
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Perencanaan keuangan untuk masa pensiun perlu dilakukan sejak dini. Diversifikasi investasi disebut dapat menjadi salah satu upaya mewujudkan kesiapan finansial di masa pensiun.
Founder & CEO, Lead Financial Trainer at QM Financial Ligwina Hananto mengatakan, kesiapan pensiun tidak hanya ditentukan oleh dana.
Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang.
KIM Indonesia Targetkan AUM Tumbuh 30% pada Tahun 2026
Karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.
Ligwina melihat banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal yakni penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik.
Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an.
Keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.
“Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari,” jelas Ligwina dalam acara Bank DBS, Senin (19/1/2026).
SBN Ritel Diproyeksi Tetap Jadi Pilihan Investasi pada Tahun 2026, Ini Alasannya
Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menekankan pentingnya diversifikasi investasi untuk merencanakan masa pensiun.
Diversifikasi investasi ini untuk mengantisipasi risiko yang timbul jika hanya berinvestasi dalam satu investasi tertentu dan mengalami kerugian.
“Saya ambil contoh kalau kita hanya menaruh di satu tempat misalnya di saham global tahun 2022, minusnya besar hampir 20%,” ungkap Djoko.
Djoko menyarankan strategi yang bisa dilakukan investor yakni strategi portofolio barbel. Yakni strategi dua hal yang dilakukan bersamaan.
Maksudnya, berinvestasi di aset yang berfokus pada pertumbuhan seperti saham. Di sisi lain juga berinvestasi pada aset yang memberikan pendapatan/income reguler seperti obligasi berdurasi pendek (1 tahun – 3 tahun).
“Diantara ini boleh ngga yang lain? Boleh. Biasanya ditaruh di tengah-tengah itu adalah emas,” ucap Djoko.
Secara umum, Djoko mengelompokkan instrumen investasi ked alam empat bagian.
Pertama, reksadana, investasi ini bisa dipilih oleh investor dengan tipe konservatif hingga agresif.
Saham Papan Akselerasi Ngebut, Begini Strategis Investasi Untuk Tahun 2026
Reksadana memungkinkan investor untuk mengakses portofolio yang dikelola oleh para ahli di berbagai kelas aset dan wilayah geografis. Mengurangi risiko investasi tunggal dan mendorong investasi yang disiplin dari waktu ke waktu.
Kedua, obligasi. Investasi ini menawarkan stabilitas modal dan aliran pendapatan yang dapat diprediksi, menjadikannya ideal untuk investor yang ingin meminimalkan risiko atau mencari inti portofolio.
Dapat juga digunakan dalam perencanaan likuiditas. Investasi ini bisa dipilih oleh investor konservatif hingga moderat.
Ketiga, produk terstruktur yakni produk yang dibuat secara khusus misalnya derivatif. Investasi ini disebut sebagai solusi siap pakai yang terkait dengan aset dasar (misalnya, saham, valuta asing, suku bunga), dengan struktur pembayaran yang disesuaikan.
Keempat, valuta asing (valas). Investasi ini memungkinkan investor untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan mata uang atau mengelola risiko nilai tukar.
Meningkatkan pengembalian portofolio melalui deposito valas terstruktur atau strategi nilai tukar yang terkait pasar. Dapat juga digunakan untuk lindung nilai atas kewajiban dalam mata uang asing.
Disiplin Investasi ala Presiden Direktur Mark Dynamics Ridwan Goh
“Selaraskan produk investasi dengan profil risiko dan tujuan finansial,” ucap Djoko.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2035 lebih dari 14% penduduk diperkirakan berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 20% atau sekitar 63 juta jiwa pada tahun 2045.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur penduduk yang signifikan seiring dengan menyusutnya bonus demografi.
Dalam konteks tersebut, kebutuhan akan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur yang memadai menjadi semakin penting untuk memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif.
Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia dapat terus berkontribusi secara optimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi.