
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah masih belum bisa bangkit dari tekanan.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.893 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (12/3/2026), melemah 0,04% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.886 per dolar AS.
Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 16.899 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (12/3/2026), melemah 0,19% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.867 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih berubah-ubah seiring respons pasar terhadap perkembangan geopolitik.
Rupiah Jisdor Melemah 0,19% ke Rp 16.899 per Dolar AS pada Kamis (12/3/2026)
“Rupiah ditutup melemah di tengah sentimen global yang masih on and off merespons perkembangan perang di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (12/3/2026).
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sempat mereda menjelang akhir perdagangan.
Hal ini seiring dengan pelemahan indeks dolar AS yang membantu mengurangi beban terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Menurut Lukman, sentimen global masih akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. Terlebih, tidak ada data ekonomi domestik yang signifikan yang akan dirilis pada Jumat (13/3/2026).
Merdeka Gold Resources (EMAS) Catat Rugi Bersih US$ 27,49 Juta pada 2025
Sebaliknya, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat. Beberapa di antaranya adalah rilis revisi kedua produk domestik bruto (PDB) AS, data lowongan pekerjaan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), serta survei awal sentimen konsumen.
Untuk perdagangan Jumat (13/3/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS.