Target harga saham MEDC & ENRG terbaru saat konflik AS-Venezuela memanas

Ussindonesia.co.id , JAKARTA –  Eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela memantik harga minyak global. Venezuela sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari cadangan minyak dunia.

Tepat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2025), harga minyak Brent pada perdagangan Senin (5/1/2026) berbalik menguat 0,21% ke US$60,88 per barel setelah terkoreksi 1,2%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,09% ke US$57,37 per barel.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai kenaikan harga minyak global bagi emiten hulu migas seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) akan memberikan dampak positif dalam jangka pendek.

: Sektor Saham Terdampak Konflik AS–Venezuela, dari Energi hingga Emas

“Kenaikan harga minyak bisa langsung mendorong average selling price di kuartal I/2026. Tapi hati-hati, dengan klaim AS yang mau mengelola minyak Venezuela, kalau AS sukses mengambil alih dan mendorong produksi Venezuela, suplai global akan meningkat dan harga bisa turun lagi,” kata Wafi kepada Bisnis, Senin (5/1/2025).

Dari sisi persepsi investor, Wafi melihat adanya euforia pasar di tengah kenaikan harga minyak global. Pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026), harga saham MEDC menguat 2,41% ke Rp1.485, sementara ENRG naik 3,35% ke Rp1.695.

: : Purbaya Heran AS Serang Venezuela: PBB Lemah Sekarang

Wafi menuturkan, strategi yang tepat untuk situasi saat ini adalah melalukan short term trading tanpa perlu hold jangka panjang karena tren makro minyak masih over suplai.

Melansir Bloomberg Terminal, 19 dari 10 analis (95%) merekomendasikan buy untuk MEDC dengan target harga Rp1.701,88, mencerminkan potensial return 14,6% dari harga Rp1.485. Salah satu yang merekomendasikan buy adalah analis MNC Sekuritas, Christian Sitorus yang menyematkan target harga Rp1.950.

: : Airlangga Pastikan Aset RI dan Pertamina di Venezuela Masih Aman

Dalam riset yang terbit 17 Desember 2025, Christian menjelaskan bahwa secara makro industri minyak dan gas global saat ini memasuki fase penyeimbangan ulang setelah periode volatilitas berkepanjangan yang dipicu konflik geopolitik, restrukturisasi sisi pasokan, serta percepatan investasi energi bersih.

Menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3% pada 2026 yang dipimpin AS (2,0%), India (6,4%) dan China (4,8%) akan menopang permintaan energi meski risiko volatilitas perdagangan dan pasar tetap tinggi.

Ketika ada potensi harga minyak melambung menyusul perkembangan konflik AS-Venezuela, Christian mengatakan bahwa OPEC+ yang akan mempertahankan pemangkasan produksi sebesar 3,24 mbpd hingga kuartal I/2026 akan tetap menekan harga minyak dunia.

“Produksi global diperkirakan naik sekitar 3,1 mbpd pada 2025 dan 2,5 mbpd pada 2026, sementara pertumbuhan permintaan hanya 700–770 kbpd per tahun. Surplus yang dihasilkan serta akumulasi persediaan meningkatkan potensi tekanan harga yang berlanjut,” uajrnya.

Sementara itu, sebanyak 5 analis (100%) merekomendasikan buy ENRG dengan target harga Rp1.906, mencerminkan potensial return 12,2% dari harga Rp1.700. Salah satu yang merekomendasikan buy adalah Senior Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukaro Alatas yang menyematkan target harga Rp1.720 untuk ENRG.

Dalam riset yang terbit 17 Desember 2025, Sukarno mengatakan ENRG mengalokasikan capital expenditure (capex) US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun sebagai bagian dari rencana investasi US$1,4 miliar dalam kurun 2025-2035 yang difokuskan pada eksplorasi, pengembangan dan pemeliharaan untuk menjaga keberlanjutan produksi. ENRG sendiri menargetkan pertumbuhan produksi 10% YoY pada 2026 dan berambisi melipatgandakannya sampai 100 mboepd pada 2030.

Salah satu pertimbangan utama rekomendasi Kiwoom Sekuritas atas ENRG adalah bauran produksi perseroan yang mendukung, di mana kenaikan volume minyak dan perbaikan harga gas mengkompensasi dampak penurunan harga minyak dan mengecilnya volume produksi gas.

“Risiko penurunan [rating] meliputi transisi energi, ketidakpastian regulasi, fluktuasi harga komoditas, persaingan dan perkembangan teknologi,” kata Sukarno.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.