Bitcoin vs emas: Analis ragukan rotasi dana ke kripto dalam waktu dekat

Ussindonesia.co.id  Harapan sebagian pelaku pasar kripto akan terjadinya rotasi besar-besaran dari emas dan perak ke Bitcoin dinilai bisa keliru.

Analis kripto Benjamin Cowen mengatakan Bitcoin kemungkinan masih akan melemah relatif terhadap pasar saham seiring mendekati akhir siklus.

“Bitcoin kemungkinan akan terus ‘berdarah’ terhadap pasar saham,” kata Cowen dalam sebuah video yang dilansir dari Cointelegraph Kamis (29/1/2026).

Danantara Siap Miliki Saham BEI, Rosan Ungkap Rencana Usai Demutualisasi

Ia menilai ekspektasi akan adanya “rotasi masif” dari logam mulia seperti emas dan perak ke aset kripto terlalu dibesar-besarkan, setidaknya dalam jangka pendek.

Harga emas dan perak memang tengah mencetak rekor tertinggi baru.

Berdasarkan data Trading Economics, emas mencapai level tertinggi sepanjang masa di US$5.608,33 per ons troi, sementara perak menyentuh US$121,64 per ons.

Optimisme terhadap perak juga datang dari Citigroup. Pada Selasa lalu, Citi memproyeksikan harga perak berpotensi naik hingga US$150 dalam tiga bulan ke depan, didorong oleh permintaan dari China serta melemahnya dolar AS ke level terendah dalam empat tahun.

Namun demikian, Cowen menegaskan rotasi dana ke Bitcoin “kemungkinan besar tidak akan terjadi” dalam waktu dekat.

Ia menilai asumsi bahwa Bitcoin akan segera mengikuti reli emas dan perak seperti siklus sebelumnya belum tentu terbukti kali ini.

Fokus ke Segmen Midstream dan Downstream, PGN (PGAS) Siapkan Langkah Transformasi

Di pasar kripto, banyak investor berspekulasi bahwa lonjakan emas dan perak ke rekor baru merupakan sinyal historis yang biasanya diikuti oleh kenaikan Bitcoin.

Saat ini menurut data CoinMarketCap pukul 17.27 WIB Jumat (30/1/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$82.366, turun 7,44% dalam tujuh hari terakhir.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah memburuknya sentimen pasar kripto secara umum.

Indeks Crypto Fear & Greed, yang mengukur sentimen pasar kripto, mencatat skor “extreme fear” di level 16.

Angka tersebut menunjukkan investor masih sangat berhati-hati terhadap pergerakan aset kripto.

Iman Rachman Mundur, OJK Pastikan Operasional BEI Tetap Normal

Analis Lain Lebih Optimistis

Meski demikian, tidak semua analis sepakat dengan pandangan pesimistis tersebut.

Kepala analis Swyftx Pav Hundal mengatakan, pasar mungkin sudah mendekati titik balik.

“Kita berada tepat di ambang fase di mana secara historis biasanya terjadi peningkatan kembali minat risiko ke Bitcoin,” ujar Hundal kepada Cointelegraph.

Ia menjelaskan bahwa secara historis, titik terendah Bitcoin biasanya tertinggal sekitar 14 bulan setelah emas menunjukkan kekuatan relatif.

Berdasarkan pola tersebut, Hundal memperkirakan rotasi dari emas ke Bitcoin bisa terjadi pada Februari atau Maret.

Dalam Sepekan, Rupiah Menguat 0,20% ke Rp 16.786 per Dolar AS

“Jika sejarah terulang dan itu memang asumsi besar dinamika emas dan Bitcoin mengindikasikan potensi pembentukan dasar harga Bitcoin dalam 40 hari ke depan,” katanya.

Hundal menambahkan, emas biasanya memimpin reli saat tekanan makroekonomi tinggi, lalu Bitcoin menyusul ketika selera risiko investor kembali pulih.

“Jika pola ini tidak rusak, kondisi pasar seharusnya mulai terlihat lebih stabil menjelang akhir kuartal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Riset Bitwise Europe, Andre Dragosch, dalam unggahan di platform X pada 19 Januari, menyebut Bitcoin saat ini “diperdagangkan dengan diskon besar terhadap emas secara relatif.”

“Kondisi asimetris seperti ini sangat jarang terjadi,” kata Dragosch.

Ia menambahkan bahwa jika arus dana mulai berbalik, kuartal pertama 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi Bitcoin.