Saham ANTM, MDKA, dan ARCI lanjut menguat saat emas nyaris tembus US$4.900

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham emiten yang memiliki lini bisnis terkait dengan logam mulia, seperti MDKA, ANTM dan ARCI kompak menguat di tengah kenaikan harga emas di pasar spot. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot mencatat penguatan sebesar 2,13% atau 101,49 poin menuju level US$4.864,92 per troy ounce. 

Pada saat bersamaan, harga emas berjangka Comex AS kontrak Februari 2026 juga terpantau menguat sebesar 2,10% ke US$4.865,70 per troy ounce. 

Seiring dengan sentimen kenaikan harga emas dunia, data perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (21/1/2026), memperlihatkan bahwa sejumlah saham di sektor komoditas emas membukukan penguatan lanjutan. 

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) memimpin dengan mencetak kenaikan harga sebesar 3,74% menuju Rp3.330 per saham. Posisi ini disusul saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang naik 3,40% ke Rp4.260. 

Selanjutnya, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) menguat 1,98% menjadi Rp2.060 dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) naik 1,53% ke Rp665. Senada, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik tipis 0,66% ke level Rp7.675 per saham. 

: Harga Emas Antam Hari Ini (21/1) Melonjak Rp67.000 Sentuh Rp2,77 Juta per Gram

Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (20/1), saham emiten emas juga menjadi penopang laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat tipis 0,01% atau 0,82 poin menuju level all-time highbaru yakni 9.134,70. 

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (EMAS) membukukan pertumbuhan tertinggi yakni melonjak 18,18% ke level Rp6.500 per saham, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang menguat 6,50% menjadi Rp1.310. 

Analis Riset MNC Sekuritas Raka Junico mengatakan bahwa harga emas global diproyeksikan memiliki ruang kenaikan signifikan hingga tahun fiskal 2026. Hal ini didorong oleh langkah akumulasi bank sentral dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve atau The Fed.  

“Emas berhasil mempertahankan momentum penguatannya yang didorong oleh permintaan struktural jangka panjang, ketidakpastian global, serta bias pelemahan dolar AS,” ujar Raka dalam riset terbarunya. 

Menurut Raka, katalis utama yang akan menjaga tren bullish ini adalah ketidakpastian makroekonomi yang masih berlangsung. Pasalnya, pasar berekspektasi The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish di masa depan. 

“Kami mengantisipasi kemungkinan reaktivasi quantitative easing serta pemotongan suku bunga kumulatif sekitar 75 basis poin oleh The Fed,” ucapnya.

Dalam skenario dasar yang disusun MNC Sekuritas, harga emas diproyeksikan akan bergerak hingga US$4.800 per troy ons pada tahun fiskal 2026. Proyeksi ini mengasumsikan kondisi makro global yang tetap berhati-hati, serta aksi borong emas oleh bank sentral dunia yang terus berada di atas tren normal.

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.