
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Investor kawakan di pasar modal Indonesia, Lo Kheng Hong menyampaikan optimismenya terhadap outlook pasar saham di Tahun Kuda Api 2026 seiring dengan era suku bunga rendah.
Menatap tahun ini, Lo mengaku tetap optimistis terhadap pasar saham. Salah satu alasan terbesarnya adalah suku bunga deposito yang kini relatif rendah yakni dipatok sekitar 4%.
Dengan imbal hasil simpanan yang terbatas, dia menilai dana masyarakat berpotensi mengalir ke pasar modal dan sektor riil, mendorong kinerja perusahaan dan harga saham.
: Pesona Saham Telekomunikasi pada Tahun Kuda Api 2026
“Soal outlook sebagai investor saham, optimis. Karena apa? Karena suku bunga bank depositnya murah, cuma 4%. Jadi saya optimis uang-uang itu bisa lari di pasar modal,” ujarnya dalam learning day BRI Dana Pensiun, Kamis (19/2/2026).
Dia menegaskan satu hal penting bagi pelaku pasar, pergerakan investor asing masih menjadi penentu utama arah harga saham di Indonesia. Dalam pandangannya, derasnya aksi jual atau beli asing bisa membuat harga saham bergerak ekstrem bahkan tanpa perubahan fundamental perusahaan.
: : Kiwoom Sekuritas Jagokan BMRI hingga JPFA pada Tahun Kuda Api 2026, Simak Rekomendasinya
Dia juga mencermati kondisi tersebut yang kini terjadi terhadap saham sejumlah perbankan yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan perbankan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN lainnya.
“Jadi investor asing berpengaruhnya sangat besar,” lanjutnya.
: : Jelang Imlek 2026: Cek Sektor Saham Risiko Boncos di Tahun Kuda Api
Sejauh ini dia masih merekomendasikan sektor-sektor saham yang menjadi favoritnya, Pertama perbankan, terutama perbankan yang memiliki dividen yield tinggi.
Sektor kedua adalah batu bara. Strateginya sederhana namun disiplin yakni beli saat harga komoditas rendah, jual saat tinggi.
“Kalau batubara lagi rendah, saya beli terus. Nanti kalau harga tinggi, ya saya jual. Karena siklusnya begitu, tinggi akan turun lagi, rendah akan naik lagi,” ujarnya.
Namun demikian, dia mengaku kerap mengambil posisi dan strategi yang berseberangan dengan arus mayoritas investor ritel. Dia menyoroti fenomena saham dengan price to earnings ratio (PER) sangat tinggi, bahkan mencapai 159 kali yang justru ramai diburu investor.
“Saya kaget lihat jumlah pemegang saham naik yang PER-nya 159 kali. Saya malah beli tambang batubara yang PER-nya 5 kali, masuk diam-diam” katanya.
Sektor ketiga adalah perkebunan kelapa sawit. Lo bahkan menyebut sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib.
Menurutnya, sawit memiliki keunggulan geografis karena hanya bisa tumbuh optimal di wilayah tertentu seperti Indonesia dan Malaysia. Sementara negara dengan populasi raksasa seperti China dan India tetap membutuhkan pasokan minyak nabati dari Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.