
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bank Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan estimasi IMF pada Januari 2026, yang mematok laju produk domestik bruto (PDB) RI di angka 5,1% pada tahun ini.
Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026, IMF menjelaskan pemangkasan proyeksi pertumbuhan Indonesia ini sejalan dengan tren perlambatan ekonomi secara global. Disebutkan, ekonomi global terancam akibat pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026.
Adapun setelah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,1 basis poin, IMF juga memproyeksikan inflasi akan mencapai 3% pada 2026 atau meningkatkan tajam dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 1,9%.
: Temui Bos IMF, Purbaya Sebut RI Tak Butuh Dana Bantuan Berkat SAL Rp420 Triliun
Sementara itu, neraca transaksi berjalan diramal mencapai -1,1% dari PDB atau melebar apabila dibandingkan realisasi pada 2025 sebesar -0,1% dari PDB. Sementara pengangguran diperkirakan mencapai 4,9% dari populasi atau tidak ada perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara secara global, IMF menetapkan skenario dasar pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat menjadi 3,1% pada 2026. Proyeksi tersebut dipangkas ke bawah sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan lembaga tersebut pada pembaruan WEO Januari 2026 (3,3%).
Lembaga yang bermarkas di Washington DC itu menjelaskan perlambatan laju pertumbuhan ini tak terlepas akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Pasalnya, tensi geopolitik tersebut telah memunculkan tekanan balik yang signifikan terhadap pasar komoditas, ekspektasi inflasi, dan kondisi keuangan global.
Padahal, jika konflik tersebut tidak meletus maka proyeksi pertumbuhan global sejatinya akan direvisi ke atas sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,4%.
“Inflasi umum global diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dan menurun ke 3,7% pada 2027, yang menandai revisi ke atas untuk kedua tahun tersebut,” tulis IMF dalam ringkasan eksekutif laporannya, Selasa (14/4/2026).
: : Pertumbuhan Global Dihantui Perang Timur Tengah, IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi 2026
IMF turut melakukan perhitungan untuk skenario yang lebih ekstrem, di mana terjadi kerusakan parah pada infrastruktur energi di wilayah konflik.
Dalam skenario terburuk ini, laju ekspansi ekonomi global berisiko anjlok hingga hanya berkisar di level 2% pada 2026, sementara inflasi umum akan menembus level di atas 6% pada 2027.
Dampak dari krisis geopolitik terbaru ini diyakini tidak akan merata antarkawasan. IMF menyoroti bahwa kerugian yang dialami oleh negara-negara di wilayah konflik serta perekonomian rentan seperti negara berkembang atau pengimpor komoditas akan jauh lebih terasa.
Untuk menavigasi lanskap ekonomi dan geopolitik yang berubah drastis ini, IMF mendesak otoritas pembuat kebijakan agar segera mengimplementasikan paket kebijakan yang komprehensif.
Prioritas utama yaitu menjaga stabilitas harga dan keuangan, mengamankan keberlanjutan fiskal, serta mengeksekusi reformasi struktural tanpa penundaan. Otoritas moneter di seluruh dunia diimbau untuk tetap waspada dan siap bertindak secara tegas sesuai dengan mandat mereka.
Bank sentral harus secara ketat menjaga agar guncangan pasokan yang berkepanjangan ini tidak menggoyahkan jangkar ekspektasi inflasi pasar.
Dari sisi kebijakan fiskal, apabila pemerintah perlu turun tangan untuk melindungi kelompok rentan dari guncangan eksternal yang ekstrem, dukungan tersebut harus bersifat tepat sasaran, tepat waktu, dan sementara. Pembiayaannya pun didorong berasal dari alokasi anggaran saat ini melalui reprioritisasi belanja negara.