
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks Bisnis-27 ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (19/2/2026). Meskipun begitu, sejumlah saham ternama seperti BUMI, ANTM, hingga INKP masih tercatat bertenaga pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia itu ditutup melemah pada level 540,95 atau terkoreksi 0,88%. Dari 27 konstituen, sebanyak 11 saham menguat, 13 melemah, dan 3 saham stagnan.
Penguatan harga saham dipimpin oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang mampu naik 5,63% ke Rp300, diikuti saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang naik 4,44% ke Rp4.230, dan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) yang naik 4,30% ke Rp10.300.
Selain itu, penguatan juga dialami oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang naik 3,31% ke Rp2.030, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) naik 3,09% ke Rp1.500, dan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) naik 2,22% ke Rp2.300 per saham.
Sebaliknya, kinerja lesu ditampilkan antara lain oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang terkoreksi 3,79% ke Rp5.075, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melemah 3,13% ke Rp2.480, hingga saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) melemah 2,62% ke Rp2.230.
: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 19 Februari 2026
Pelemahan juga dialami oleh PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang terkoreksi 2,33% ke Rp2.100, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 1,57% ke Rp3.770, dan saham PT Astra International Tbk. (ASII) melemah 1,49% ke Rp6.600.
Tiga saham yang bergerak stagnan antara lain PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF).
Sebelumnya, IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, menguji level resistance 8.360, seiring sentimen positif dari bursa global dan ekspektasi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Tim riset Sinarmas Sekuritas mengatakan secara teknikal level support terdekat adalah pada level 8.227-8.170 dengan dynamic support diharapkan mampu menopang IHSG.
“Pada perdagangan Kamis [19/2/2026], IHSG berpeluang mencoba resistance 8.360 dan next resistance 8.408,” tulis riset tersebut, Kamis (19/2/2026).
: Jadi Bos Humpuss (HUMI), Ari Askhara Mundur dari Kursi Dirut GTSI
Pelaku pasar masih mencerna risalah FOMC The Fed yang menunjukkan pandangan beragam. Sejumlah pejabat bank sentral AS tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan, tetapi tetap bergantung pada data inflasi dan tenaga kerja.
Di sisi lain, sebagian pejabat lainnya masih mempertimbangkan opsi pemangkasan suku bunga apabila tekanan inflasi mereda. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ini membuat investor global cenderung selektif, tetapi sentimen risk-on tetap terlihat dalam perdagangan terakhir.
Dari Asia, sentimen positif datang dari Jepang setelah defisit neraca dagang Januari 2026 menyusut signifikan menjadi 1,15 triliun yen dari 2,74 triliun yen pada periode yang sama tahun lalu.
Dari domestik, perhatian tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang akan menentukan arah suku bunga acuan. Keputusan ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal asing di tengah dinamika global.
Sementara itu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal IV/2025 tercatat naik sekitar US$4,1 miliar menjadi US$431,7 miliar, didorong peningkatan utang sektor publik. Kenaikan ULN tersebut masih dipantau pasar untuk melihat dampaknya terhadap stabilitas eksternal.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.