
PT Sun Life Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp 97,05 miliar pada kuartal I 2026, naik 104,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba bersih perusahaan asuransi jiwa ini seiring menguatnya distribusi perusahaan melalui kemitraan perbankan dan kanal keagenan.
Total pendapatan perseroan meningkat dari Rp 388,23 miliar menjadi Rp 505,76 miliar. Hal ini seiring pendapatan premi yang naik menjadi Rp 944,94 miliar, dari sebelumnya Rp 633,94 miliar.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan nasabah terhadap produk dan layanan Sun Life Indonesia.
“Kinerja ini mencerminkan kepercayaan yang terus tumbuh dan menjadi tanggung jawab Sun Life Indonesia untuk terus menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini” kata Albertus dalam dalam acara konferensi pers Shifa Signature, Jumat (9/5).
Ia mengatakan, kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan terus meningkat seiring naiknya risiko kesehatan dan biaya medis.
Menurut dia, inflasi biaya medis di Indonesia tercatat mencapai 19,8% pada 2025. Di saat yang sama, tren penyakit kritis mulai banyak menyerang usia produktif bahkan di bawah 40 tahun.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya penetrasi asuransi jiwa di Indonesia yang masih berada di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Hanya sekitar 6,6% populasi Indonesia yang tercatat memiliki asuransi jiwa.
Seiring dengan itu, Sun Life meluncurkan produk kesehatan baru bernama SHIFA Signature. Produk ini dirancang sebagai pelengkap perlindungan kesehatan keluarga, termasuk bagi nasabah yang telah memiliki perlindungan dari BPJS maupun asuransi kantor.
SHIFA Signature menyediakan manfaat rawat inap, pembedahan, rawat jalan terkait tindakan medis, layanan ambulans, vaksinasi tertentu, santunan meninggal dunia, hingga manfaat tambahan seperti telehealth, perawatan di rumah, pemeriksaan kesehatan untuk stroke dan kanker, serta perlindungan pengobatan tradisional tertentu sesuai ketentuan polis.
Nasabah dapat memilih tujuh wilayah perlindungan, mulai dari Indonesia hingga cakupan global. Produk ini menawarkan manfaat kesehatan tahunan hingga Rp 15 miliar dengan tambahan Limit Booster hingga Rp 35 miliar.
Albertus mengatakan produk ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
Produk tersebut dipasarkan melalui kanal distribusi keagenan Sun Life Indonesia serta kemitraan perbankan, termasuk melalui PT Bank CIMB Niaga Tbk, CIMB Niaga Syariah dan Bank Muamalat Indonesia.
Kinerja positif juga ditunjukkan unit usaha syariah. Sun Life Syariah membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 28,29 miliar, melesat 259,46% dibandingkan kuartal I 2025 sebesar Rp 7,87 miliar. Kontribusi neto unit usaha syariah tercatat naik menjadi Rp 83,77 miliar dari Rp 68,43 miliar.