
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada 2026 berada di persimpangan berbagai sentimen.
Di satu sisi, pemulihan konsumsi dan penurunan biaya transformasi memberi sokongan. Namun di sisi lain, tekanan persaingan, risiko pelemahan daya beli, serta dampak divestasi bisnis es krim dan teh masih membayangi kinerja perseroan.
Diketahui, kini UNVR menargetkan kinerja yang mengungguli pasar pada 2026, terutama ditopang oleh pemulihan pertumbuhan volume seiring perbaikan eksekusi operasional dan penguatan momentum merek.
Manajemen memperkirakan pertumbuhan industri akan kembali ke level low single digit pada 2026, setelah stagnan pada 2025, dengan dukungan stimulus pemerintah serta membaiknya kepercayaan konsumen.
Kabar Gembira! Unilever (UNVR) Bakal Bagi Dividen Tambahan
Analis UBS Sekuritas Bernice Chew menjelaskan, pergeseran waktu Lebaran ke pertengahan Maret akan memindahkan proses stocking dan destocking distributor sepenuhnya ke kuartal I 2026.
Dampak faktor timing tersebut diperkirakan menekan pertumbuhan kuartal I 2026 sekitar 3%, namun mendorong pertumbuhan kuartal II 2026 dengan besaran yang relatif sama, tanpa memberikan dorongan tambahan pada kinerja kuartal IV 2025.
Dari sisi biaya, dicatat Bernice, UNVR memperkirakan biaya transformasi akan turun menjadi sekitar 60%–70% dari realisasi tahun buku 2025 yang mencapai Rp 700 miliar.
“Penurunan ini berpotensi mendukung kenaikan margin secara moderat, meskipun sebagian peningkatan margin kotor akan kembali diinvestasikan untuk mendukung pertumbuhan bisnis,” ujar Bernice dalam riset 13 Februari 2026.
Selain itu, tekanan biaya input dari minyak sawit serta pelemahan kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar 2%–3% diperkirakan menjaga inflasi basket produk di level low single digit.
Dari sisi korporasi, penataan portofolio masih berlanjut. Bisnis es krim kini diklasifikasikan sebagai operasi yang dihentikan, setelah UNVR menyelesaikan penjualan bisnis es krim perseroan kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia pada 8 Desember 2025. Adapun divestasi bisnis teh Sariwangi ditargetkan rampung pada Maret 2026.
Laba Unilever (UNVR) Diproyeksi Tumbuh Positif di 2026, Cek Rekomendasi Analis
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama menyebut, keputusan UNVR keluar dari bisnis es krim yang sangat kompetitif serta divestasi bisnis teh yang selama ini relatif stabil dinilai akan menambah hambatan bagi laba perseroan untuk kembali ke level pra-pandemi tahun buku 2019 dan membuat trajektori pertumbuhan menjadi mendatar.
Meski profil pertumbuhan bisnis teh dinilai kurang optimal akibat rendahnya konsumsi teh per kapita di Indonesia dibandingkan produk minuman lainnya seiring pergeseran preferensi konsumen ke produk ready-to-drink, pasar teh domestik masih tergolong besar.
“Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi kemampuan perseroan dalam mengimbangi tekanan margin, terutama di segmen home and personal care yang menyumbang sekitar 70% dari total penjualan dan dikenal memiliki tingkat persaingan yang sangat ketat,” ujar Willy dalam riset 27 Januari 2026.
Lebih lanjut, analis CGS International Baruna Arkasatyo dalam riset 13 Februari 2026 menekankan bahwa UNVR akan terus memperluas jangkauan penjualan langsung, memfokuskan strategi pada pertumbuhan kategori health dan beauty, serta meningkatkan disiplin biaya.
Adapun risiko penurunan (downside risks) berasal dari potensi berlanjutnya pelemahan pertumbuhan konsumsi domestik serta persaingan yang semakin ketat di industri fast-moving consumer goods (FMCG).
Melansir laporan keuangannya, UNVR meraih laba bersih Rp 7,64 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 126,82% year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,36 triliun.
Penjualan perusahaan juga mengalami kenaikan. Hingga akhir tahun 2025, penjualan bersih perusahaan mencapai Rp 31,94 triliun, naik 4,34% yoy dari posisi tahun 2024 sebesar Rp 30,62 triliun.
Baruna mencermati, kinerja tersebut ditopang oleh keuntungan divestasi sebesar Rp 3,8 triliun serta kontribusi laba Rp 310 miliar dari bisnis yang telah dilepas.
UNVR Chart by TradingView
“Sementara itu, laba bersih inti 2025, yang tidak memasukkan keuntungan divestasi, tercatat sebesar Rp 3,8 triliun atau tumbuh 14% yoy, namun hanya mencapai sekitar 86% dari estimasi analis dan konsensus pasar,” terang Baruna.
Adapun untuk proyeksi kinerja keuangan pada 2026, Willy mengestimasi revenue UNVR diperkirakan mencapai Rp 33,39 triliun. Sementara itu, laba bersih inti (core net profit) pada tahun tersebut diproyeksikan sebesar Rp 3,73 triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025.
Dengan berbagai faktor di atas, Willy memberikan rekomendasi kepada investor untuk sell saham UNVR dengan target harga Rp 1.500 per saham.
Kemudian, Baruna merekomendasikan add saham UNVR dengan target Rp 2.480 per saham, diturunkan dari target sebelumnya Rp 2.900 per saham.
Adapun Bernice memberikan rating restricted terhadap saham UNVR.