
Ussindonesia.co.id Pasar modal Indonesia pada penutupan perdagangan 10 Februari 2026 mencatatkan total perputaran nilai mencapai Rp 18,65 triliun.
Dari angka tersebut, pasar reguler mendominasi dengan kontribusi Rp 16,98 triliun, sementara pasar negosiasi mencatatkan transaksi strategis senilai Rp 1,67 triliun.
Kondisi ini mencerminkan psikologi pasar yang cukup optimis namun selektif, di mana institusi besar mulai melakukan rebalancing portofolio di tengah volatilitas global.
Secara keseluruhan, pasar mengalami tekanan jual asing dengan estimasi total net sell mencapai Rp 885,5 miliar (akumulasi dari seluruh emiten).
Skala outflow ini menunjukkan sentimen risiko (risk-off) yang masif dari investor global atau rotasi portofolio yang cepat.
Penjualan sebesar ini membutuhkan daya serap (absorption power) yang kuat dari investor domestik/institusi untuk mencegah koreksi indeks yang dalam.
Yuk, kita bedah anatomi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Rabu (11/2/2026), Simak Rekomendasi Saham Berikut
Dominasi perbankan, rebut kendali closing
Di kelas Big Caps, Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi bintang utama. Dengan skor Closing Strength Index (CSI) sempurna di level 1, BMRI menunjukkan akumulasi masif di akhir sesi.
Jejak kaki asing terlihat sangat jelas dengan foreign net flow positif sebesar 93,4 juta saham. BMRI sukses menjadi benteng domestik yang menahan laju penurunan indeks.
Sebaliknya, sang raksasa Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tampak mengalami tekanan distribusi dengan foreign net flow negatif mencapai 43,8 juta saham, ditutup melemah di level Rp 7.475 per saham.
Meskipun begitu, Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) muncul sebagai penyeimbang dengan arus masuk asing sebesar 36,2 juta saham, menunjukkan adanya rotasi sektor dari perbankan ke telekomunikasi.
Sementara itu, Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang memegang tahta Market Cap terbesar (Rp 1.070 triliun) harus rela terkoreksi tipis 50 poin.
Dengan CSI 0,5 BREN terlihat berada dalam fase konsolidasi di mana kekuatan beli dan jual cukup berimbang di area penutupan.
Kinerja ACES Bakal Terdorong Sentimen Ramadan, Cek Rekomendasi Analis
Perburuan pemodal gede di Mid-Small Caps
Pada segmen Mid-Small Cap, terdeteksi aktivitas “Smart Money” yang cukup intens.
Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) mencuri perhatian dengan ticket size atau rata-rata nilai transaksi per tiket mencapai Rp 93 juta, jauh di atas median pasar yang hanya Rp 455.000.
Dengan CSI 1 dan kenaikan harga yang signifikan, SGRO memberikan sinyal kuat adanya pengumpulan barang oleh investor institusi.
Emiten lain seperti Bersama Mencapai Puncak Tbk. (BAIK) dan Berkah Prima Perkasa Tbk. (BLUE) juga menunjukkan anomali serupa.
Keduanya menutup sesi dengan CSI tinggi (di atas 0,89) dan ticket size masing-masing di level Rp 26 juta dan Rp 23 juta.
Ini adalah karakteristik khas di mana institusi melakukan eksekusi beli tanpa ingin memicu kepanikan ritel.
Ekspansi Grup CUAN Membuka Ruang Pertumbuhan PTRO, Cek Rekomendasi Sahamnya
Strategi serok bawah saham HMSP
Fenomena menarik terjadi pada H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP). Meski harga sahamnya terkoreksi 10 poin, data menunjukkan adanya foreign net flow positif sebesar 14,3 juta saham.
Strategi Bottom Fishing ini juga terlihat pada Cipta Sarana Medika Tbk. (DKHH) dan Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE). Harga keduanya melemah namun volume beli asing justru membengkak. Ini indikasi bahwa bagi investor besar, koreksi saat ini adalah peluang untuk melakukan ‘transfusi’ saham di harga diskon.
Prospek Petrosea (PTRO) Menguat, Akuisisi SINI dan Diversifikasi Jadi Penopang
Penjelasan Istilah
Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?
- Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
- Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
- Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
- Ticket size Besar: Menandakan adanya “Smart Money” atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan “tiket” bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.
CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?
CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.
- Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
- CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
- CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
- CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
- Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk “menginapkan” saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.
Disclaimer:
Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (5 Februari 2026) yang diunduh langsung dari laman resmi BEI dan diolah. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.