
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian tertekan seiring dengan munculnya peringatan dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, terkait profil kredit Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka turun 0,77% atau 63,70 poin ke level 8.171,56 hingga pukul 09.02 WIB, Jumat (27/2/2026).
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah bereaksi terhadap catatan S&P yang menyoroti peningkatan risiko downside pada lintasan fiskal pemerintah.
Meskipun S&P masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek atau outlook stabil, komentar terbaru dari lembaga tersebut menunjukkan kekhawatiran yang meluas.
Adapun peringatan dini dari S&P menyusul langkah Moody’s Ratings Inc. pada awal Februari yang telah memangkas outlook Indonesia menjadi negatif.
“Meskipun S&P belum mengubah prospek seperti Moody’s, ada sinyal kewaspadaan yang perlu diperhatikan pemerintah dan pelaku pasar,” ujar Martha melalui saluran YouTube Mirae Asset, Jumat (27/2/2026).
: : Great Eastern (GEGI) Tetap Masuk SBN Walau Rating Utang RI Turun
Menurutnya, peringatan itu berkaitan dengan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang berpotensi melampaui ambang batas 15%. Selama bertahun-tahun, rasio tersebut berada di bawah 15%. Namun, sejak pandemi Covid-19 angkanya konsisten berada di atas level tersebut.
“Kondisi itu menjadi perhatian karena kenaikan rasio bunga utang di atas 15% dinilai dapat meningkatkan risiko penurunan peringkat kredit,” ujar Martha.
: : IHSG Turun ke 8.171 Terseret Koreksi Saham DSSA, BREN, hingga TLKM
Selain itu, defisit fiskal tahun lalu yang berada di kisaran 2,9% atau mendekati batas 3% sesuai undang-undang turut mencuri perhatian lembaga pemeringkat.
Di sisi lain, laporan Bloomberg mengonfirmasi bahwa tekanan fiskal yang meningkat, khususnya biaya layanan utang yang lebih tinggi telah meningkatkan risiko downside bagi profil kredit berdaulat Indonesia.
Analis S&P Global Ratings, Rain Yin, dalam sebuah webinar baru-baru ini menyatakan bahwa pembayaran bunga kemungkinan besar telah melampaui ambang batas utama 15% dari pendapatan pemerintah tahun lalu.
Jika rasio ini tetap berada di atas ambang batas, S&P memperingatkan hal itu dapat memicu pandangan yang lebih negatif terhadap rating Indonesia.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.