
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuka peluang bagi sejumlah sektor saham untuk mencetak cuan. Sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas) hingga batu bara, menjadi yang paling diuntungkan seiring lonjakan harga komoditas global dan potensi gangguan pasokan energi.
Direktur Corporate Ratings Fitch, Felita, mengungkapkan bahwa sektor minyak dan gas, khususnya di sisi hulu atau upstream, menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari situasi ini. Kenaikan harga minyak mentah dinilai mampu menutupi peningkatan biaya operasional, seperti energi dan logistik.
“Selain itu, sektor batu bara termal juga berpotensi diuntungkan,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
: Ambisi Emiten Migas MEDC, PGEO, hingga BRMS Kerek Rekor Produksi 2026
Menurutnya sektor batu bara termal juga ikut terdongkrak dengan potensi peralihan sumber energi dari gas ke batu bara di sejumlah negara Asia, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, akibat mahalnya harga gas.
Sementara itu, dari sisi pasar keuangan, dinamika yang terjadi menunjukkan reaksi yang beragam. Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menjelaskan bahwa konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak sekaligus memicu aksi jual di berbagai kelas aset.
: : Taktik Bernas Emiten Migas
“Hampir semua aset mengalami tekanan, bahkan emas yang sebelumnya menguat juga sempat terkoreksi,” jelasnya.
Meski demikian, investor mulai mengalihkan fokus ke sektor yang diuntungkan dari kondisi ini. Saham-saham energi, khususnya minyak dan gas, serta perusahaan tambang batu bara, mulai dilirik seiring prospek keuntungan yang meningkat.
: : Deretan Sektor Saham Potensial Cuan Usai Suku Bunga BI Ditahan
Selain itu, batu bara juga dinilai menarik karena berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap penguatan dolar AS.
Ke depan, minat terhadap sektor komoditas diperkirakan akan semakin meningkat. Hal ini seiring munculnya risiko stagflasi global kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tinggi, yang dipicu oleh lonjakan belanja fiskal dan rasio utang di banyak negara.
“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi seluruh sektor komoditas berpotensi menarik minat investor,” tambahnya.
Menurutnya dalam konteks ini, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis. Sebagai negara produsen komoditas, Indonesia berpeluang besar memanfaatkan momentum kenaikan harga global untuk mendorong kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.