Konsensus Ekonom Proyeksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di RDG Maret 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Konsensus ekonom Bloomberg memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Maret 2026 pada Selasa (17/3/2026).

Survei Bloomberg menunjukkan sebanyak 29 dari 29 ekonom memperkirakan BI akan menahan suku bunga. Artinya, semua ekonomi mempunyai proyeksi bulat bahwa bank sentral belum akan mengubah BI Rate pada bulan ketiga 2026.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede merupakan salah satu ekonom yang menilai BI akan menahan suku bunga acuan. Dia menilai langkah mempertahankan suku bunga menjadi pilihan paling rasional bagi bank sentral guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

: Volatilitas Harga Emas Hadapi Sentimen Suku Bunga Tinggi The Fed

“Perkiraan kami, BI cenderung mempertimbangkan dan lebih condong kembali menahan BI Rate di 4,75% pada RDG Maret ini. Pilihan paling masuk akal memang menahan suku bunga dulu,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/3/2026).

Pada RDG bulan sebelumnya, bank sentral juga menahan suku bunga di level yang sama demi menjaga stabilitas rupiah, meski tetap membuka ruang pelonggaran atau pemangkasan ke depan apabila kondisi makroekonomi lebih mendukung.

: : Bank Sentral Malaysia Tahan Suku Bunga, Ingatkan Risiko Perang Timur Tengah ke Ekonomi

Akan tetapi, Josua meyakini ruang penurunan suku bunga tersebut sudah tidak ada ketika saat ini rata-rata harga minyak global mulai merangsek naik ke US$75 per barel dan nilai tukar rupiah tertahan di kisaran Rp16.750 per dolar AS.

Bahkan, sambungnya, arah kebijakan moneter Bank Indonesia berpotensi bergeser menjadi lebih ketat (hawkish) apabila harga minyak melonjak ke level US$80 per barel dan rupiah semakin tertekan ke level Rp17.000 per dolar AS.

: : BOJ Waspadai Efek Konflik Timur Tengah ke Ekonomi Jepang, Suku Bunga Berpotensi Ditahan

Dia mengingatkan bahwa rupiah sudah sempat menyentuh level Rp16.954 per dolar AS pada 9 Maret lalu sehingga opsi menahan suku bunga dinilai sebagai prioritas utama.

Dari sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah terus memicu gejolak harga energi dunia dan mendorong pelaku pasar keuangan bersikap lebih hati-hati (risk-off), sehingga menjaga stabilitas rupiah menjadi sebuah keharusan.

Di sisi lain, alasan BI untuk memangkas suku bunga juga belum cukup kuat dari kacamata fundamental ekonomi domestik. Josua menilai bahwa makroekonomi dalam negeri masih terbilang cukup solid.

Pertumbuhan ekonomi nasional masih mencatatkan kinerja positif dengan realisasi sepanjang 2025 yang mencapai 5,11% dan kuartal IV/2025 di level 5,39%. Aktivitas manufaktur Indonesia pada Februari 2026 juga masih berada di zona ekspansif pada level 53,8.

Terkait inflasi, Josua mengaku bahwa realisasi cukup tinggi di level 4,76% pada Februari lalu. Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa angka tersebut banyak terdistorsi oleh low base effect atau efek perbandingan dengan tahun lalu akibat adanya kebijakan diskon listrik pada awal 2025. Tanpa pengaruh basis efek tersebut, inflasi Februari sejatinya hanya diperkirakan berada di kisaran 2,59%.

“Tekanan harga dasarnya belum cukup kuat untuk memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi juga belum memberi kenyamanan penuh untuk memangkas suku bunga di saat rupiah masih sangat sensitif,” tambah Josua.

Oleh karena itu, pada RDG Maret ini, mempertahankan BI Rate dinilai sebagai jalan tengah paling aman agar laju pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, tanpa harus mengorbankan stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar keuangan.