
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat selama periode Ramadan tahun 2026.
Meski secara historis pergerakan IHSG saat bulan puasa tidak selalu konsisten, sentimen musiman tetap memberi dorongan pada sejumlah sektor, khususnya konsumsi dan ritel.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menjelaskan, dalam lima tahun terakhir, pergerakan IHSG selama Ramadan bervariasi. Pada 2021 lalu, IHSG menguat didorong optimisme pemulihan ekonomi pasca pandemi.
Tahun 2022, IHSG bergerak fluktuatif namun akhirnya ditutup positif dengan dukungan sektor konsumsi. Sementara itu, pada tahun 2023 pergerakan IHSG relatif stabil, kemudian menguat moderat pada tahun 2024 ditopang saham ritel.
Kemudian, pada tahun 2025 IHSG cenderung volatil dan bergerak melemah.
IDXHEALTH Berpeluang Rebound, Sentimen Ramadan Jadi Katalis Jangka Pendek
Menurut Fanny, meski momentum Ramadan kerap memberi sentimen positif bagi saham sektor ritel dan konsumsi, pergerakan indeks tidak lepas dari faktor eksternal.
Untuk kondisi saat ini, terutama setelah pengumuman MSCI, penurunan rating Indonesia oleh Moody’s, serta upaya perbaikan free float saham domestik, BNI Sekuritas menilai, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat.
“BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 8.000–8.400,” kata Fanny kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).
Fanny bilang saham-saham yang biasanya mendapat sentimen positif selama Ramadan umumnya berasal dari sektor konsumsi dan ritel. Seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Selain itu, saham sektor telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk dinilai mendapat angin segar dari momentum tersebut.
“Berdasarkan data retail sales index yang naik 8% yoy di Januari, BNI Sekuritas menilai ada perbaikan daya beli dan kemungkinan bisa berdampak positif ke saham consumer staples hingga peritel,” ucap Fanny.
Secara konsensus, pertumbuhan laba emiten consumer staples pada 2026 diproyeksikan mencapai 9,6%, sementara estimasi BNI Sekuritas berada di 7,3%. Adapun sektor ritel diperkirakan mencatat pertumbuhan laba 16%, sedikit lebih tinggi dibanding estimasi BNI Sekuritas di kisaran 15%.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Rabu (11/2/2026), Simak Rekomendasi Saham Berikut
BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham unggulan. Untuk sektor consumer staples, saham pilihan utama adalah PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Sementara pada sektor ritel, MAPA dan MAPI menjadi favorit.
Di sektor telekomunikasi, BNI Sekuritas menjagokan ISAT yang dinilai mendapat dukungan pertumbuhan trafik data, peningkatan blended ARPU, monetisasi layanan fiber, serta peluang pembagian dividen spesial.
Fanny merekomendasikan buy saham CMRY, KLBF, UNVR, MAPA, MAPI dan ISAT di target harga masing-masing Rp 6.500, Rp 1.700 Rp 2.500, Rp 900, Rp 1.600 dan Rp 3.000.