
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Pasar modal Indonesia memasuki awal 2026 dengan ujian berat. Sinyal keras dari MSCI terkait risiko penurunan klasifikasi Indonesia yang menyentuh isu transparansi, struktur kepemilikan, dan kualitas pembentukan harga menjadi pemicu volatilitas besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Gelombang aksi jual yang menyusul tidak hanya menghantam saham-saham berkapitalisasi besar, tetapi juga merembet ke seluruh spektrum pasar, termasuk saham syariah.
Dalam pusaran ini, muncul pertanyaan krusial: sejauh mana pasar saham syariah Indonesia yang direpresentasikan oleh Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) mampu bertahan dan beradaptasi? Lebih jauh, reformasi apa yang diperlukan agar badai ini menjadi titik balik menuju pasar yang lebih dalam, transparan, dan berkelanjutan?
MSCI menyoroti risiko struktural pasar Indonesia, terutama terkait free float yang rendah, konsentrasi kepemilikan, dan ketersediaan data pasar yang memadai untuk price discovery. Dalam literatur keuangan, isu-isu ini dikenal sebagai faktor utama yang memperlebar liquidity premium dan information asymmetry (Amihud & Mendelson, 1986; Kyle, 1985). Dampaknya bersifat sistemik. Investor institusi global yang mengandalkan standar MSCI merespons dengan de-risking, memprioritaskan likuiditas dan kemudahan keluar-masuk pasar. Saham-saham dengan free float tipis menjadi korban pertama. Fenomena ini menjelaskan mengapa tekanan tidak selektif sektor, melainkan menyapu luas indeks.
: Berkah Ramadan 2026, Intip Prospek Saham Syariah ICBP, ANTM hingga TLKM
Reuters mencatat bahwa otoritas pasar Indonesia merespons dengan menyiapkan rancangan aturan baru, termasuk pengetatan free float dan penguatan tata kelola pasar, sebagai bagian dari upaya memulihkan kepercayaan investor dan menjaga posisi Indonesia di peta pasar global.
Analisis pergerakan indeks sejak awal Januari hingga awal Februari 2026 memperlihatkan pola yang menarik:
: : Pilah-pilih Rekomendasi Saham Syariah Pilihan BRI Danareksa Sekuritas
ISSI mengalami penurunan lebih dalam secara periode dibanding IHSG, mencerminkan tekanan yang lebih berat pada saham syariah secara luas termasuk emiten berkapitalisasi kecil dan menengah. JII, yang berisi 30 saham syariah paling likuid dan berkapitalisasi besar, bergerak relatif sejalan dengan IHSG. Drawdown ketiganya berada pada kisaran belasan hingga dua puluhan persen, menandakan shock regime yang bersifat pasar luas, bukan sektoral.
Perbedaan kinerja ini penting. ISSI adalah cermin breadth pasar syariah, sementara JII adalah cermin kualitas dan likuiditas saham syariah unggulan. Ketika guncangan berbasis likuiditas terjadi, indeks yang lebih luas cenderung lebih rentan karena mengandung lebih banyak saham dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi.
: : Peluang Cuan Saham Syariah di Momentum Ramadan 2026, AADIâINCO Jadi Sorotan
Dalam teori keuangan modern, volatilitas meningkat tajam ketika pasar menghadapi ketidakpastian struktural (structural uncertainty). Merton (1987) menjelaskan bahwa keterbatasan informasi dan akses investor terhadap saham tertentu meningkatkan volatilitas dan menurunkan valuasi.
Saham syariah, secara prinsip, memiliki karakter lebih defensif karena batasan leverage dan eksposur utang berbasis bunga. Namun, defensif secara fundamental tidak otomatis berarti kebal secara struktural. Jika free float rendah dan likuiditas tipis, saham syariah tetap rentan terhadap liquidity shock. Inilah yang tecermin pada perbedaan ISSI dan JII. JII lebih cepat “dijual” saat panik karena likuid, tetapi juga lebih cepat stabil. ISSI menanggung tekanan berkepanjangan karena breadth-nya menyimpan banyak saham dengan likuiditas terbatas.
Perbandingan langsung dengan IHSG menunjukkan bahwa saham syariah unggulan tidak tertinggal secara struktural, sementara saham syariah secara agregat menghadapi tantangan lebih besar. Gap ini bukan kegagalan konsep syariah, melainkan cerminan struktur pasar.
Literatur ESG dan ethical investing menunjukkan bahwa kinerja jangka menengah-panjang instrumen beretika sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola dan kedalaman pasar (Friede, Busch & Bassen, 2015). Tanpa reformasi struktural, keunggulan nilai (value-based investing) sulit diterjemahkan menjadi kinerja harga yang stabil.
Langkah reformasi yang mengemuka berupa peningkatan free float, penguatan transparansi, dan perbaikan data pasar harus dibaca sebagai agenda transformasi, bukan sekadar respons darurat. Pertama, peningkatan free float akan memperbaiki price discovery dan menurunkan liquidity risk premium. Kedua, transparansi kepemilikan dan kualitas data memperkecil asimetri informasi, meningkatkan partisipasi investor institusi jangka panjang. Ketiga, pendalaman produk pasif ETF berbasis ISSI dan JII dapat menjadi jangkar likuiditas yang stabil, terutama bagi investor syariah global.
Dalam konteks pasar syariah, reformasi ini selaras dengan prinsip keadilan (fairness) dan kejelasan (transparency) yang menjadi ruh keuangan Islam. Pasar yang dalam dan transparan adalah prasyarat maslahah ekonomi.
Badai awal 2026 seharusnya menjadi cermin, bukan momok. Jika reformasi berjalan konsisten, ISSI berpotensi menjadi indeks yang paling diuntungkan, karena perbaikan struktur akan mengangkat kualitas breadth pasar syariah. JII akan tetap menjadi etalase saham syariah unggulan yang menarik bagi investor global.
Dengan demikian, prospek saham syariah Indonesia tidak ditentukan oleh volatilitas jangka pendek, melainkan oleh keberanian melakukan pembenahan struktural. Sejarah pasar modal global menunjukkan bahwa krisis sering kali menjadi katalis reformasi paling efektif.
Menakar prospek saham syariah di tengah turbulensi pasar modal Indonesia menuntut sikap realistis namun optimistis. Realistis dalam membaca kelemahan struktural, optimistis dalam melihat arah reformasi. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, pasar saham syariah Indonesia bukan hanya akan pulih, tetapi juga naik kelas menjadi pasar yang lebih adil, dalam, dan berdaya saing global.