BI: Transmisi suku bunga berjalan, KLM jadi katalis positif

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memastikan transmisi kebijakan suku bunga mulai berjalan ke sektor perbankan. Salah satu instrumen yang dioptimalkan untuk mendorong penurunan suku bunga kredit adalah Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti menjelaskan, BI kini mengoptimalkan dua jalur dalam KLM, yakni lending channel dan interest channel. Hingga Januari 2026, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp 427,5 triliun. 

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 357,9 triliun dimanfaatkan melalui lending channel, yakni pemberian insentif kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis dan prioritas.

Sementara itu, interest channel yang baru diperkenalkan Desember 2025 lalu telah dimanfaatkan sebesar Rp 69,6 triliun. Melalui skema ini, BI memberikan insentif kepada bank yang secara konsisten menurunkan suku bunga kredit (lending rate).

BI: Minggu Pertama Januari 2026, Insentif KLM Capai Rp397,9 Triliun

Destry menyebut, dampak kebijakan tersebut mulai terlihat seiring dengan kebijakan suku bunga acuan BI yang sejak 2025 telah turun 125 bps. Suku bunga kredit existing tercatat turun sekitar 40 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,80% pada Januari 2026. Adapun untuk kredit baru, ia bilang penurunannya sudah mencapai 75 bps.

“Kami rasa ini menunjukkan bahwa transmisi dari kebijakan suku bunga itu sudah mulai berjalan,” kata Destry dalam siaran pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan, Kamis (19/2/2026).

Dari sisi pemanfaatan, KLM saat ini telah digunakan sekitar 4,83% dari dana pihak ketiga (DPK). BI masih memiliki ruang hingga 5,5% karena insentif tersebut berasal dari relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM). Artinya, masih tersedia sekitar 0,7% ruang tambahan yang dapat dimanfaatkan perbankan untuk memperoleh insentif.

Allo Bank Dapat Insentif KLM 2,8%, Ini Strategi Likuiditas Sambut Kebijakan Baru BI

Ke depan, BI akan terus mendorong bank menyalurkan kredit ke sektor prioritas seperti sektor padat karya, hilirisasi, dan perumahan, sekaligus menurunkan suku bunga kredit.

Menurut Destry, prospek ekonomi 2026 diperkirakan lebih baik dibandingkan 2025. Kenaikan harga komoditas, termasuk mineral, serta peningkatan pertumbuhan penjualan (sales growth) sejumlah korporasi dinilai akan mendorong permintaan kredit.

Di sisi lain, kapasitas penawaran kredit juga dinilai memadai. Likuiditas perbankan masih ample dan terdapat undisbursed loan mencapai Rp 2.506 triliun yang siap dicairkan saat permintaan kredit meningkat.

Dorong Pertumbuhan Kredit, BI Luncurkan KLM Baru Berbasis Kinerja dan Komitmen Bank