
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kinerja PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) diproyeksi meningkat pada tahun 2026. Kenaikan tarif kapal yang disebabkan memanasnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah akan mengerek pendapatan perseroan.
Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas menyoroti peningkatan risiko di Selat Hormuz yang berpotensi memicu lonjakan tarif kapal tanker global. Hal ini karena potensi meningkatnya premi asuransi yang pada akhirnya akan berdampak pada biaya operasional dan menyebabkan pemilik kapal menaikkan tarif sewa. Terlebih kawasan tersebut merupakan salah satu rute utama yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.
Selain itu, menghindari rute berisiko dapat mengurangi pasokan kapal di pasar dan memperketat kondisi penawaran-permintaan, sehingga mendorong kenaikan tarif kapal tanker dalam jangka pendek. Jika terjadi pergeseran sumber pasokan ke wilayah yang lebih jauh, peningkatan ton-mil juga akan memperkuat permintaan kapal.
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Melemah ke Rp 16.997 per Dolar AS
Tercatat pada 3 Maret 2026, tarif spot untuk kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) yang berlayar dari Teluk Arab ke Tiongkok telah meningkat 1.402% secara year to date (YTD) per 13 Maret 2026 menjadi US$ 502.595 per hari.
“Ke depan, kami memperkirakan pendapatan BULL akan kuat, mengingat tarif kapal tanker yang relatif tinggi, karena sebagian besar armada BULL beroperasi di pasar spot internasional,” ujar Heru dalam risetnya pada 13 Maret 2026.
Ryan Santoso, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat bahwa efisiensi pengiriman minyak global telah memburuk sejak tahun 2022. Hal ini didorong oleh konflik Rusia-Ukraina, meningkatnya ketegangan perdagangan AS-Tiongkok, dan baru-baru ini karena eskalasi AS-Iran.
Ketegangan yang meningkat telah mengganggu rute transit, khususnya melalui Selat Hormuz, dimana sekitar 150 kapal dilaporkan terdampar atau tertunda. Akibatnya, armada terpaksa mengubah rute melalui jalur alternatif yang lebih panjang, yang secara efektif memperketat pasokan kapal dan memperluas ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan kapal tanker.
Bersamaan dengan itu, segmen Aframax dan Handymax dengan kapasitas 80.000 – 120.000 Deadweight Tonnage (dwt) yang mewakili sebagian besar armada BULL telah meningkat sekitar 30%, memperkuat visibilitas pendapatan dalam jangka pendek.
“Kami baru-baru ini bertemu dengan manajemen Buana Lintas Lautan (BULL) untuk membahas perkembangan terbaru perusahaan. Sebagai operator kapal tanker minyak dan gas dengan eksposur internasional yang dominan, BULL mendapat manfaat dari tarif sewa yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan rute domestik,” ucap Ryan dalam risetnya pada 5 Maret 2026.
Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas mengatakan bahwa kawasan Asia Tenggara (SEA) sebagai pusat strategis dan terkonsentrasi untuk distribusi energi dari Timur Tengah ke negara industri Tiongkok.
Pentingnya jalur logistik ini didahului oleh Selat Hormuz Iran yang memiliki 20,9 juta barel per hari di Timur Tengah, diikuti oleh Terusan Suez dengan 8,8 juta barel per hari dan Bab El-Mandeb dengan 8,6 juta barel per hari.
Ezaridho juga menyoroti Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan produksi energi. Pemerintahan AS telah mengambil sikap agresif terhadap negara-negara, terutama Rusia, Tiongkok, dan India, untuk meningkatkan pembelian pasokan minyak dari Amerika.
Dalam negosiasi untuk menurunkan tarifnya pada tahun 2025 menjadi 19% dari angka awal 32% saat pengumuman April, Indonesia telah setuju untuk mengimpor energi AS (minyak dan gas) senilai US$ 15 miliar.
“Hal ini dapat menciptakan inefisiensi jalur logistik karena jalur Samudra Pasifik lebih panjang dibandingkan dengan titik jalur energi di Timur Tengah,” jelas Ezaridho dalam risetnya pada 30 Januari 2026.
Hingga saat ini perusahaan mengoperasikan berbagai armada yang mencakup kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut gas (LPG dan LNG), dengan total kapasitas angkut sekitar 700.000 dwt pada tahun 2025. Secara strategis, BULL sedang berekspansi di luar pengiriman ke infrastruktur lepas pantai, termasuk aset Floating Production Storage and Offloading (FPSO) dan Floating Storage Offloading (FSO), dan saat ini sedang berpartisipasi dalam tender untuk Floating Storage and Regasification Unit (FSRU).
“Segmen infrastruktur diharapkan memberikan aliran pendapatan kontrak jangka panjang, untuk mengurangi efek volatilitas tarif spot kapal tanker,” terang Ryan.
Victoria Venny, Research Analyst MNC Sekuritas memperkirakan dinamika penawaran dan permintaan LNG pada tahun 2026 dan 2027 menunjukkan pasar yang semakin ketat. Perdagangan LNG diperkirakan tumbuh 7,9% pada 2026 dan tumbuh 11% pada 2027.
“Pertumbuhan permintaan ton-mil (30,7% kumulatif 2026 – 2027) melebihi pertumbuhan armada (19,2%),” ujar Victoria saat dikonfirmasi, Senin (16/3/2026).
Victoria mengatakan bahwa pasar membutuhkan 140 kapal – 155 kapal LNG dibandingkan pasokan 120–140 kapal yang ada saat ini, ditambah 60–70 kapal tambahan karena larangan Uni Eropa terhadap gas Rusia. Pendapatan LNG yang dinormalisasi rata-rata US$ 69.000/hari, menghasilkan lebih dari US$ 21 juta EBITDA per tahun. Sementara secara historis hanya satu tahun yang mencatat pendapatan di bawah US$ 25.000/hari.
Heru memproyeksikan pendapatan dan laba bersih BULL pada tahun 2026 masing – masing mencapai US$ 172 juta dan US$ 22 juta. Tahun 2025, pendapatan dan laba bersih diperkirakan mencapai US$ 151 juta dan US$ 18 juta. Adapun tahun 2024, BULL mengantongi pendapatan US$ 140 juta dan laba bersih US$ 14 juta.
Heru dan Ezaridho merekomendasikan Buy saham BULL dengan target harga masing – masing Rp 505 per saham dan Rp 800 per saham. Sedangkan Ryan dan Victoria merekomendasikan Not Rated saham BULL.
Bumi Resources Minerals (BRMS) Raih Pendapatan US$ 249 Juta pada 2025