Rupiah diproyeksi bergerak fluktuatif, simak rentang pergerakan hari ini Rabu (15/4)

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Kondisi geopolitik yang memanas ini turut memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13% ke level Rp 17.127 per dolar AS pada Selasa (14/4/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat berada di posisi Rp 17.135 per dolar AS.

Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, ketidakpastian yang dipicu oleh dinamika konflik tersebut membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Rupiah Melemah ke Rp 17.127 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik Timur Tengah Menguat

Ia juga menyoroti sikap sejumlah negara sekutu NATO, seperti Inggris dan Prancis, yang memilih menahan diri untuk tidak terlibat dalam blokade serta mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pasokan energi global.

“Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor di tengah apa yang mereka gambarkan sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global,” ujar Ibrahim pada Selasa (14/4/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan besarnya kekhawatiran lembaga internasional terhadap potensi gangguan pasokan energi yang dapat memperburuk volatilitas pasar global.

Pelaku Usaha Bersikap Wait and See

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sikap wait and see pelaku usaha di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian dunia usaha dalam mengambil keputusan ekspansi.

Pelaku usaha saat ini cenderung menunda ekspansi besar yang membutuhkan modal tinggi, serta lebih fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Arah investasi pun mulai bergeser ke sektor-sektor yang dianggap lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital.

Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan. Kombinasi faktor tersebut membuat perhitungan risiko dan imbal hasil investasi menjadi semakin ketat.

Prospek Ekonomi Masih Tertahan

Dari sisi kinerja bisnis, kondisi penjualan diperkirakan masih cenderung stagnan dalam jangka pendek. Namun, terdapat peluang perbaikan pada semester II-2026, dengan catatan tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global.

IHSG Berpotensi Menguat, Intip Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas Rabu (15/4)

Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, meskipun daya beli masyarakat perlu terus dijaga agar tetap stabil di tengah tekanan eksternal.

Untuk mendorong ekspansi, pelaku usaha menekankan pentingnya kepastian dan stabilitas kebijakan. Hal ini mencakup konsistensi regulasi, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Selain itu, percepatan belanja pemerintah serta deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk meningkatkan daya saing nasional dan memperkuat iklim usaha.

Proyeksi Rupiah

Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (15/3/2026) akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.120 hingga Rp 17.170 per dolar AS, seiring masih kuatnya tekanan eksternal dan dinamika geopolitik global yang belum mereda.