Investasi barang mewah menarik, simak saran perencana keuangan

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Firma konsultan global Kearny memproyeksikan industri barang mewah global memasuki fase transisi pada 2026 dengan laju pertumbuhan yang mulai melambat.

Kondisi ini turut memengaruhi dinamika pasar barang koleksi, yang kini semakin dilirik sebagai instrumen investasi alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi.

Seiring perlambatan tersebut, sebagian investor mulai memanfaatkan barang mewah sebagai penyimpan nilai. 

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menilai potensi imbal hasil dari barang koleksi bisa cukup tinggi, selama investor mampu memilih aset yang tepat dan memiliki pasar yang jelas.

Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara

“Barang mewah punya komunitas yang menghidupkan ekosistemnya, sehingga terbentuk pasar dan nilai yang mendorong harga,” ujar Eko, Jumat (17/4/2026).

Meski demikian, Eko mengingatkan bahwa risiko investasi di sektor ini juga besar. Kesalahan dalam memilih barang koleksi dapat membuat nilainya anjlok, bahkan mendekati nol. 

Ia menegaskan bahwa karakter investasi barang koleksi berbeda dengan instrumen pasar modal seperti indeks.

Menurutnya, barang koleksi tidak memiliki acuan nilai yang terstandarisasi maupun jangka waktu kepemilikan yang pasti. 

Investor umumnya menyimpan aset tersebut selama masih memberikan nilai kepuasan, sebelum akhirnya dilepas ketika harga dianggap telah mencapai titik optimal.

Outlook 2026 Moderat, Kolektor Mulai Tahan Belanja Barang Mewah

Pada fase tersebut, barang biasanya dijual kembali ke pasar, dengan pembeli berikutnya bersedia membayar lebih tinggi demi memperoleh nilai yang sama.

Dari sisi strategi, Eko menyarankan agar porsi investasi pada barang mewah tidak mendominasi portofolio.

Ia menilai alokasi ideal sebaiknya dibatasi maksimal 50% dari total aset guna menjaga keseimbangan risiko.

Selain itu, investor juga disarankan bertransaksi dalam ekosistem komunitas yang jelas untuk menghindari risiko peredaran barang palsu.

Memasuki kuartal II-2026, transaksi barang mewah diperkirakan tetap berlangsung meskipun pasar tengah melambat. 

Pasar Barang Mewah Stagnan, Kolektor Kian Selektif Berburu Nilai

Namun, tekanan likuiditas mendorong sebagian kolektor untuk melepas asetnya sebagai langkah proteksi di tengah ketidakpastian ekonomi.