Bursa Australia bergerak terbatas akibat pelemahan saham tambang dan emas

Ussindonesia.co.id SIDNEY.  Pasar saham Australia bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (26/3/2026), seiring pelemahan saham tambang dan emas menahan penguatan sektor keuangan.

Pelaku pasar juga cenderung menunggu perkembangan terbaru terkait rencana gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat kepada Iran.

Indeks acuan S&P/ASX 200 tercatat naik tipis 0,1% ke level 8.541,6 pada sesi awal, setelah sehari sebelumnya menguat 1,9%. Pergerakan pasar cenderung tanpa arah yang jelas di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Harga Emas Dunia Naik Dekati US$ 4.000 per Ounce, Saham Tambang Emas Kompak Menguat

Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan negaranya belum berniat melakukan negosiasi untuk mengakhiri konflik. Di sisi lain, bank sentral Australia memperingatkan risiko ekonomi yang lebih besar jika konflik berkepanjangan.

“Lonjakan harga energi berpotensi mengganggu ekspektasi inflasi,” ujar Asisten Gubernur Christopher Kent dari Reserve Bank of Australia.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60% bank sentral kembali menaikkan suku bunga menjadi 4,35% pada Mei, dengan potensi mencapai 4,75% hingga akhir tahun.

Dari sisi sektoral, saham pertambangan turun 0,4% tertekan harga bijih besi yang melemah, seiring kekhawatiran pemangkasan produksi baja di Tangshan, China. Saham emas juga turun 1,7%, dengan Ramelius Resources melemah 1,5%.

Meski begitu, raksasa tambang seperti Rio Tinto dan BHP masih mencatat kenaikan masing-masing 0,4% dan 0,3%.

Emas Dunia Naik ke US$3.990, Saham Tambang Emas RI Bergerak Beragam Kamis (30/10)

Sektor keuangan menjadi penopang utama dengan kenaikan 0,5%, dipimpin oleh tiga dari empat bank besar yang naik di kisaran 0,5% hingga 0,9%.

Sementara itu, saham energi naik 0,7% meskipun harga minyak sebelumnya turun hampir 2%. Woodside Energy dan Yancoal Australia masing-masing menguat 0,9% dan 1,6%.

Berbeda arah, saham teknologi justru terkoreksi 1,9%, menjadi penurunan terdalam sejak 19 Maret. WiseTech Global turun 1,9%, sementara Xero merosot 2,8%.

Di kawasan regional, indeks acuan Selandia Baru, S&P/NZX 50, menguat 0,8% ke level 13.034,41.