Jelang RDG BI, IHSG diprediksi lanjutkan reli ke 8.400

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (19/2/2026) dengan target uji resistance di kisaran 8.350–8.400, seiring meningkatnya optimisme investor domestik.

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai perhatian pasar saat ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diumumkan hari ini.

Konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan di level 4,75%, dengan Deposit Facility Rate di 3,75% dan Lending Facility Rate di 5,50%.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 8.350-8.400,” tulis tim riset, Kamis (19/2/2026).

Selain keputusan suku bunga, investor juga menunggu rilis data pertumbuhan kredit Januari 2026 yang diproyeksikan stabil di kisaran 9,6% secara tahunan (YoY). Stabilitas kredit dinilai menjadi indikator penting bagi prospek sektor perbankan sekaligus daya tahan konsumsi domestik.

Dari eksternal, sentimen global dipengaruhi respons pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila inflasi belum terkendali.

: : IHSG Diproyeksi Menguat Jelang Pengumuman RDG BI, Cermati Saham MEDC, ADMR, EMTK

Risalah tersebut menunjukkan hampir seluruh peserta FOMC sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada akhir Januari. Meski demikian, sebagian pejabat masih membuka opsi pengetatan lanjutan jika inflasi bertahan di atas target.

Di sisi lain, data inflasi konsumen (CPI) Januari yang lebih rendah dari perkiraan memberi ruang optimisme terbatas. Investor kini menanti rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Jumat mendatang sebagai indikator utama arah inflasi AS.

: : Proyeksi IHSG 2026 di Rentang 9.000–10.500, Analis Ungkap Penentu Arah Indeks

Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan harga komoditas, serta sikap hati-hati bank sentral AS menandakan volatilitas global berpotensi meningkat dalam jangka pendek. Pasar pun menunggu kepastian apakah kebijakan moneter global akan tetap ketat lebih lama atau mulai melonggar pada paruh kedua 2026.

Dalam kondisi tersebut, Phintraco menilai sejumlah saham yang patut dicermati pelaku pasar antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), serta PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB).

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.