
Ussindonesia.co.id JAKARTA – PT OCBC Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah sektor saham yang akan bergeliat tahun ini, seperti sektor teknologi dan konsumer.
Direktur Utama OCBC Sekuritas Betty Goenawan menilai, saham-saham pada sektor teknologi dan konsumer berpotensi untuk menguat pada tahun ini. Pada sektor konsumer, stimulus yang digelontorkan pemerintah belakangan diprediksi bakal menguatkan kinerja sektor tersebut.
Melihat peluang tersebut, OCBC Sekuritas tengah menyiapkan empat perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Calon-calon emiten itu disebut berasal dari sektor logistik, teknologi, hingga FMCG.
: Volatilitas Temporer, OCBC Sekuritas Masih Pede IHSG Bisa Tembus 10.000
“Ini bukan yang big [cap] ya, jadi ini medium cap. Tapi semuanya itu di atas Rp250 miliar, terus kemudian yang akan [melantai] di kuartal I/2026 ini, perkiraan di bulan Maret,” katanya kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (26/1/2026).
OCBC Sekuritas juga masih memandang optimistis kinerja indeks harga saham gabungan sepanjang 2026. Di tengah volatilitas yang belakangan terjadi, kinerja indeks diperkirakan mampu menguat hingga 10.000 di tahun ini.
: : Ekspansi PLTS, Investasi Hijau Satu Terima Pembiayaan Rp113 Miliar dari OCBC
Betty memprediksi bahwa laju IHSG pada tahun ini akan banyak didorong oleh saham-saham yang tergabung dalam sektor komoditas, perbankan, hingga konsumer.
“Kami tetap optimistis [IHSG] tembus 10.000 di 2026. Mungkin sekarang ini agak [melaju di level] 8.000–9.000, tapi kami optimistis akan kuat sampai 10.000,” katanya.
: : Kisi-kisi IPO 2026 dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OCBC Sekuritas
Terhadap kinerja saham perbankan, rebalancing MSCI dinilai bakal menjadi salah satu dorongan bagi kinerja saham yang sepanjang 2026 ini tengah tertekan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya masih tertekan 6,50% YtD dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tertekan 4,51% YtD,
Sementara sektor komoditas, seperti pertambangan hingga emas, diprediksi akan terus menguat hingga 2026 sejalan dengan permintaan pasar terhadap produk tersebut.
Sementara sektor konsumer, kendati pelemahan daya beli tampak masih menjadi masalah bagi emiten-emiten tersebut, tetapi stimulus pemerintah yang belakangan digelontorkan diprediksi bakal mendorong kembali penguatan saham di sektor konsumer.
Terutama selepas rebalancing MSCI, penguatan terhadap pasar saham Tanah Air diprediksi akan terjadi. Kendati metodologi anyar MSCI dinilai berpotensi memberikan sentimen ke pasar, tetapi Indonesia dilihat sebagai salah satu emerging market yang memiliki daya tarik di ASEAN.
“[MSCI] berpotensi sedikit, katanya akan [membuat] outflow. Tapi saat ini kami masih lihat ada sedikit peluang untuk Indonesia karena dilihat dari negara ASEAN, pertumbuhan Indonesia masih lumayan positif,” tambahnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.