Wall Street ditutup naik Selasa (14/4), harapan perundingan AS-Iran dorong sentimen

Ussindonesia.co.id  Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/4), didorong optimisme baru terkait potensi perundingan antara Donald Trump dan Iran, serta kinerja emiten yang solid di awal musim laporan keuangan.

Indeks Nasdaq Composite melonjak hampir 2%, sementara S&P 500 naik sekitar 1% dan mendekati rekor penutupan tertingginya. Adapun Dow Jones Industrial Average turut menguat meski dengan kenaikan yang lebih terbatas.

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Simak Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini

Melansir Reuters, secara rinci, indeks S&P 500 naik 81,14 poin atau 1,18% ke level 6.967,38, mendekati rekor penutupan 6.978,60 pada Januari lalu.

Nasdaq melonjak 455,35 poin atau 1,96% menjadi 23.639,08, menandai kenaikan selama 10 hari berturut-turut.

Sementara Dow Jones naik 317,74 poin atau 0,66% ke posisi 48.535,99, tertinggi sejak awal Maret.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, hanya tiga yang melemah, dengan sektor energi mencatat penurunan terbesar sebesar 2,2% seiring turunnya harga minyak.

Sebaliknya, sektor teknologi menguat, dipimpin saham perangkat lunak yang naik 1,6% serta indeks semikonduktor yang mencetak rekor penutupan untuk kelima kalinya berturut-turut.

Rupiah Melemah ke Rp 17.127 per Dolar AS, Ini Proyeksinya untuk Rabu (15/4)

Sentimen positif datang dari pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik Iran berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan.

Hal ini muncul setelah negosiasi sebelumnya gagal dan mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Di sisi lain, U.S. Department of State menyatakan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama, usai pertemuan yang difasilitasi AS di Washington.

Pasar yang selama ini sensitif terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah merespons positif setiap sinyal de-eskalasi.

Fluktuasi harga minyak yang tajam sebelumnya telah memengaruhi ekspektasi inflasi, sehingga perkembangan kawasan tersebut menjadi perhatian utama investor.

“Belum ada resolusi final, tetapi investor tidak ingin melewatkan momentum rebound,” ujar Burns McKinney dari NFJ Investment Group.

Dari sisi makro, data inflasi turut memberikan sentimen tambahan. Harga produsen di AS pada Maret naik lebih rendah dari ekspektasi, seiring biaya jasa yang stagnan. Kondisi ini memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

EMAS Raup Kredit Sindikasi US$150 Juta, Simak Rekomendasi Sahamnya

Menurut kepala strategi pasar Ameriprise Financial Anthony Saglimbene, pasar mulai meninggalkan fase ketidakpastian ekstrem.

“Pasar mulai menjauh dari skenario terburuk, baik terkait konflik Iran, kekhawatiran disrupsi AI, inflasi, maupun kebijakan bank sentral. Dengan valuasi yang membaik, investor kini cenderung memanfaatkan koreksi untuk masuk,” jelasnya.

Kinerja Emiten Jadi Penopang

Di tengah musim laporan keuangan, sejumlah emiten mencatat hasil positif. Saham BlackRock melonjak 3% setelah mencatat kenaikan laba kuartal I, didorong arus masuk dana ke produk ETF dan peningkatan biaya kinerja.

Sementara itu, saham Citigroup naik 2,6% dan menyentuh level tertinggi sejak 2008, setelah melaporkan laba yang melampaui ekspektasi pasar.

Cermati Saham yang Banyak Dijual Asing di Tengah Reli IHSG, Selasa (14/4)

Namun, respons pasar terhadap kinerja perbankan tidak merata. Saham JPMorgan Chase mendapat sambutan yang lebih moderat, sedangkan Wells Fargo melemah akibat pendapatan bunga yang di bawah ekspektasi.

Di sektor kesehatan, saham Johnson & Johnson naik 0,9% setelah merilis laporan keuangan.

Sementara itu, sektor penerbangan turut mencuri perhatian. Saham United Airlines naik 2%, sedangkan American Airlines melonjak 8% setelah muncul laporan potensi merger yang dapat mengubah peta industri.

Di sisi lain, saham Globalstar melesat 9,6% setelah mencapai kesepakatan akuisisi dengan Amazon.

Total volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,96 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 19,10 miliar saham.