
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja reksadana saham syariah melesat di awal 2026. Sejumlah faktor makroekonomi hingga fundamental yang solid dinilai menjadi pendorong utama penguatan return produk investasi berbasis syariah tersebut.
Berdasarkan data Infovesta per 13 Februari 2026, indeks reksadana saham syariah mencetak return paling tinggi di antara jenis lainnya, yakni 26,7% secara tahunan (YoY). Kinerja ini melampaui reksadana campuran syariah yang membukukan return 17,8% YoY, reksadana pendapatan tetap syariah 6,9% YoY, serta reksadana pasar uang syariah 4,6% YoY.
Kepala Unit Pengelola Investasi Syariah (UPIS) PT Samuel Aset Manajemen Budi Santoso menilai, lonjakan kinerja reksa dana saham syariah tersebut ditopang kombinasi faktor makro dan fundamental pasar yang solid.
BEI Tetapkan SATU, SKBM, dan POLI Status UMA, Ini Penjelasannya
Sentimen pertama, terjadi rotasi sektor ke saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES). Menurut Budi, saham-saham tersebut sebelumnya cenderung undervalued dan kini mengalami apresiasi kuat seiring derasnya aliran dana asing (foreign inflow).
Kedua, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter baik dari The Fed maupun Bank Indonesia (BI) membuat instrumen berisiko seperti saham menjadi lebih menarik dibandingkan kelas aset lain. Kondisi ini turut menjelaskan lebarnya selisih return antara reksadana saham syariah dan reksadana pasar uang syariah pada periode ini.
Ketiga, rilis awal laporan keuangan emiten tahun buku 2025 yang solid, khususnya pada sektor penggerak ekonomi, mendorong optimisme pada indeks saham syariah seperti ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) dan JII (Jakarta Islamic Index).
Budi menambahkan, karakteristik screener syariah juga menjadi nilai tambah. Screener syariah secara alami menyeleksi emiten dengan tingkat leverage lebih sehat sehingga portofolio cenderung lebih resilien di tengah suku bunga tinggi.
Dari sisi kinerja internal, Budi menyebut produk reksadana saham syariah kelolaan Samuel Aset Manajemen juga mencatatkan return yang sangat kompetitif dibandingkan benchmark ISSI dan JII pada periode yang sama.
Ia menjelaskan, perseroan menerapkan strategi pengelolaan aktif yang prudent dan taktis pada underlying asset-nya. Kontributor utama berasal dari strategi overweight pada sejumlah sektor unggulan.
“Sektor konsumer dan ritel menjadi andalan karena memiliki daya tahan fundamental yang kuat dan bertumbuh seiring stabilitas daya beli masyarakat,” kata Budi Selasa (24/2/2026).
Saham Big Banks Beragam pada Penutupan Bursa 24 Februari 2026, BMRI Menguat
Selain itu, sektor telekomunikasi dan infrastruktur juga menjadi pilihan strategis karena menawarkan pertumbuhan pendapatan stabil dengan dividen menarik.
Sementara pada sektor energi dan material dasar, Samuel Aset Manajemen menerapkan pendekatan selektif dengan memilih emiten berfundamental solid dan valuasi menarik yang diuntungkan dinamika harga komoditas global, terutama nikel dan batu bara yang terkait rantai pasok kendaraan listrik dunia.
Ke depan, Samuel Aset Manajemen memandang prospek reksadana syariah sepanjang 2026 masih sangat menjanjikan. Stabilitas makroekonomi pasca-transisi pemerintahan, inflasi domestik yang terkendali, serta ruang penurunan suku bunga acuan dinilai akan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Secara struktural, pangsa pasar reksadana syariah di Indonesia yang masih berada di kisaran 10%–12% dari total industri juga membuka ruang pertumbuhan yang lebar, seiring meningkatnya literasi keuangan syariah dan dukungan regulasi.
Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Samuel Aset Manajemen memperkirakan reksadana saham syariah berpotensi mencetak return 10%-15%. Adapun reksadana campuran syariah diproyeksikan 8%-11%, reksadana pendapatan tetap syariah (sukuk) 5%-9%, serta reksadana pasar uang syariah 3,5%-4,5%.