
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar kripto kembali berada dalam tekanan seiring meningkatnya aksi jual investor institusi dan memburuknya sentimen global terhadap aset berisiko.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (28/5) pukul 14.10 WIB, harga Bitcoin (BTC) melemah 3,44% dalam sehari menjadi US$ 73.061 dan turun 5,75% dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum (ETH) terkoreksi 4,41% ke level US$ 1.982 dan turun 6,78% secara mingguan.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai tekanan terhadap Bitcoin terutama dipicu oleh arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS). Menurutnya, aksi jual institusional menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan harga kripto dalam beberapa hari terakhir.
“Tekanan terbesar berasal dari penjualan institusional, termasuk outflow besar dari ETF Bitcoin spot. Hal ini menunjukkan minat institusi sedang melemah sehingga tekanan jual terhadap Bitcoin meningkat,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Selasa (26/5).
Investasi Syariah Makin Mudah Lewat Super App BRImo dari BRI dan Syailendra Capital
Selain faktor ETF, sentimen pasar juga dibayangi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield yang membuat aset non-yielding seperti Bitcoin menjadi kurang menarik. Di sisi lain, indeks Fear & Greed yang masih berada di area fear mencerminkan pelaku pasar cenderung menahan risiko.
Fyqieh menambahkan, penurunan open interest di pasar derivatif juga mengindikasikan terjadinya deleveraging atau pengurangan posisi leverage yang dapat memperbesar tekanan turun di pasar kripto.
Menurut dia, pelemahan Ethereum masih bergerak searah dengan Bitcoin dan belum ditopang katalis spesifik dari jaringan Ethereum. Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menjadi acuan kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Untuk kuartal III-2026, Fyqieh memperkirakan pergerakan Bitcoin dan Ethereum masih akan dibayangi volatilitas tinggi akibat kombinasi sentimen risk-off global, arah suku bunga The Fed, serta arus dana institusional ke ETF kripto.
Dalam skenario konsolidasi, Bitcoin diproyeksikan bergerak di kisaran US$ 76.000 hingga US$ 80.000 pada kuartal III-2026. Sementara Ethereum diperkirakan berada dalam rentang US$ 1.900 hingga US$ 2.200.
Menurut Fyqieh, peluang penguatan tetap terbuka apabila tekanan inflasi AS mulai mereda, ekspektasi pemangkasan suku bunga meningkat, dan arus dana kembali masuk ke aset berisiko.
Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, ia menyarankan investor menggunakan strategi bertahap dan defensif, termasuk melalui metode dollar cost averaging (DCA) untuk mengurangi risiko masuk di harga yang kurang ideal.
Investor juga disarankan membatasi porsi investasi kripto sesuai profil risiko dan mengutamakan aset dengan likuiditas besar seperti Bitcoin dan Ethereum dibandingkan altcoin berisiko tinggi.
Selain itu, investor perlu mencermati sejumlah faktor utama seperti arus dana ETF Bitcoin, arah suku bunga The Fed, inflasi AS, pergerakan Treasury yield, hingga kondisi sentimen pasar dan aktivitas derivatif.
“Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren media sosial atau spekulasi jangka pendek, tetapi didukung riset fundamental dan manajemen risiko yang matang,” tutup Fyqieh.
Rupiah Masih Tertekan, Sentimen Domestik Jadi Beban Utama