Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah ke Rp16.945 per dolar AS pada awal 2026
- Arus keluar modal asing capai 1,6 miliar dolar AS
- Kebutuhan valas korporasi dan sentimen pencalonan Deputi Gubernur BI menekan rupiah
- BI tegaskan independensi dan rupiah mulai menunjukkan stabilisasi
Ussindonesia.co.id – Nilai tukar rupiah membuka awal 2026 dengan tekanan signifikan.
Mata uang Garuda tercatat mendekati level psikologis Rp 17.000 per dollar AS, sebuah posisi yang memicu kewaspadaan pelaku pasar.
Bank Indonesia (BI) mencatat, pada Kamis (20/1/2026) rupiah berada di level Rp 16.945 per dollar AS, melemah 1,53 persen secara point to point dibandingkan akhir Desember 2025.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pelemahan ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan akibat pertemuan berbagai faktor global dan domestik yang saling menekan.
Kombinasi Tekanan Global dan Domestik Menggerus Rupiah
Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi bayang-bayang utama pergerakan nilai tukar.
Arus modal global cenderung mengalir kembali ke negara maju, terutama Amerika Serikat, sehingga meninggalkan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Perkembangan nilai tukar ini memang dipengaruhi baik oleh faktor-faktor global maupun faktor-faktor domestik,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026), dilansir SURYA.co.id dari Kompas.com.
Bank Indonesia mencatat hingga 19 Januari 2026, arus keluar modal asing dari instrumen portofolio mencapai 1,6 miliar dollar AS, seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Kebutuhan Valas Korporasi Nasional Ikut Menambah Beban
Di sisi domestik, permintaan valuta asing dalam jumlah besar turut menekan pergerakan rupiah.
Sejumlah korporasi strategis nasional, seperti PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, tercatat memiliki kebutuhan valas yang signifikan pada periode tersebut.
Kondisi ini mempersempit ruang penguatan rupiah, terutama ketika tekanan eksternal masih berlangsung dan sentimen global belum sepenuhnya pulih.
Sentimen Pencalonan Deputi Gubernur BI
Perry juga secara terbuka mengakui adanya faktor non-ekonomi yang turut memengaruhi persepsi pasar.
Sentimen terhadap kondisi fiskal nasional serta proses pencalonan Deputi Gubernur BI dinilai memberi tekanan tambahan.
Nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, yang juga merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, menjadi sorotan sebagian pelaku pasar dan memicu persepsi kehati-hatian.
“Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,” kata Perry.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dinamika tersebut tidak akan mengganggu independensi bank sentral.
Perry memastikan seluruh kebijakan moneter Bank Indonesia tetap dijalankan secara profesional dan berlandaskan tata kelola yang kuat.
“Proses pengambilan keputusan kebijakan di Bank Indonesia tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat,” tegasnya.
Di tengah tekanan, rupiah mulai menunjukkan sinyal stabilisasi.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 16.936 per dollar AS, menguat 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.956 per dollar AS.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui bauran kebijakan moneter, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi, agar pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Uji Kelayakan
Sementara itu, Komisi XI DPR RI dijadwalkan akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terhadap tiga calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Jumat (23/1/2026).
Agenda ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kursi pimpinan di bank sentral tersebut.
Tiga nama besar yang akan bersaing memperebutkan posisi tersebut adalah Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, Dicky Kartikoyono, dan Solikin M. Juhro.
Thomas Djiwandono disebut-sebut sebagai kandidat paling kuat dalam bursa pemilihan kali ini.
Selain rekam jejak profesionalnya, latar belakang Thomas yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto turut menjadi sorotan.
“Pengusulan nama Pak Thomas itu adalah sebagai respon Gubernur Bank Indonesia atas surat pengunduran diri Pak Yuda Agung,” kata Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun.
Proses fit and proper test esok hari akan menjadi penentu arah kebijakan moneter dan stabilitas keuangan nasional melalui pemilihan figur yang dinilai paling kompeten mendampingi Gubernur BI.
>>>Update berita terkini di Googlenews Surya.co.id