
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Gerak saham emiten unggas terpantau menunjukkan kinerja yang bervariasi di tengah momentum Bulan Ramadan yang biasanya diikuti dengan permintaan daging yang meningkat, seiring konsumsi masyarakat menguat.
Pada penutupan pasar Kamis (19/2/2026), saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melemah 3,12% ke Rp2.480. Sejak awal tahun, level harga JPFA menunjukkan koreksi 5,34% year on date (YtD). Sementar itu, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) tidak berubah di level Rp4.270, atau secara YtD telah terpangkas sebesar 5,32% YtD.
Di sisi lain, saham emiten tier-2 kategori unggas, PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) ditutup naik 1,29% ke Rp785. Walau naik, level harganya mencerminkan koreksi 9,25% YtD. Kemudian, saham PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) ditutup naik 4,29% ke Rp73, atau menguat 19,67% YtD. Terakhir, ada saham PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (SIPD) ditutup naik 0,31% ke Rp1.600, atau telah melonjak 42,22% secara YtD.
: Alasan Sekuritas Revisi Turun Prospek Sektor Perunggasan Tanah Air
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa secara historis, ada ekspektasi kenaikan kinerja penjualan emiten unggas setiap momen Ramadan. Dalam hal ini, Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi JPFA dari semua saham emiten unggas yang melantai di bursa.
“Kalau saya amati, konsumsi domestik related dengan kinerja penjualan JPFA, apalagi kalau di bulan Ramadan. Jadi, kinerja top line ini diharapkan bisa meningkat karena berkaitan erat dengan tren konsumsi domestik,” kata Nafan, Kamis (19/2/2026).
Mirae Asset merekomendasikan JPFA dengan target harga di Rp3.100. Nafan melihat harga JPFA sebelumnya berada di fase uptrend yang membuat valuasinya semakin tinggi. Meski saat ini terkoreksi, Nafan mengatakan masih ada pergerakan smart money di saham JPFA.
“Ini [sentimen Ramadan] lebih terefleksi di kinerja fundamental. Kalah secara teknikal, smart money-nya bagaimana. Kalau saya lebih cenderung fokus ke rekomendasi JPFA, karena masih progres,” ujarnya.
Apa yang membedakan dengan saham CPIN, Nafan melihat cenderung belum ada pergerakan dari smart money sehingga belum dia rekomendasikan untuk bisa diakumulasi investor.
: : Pacu Hilirisasi Pangan, ID FOOD Garap Peternakan Unggas dan Industri Garam
“Jadi kalau ada ketimpangan itu wajar, karena tergantung pada dinamika demand dan supply di market,” pungkasnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.