut.
Kepercayaan Publik Dinilai Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Aset Digital
“Secara umum, Tahun Kuda biasanya memberi pertumbuhan sedang, tidak terlalu tinggi, tapi tetap positif,” tulis riset tersebut.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe melihat, elemen logam bisa melirik saham dari sektor timah, nikel, emas, dan otomotif.
Dari sektor timah, rekomendasi beli disematkan untuk TINS dengan target harga untuk 1 tahun ke depan Rp 4.500 per saham. Dari sektor nikel, rekomendasi beli disematkan untuk HRUM, INCO, MBMA, dan NCKL dengan target harga masing-masing Rp 2.500 per saham, Rp 8.000 per saham, Rp 1.500 per saham, dan Rp 1.600 per saham.
Dari sektor emas, rekomendasi beli disematkan untuk saham INDY, EMAS, PSAB, MDKA, ARCI, ANTM, dan BRMS dengan target harga masing-masing untuk satu tahun ke depan di Rp 8.000, Rp 1.000, Rp 4.000, Rp 2.000, Rp 4.500 , Rp 1.200, dan Rp 4.000 per saham.
Dari sektor otomotif, rekomendasi beli diberikan untuk ASII dengan target harga 1 tahun Rp 8.000 per saham.
Untuk elemen api, ada sektor telco dan energi yang bisa dilirik. Dari sektor telco, rekomendasi beli disematkan untuk TLKM dengan target harga 1 tahun Rp 4.500 per saham. Dari sektor energi, rekomendasi beli diberikan untuk MEDC dengan target harga Rp 1.800 per saham.
Untuk elemen kayu, ada sektor CPO dan kayu (pulp and paper). Dari sektor CPO, rekomendasi beli diberikan untuk AALI, LSIP, dan BWPT dengan target harga 1 tahun masing-masing Rp 10.000 per saham, Rp 1.800 per saham, dan Rp 250 per saham.
Dari sektor pulp and paper, rekomendasi beli disematkan untuk INKP dan TLKM dengan target harga 1 tahun masing-masing Rp 18.000 per saham dan Rp 11.000 per saham.