
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Serangan Amerika Serikat terhadap pusat ekspor utama Iran di Pulau Kharg membuat harga minyak mentah melonjak dan kontrak berjangka (futures) saham AS melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Melansir Bloomberg, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 tergelincir sekitar 0,2% saat pembukaan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2%.
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, telah melonjak 40% sejak akhir Februari 2026. Hal ini memicu investor di seluruh dunia untuk menilai kembali risiko pasar seiring konflik yang kini memasuki minggu ketiga.
: Perang Iran vs AS-Israel Makin Panas Bikin Harga Minyak Mendidih dan Pasar Saham Tumbang
Adapun, saham-saham global telah merosot lebih dari 5% sejak perang terjadi, dengan pasar Asia jatuh paling dalam. Indeks S&P 500 telah mencatat penurunan selama tiga minggu berturut-turut dan kini berada 5% di bawah rekor tertinggi yang sempat dicapai pada Januari lalu.
Adapun, Pulau Kharg yang menjadi target serangan AS merupakan terminal yang menangani hampir seluruh ekspor minyak Iran. Pasar berjangka mengisyaratkan saham di Australia, Jepang, dan Hong Kong kemungkinan dibuka lebih rendah, sementara dolar sedikit melemah terhadap mata uang utama lainnya.
: : Usai Rontok 12%, Bursa Saham Korea Hari Ini Kembali Bangkit
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah menyerang target militer di Pulau Kharg. Dia mengancam bakal memperluas serangan tersebut ke infrastruktur energi jika Teheran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.
Serangan tersebut berisiko menambah tingkat volatilitas baru ke pasar energi yang sudah menghadapi fluktuasi minyak terbesar dalam beberapa dekade.
: : Eskalasi Serangan AS-Israel ke Iran, Pasar Saham UEA Tutup Dua Hari
Lonjakan harga minyak telah berdampak ke berbagai kelas aset, seperti mendorong imbal hasil (yield) Treasury lebih tinggi karena kekhawatiran inflasi, mengangkat nilai dolar, dan menekan ekuitas global.
Investment Strategist Global X ETFs Australia, Justin Lin menilai hal tersebut akan memicu lonjakan harga energi dalam waktu lama serta menaikkan risiko inflasi dan pertumbuhan secara signifikan.
“Pemulihan aliran energi hanya mungkin terjadi jika infrastruktur sebagian besar tetap utuh,” ujarnya.
Sementara itu, risiko inflasi kemungkinan akan menjadi fokus utama pasar pada pekan ini karena delapan dari sepuluh bank sentral utama dunia akan merilis keputusan mereka.
Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga untuk bulan kedua berturut-turut. Negara lainnya mungkin akan menahan suku bunga sembari menunggu kejelasan mengenai durasi konflik.