Harga buyback emas Antam naik 16,48% hingga Selasa (27/1)

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Harga  buyback emas Antam telah menguat lebih dari 16% untuk periode berjalan 2026 hingga Selasa (26/1/2026).

Berdasarkan data Logam Mulia Selasa (26/1/2026), harga buyback emas Antam turun Rp1.000 ke Rp2.749.000. Posisi itu meninggalkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).

Kendati demikian, harga buyback emas Antam tercatat telah menguat 16,48% untuk periode berjalan 2026.

: Para Pembeli Emas Antam yang Masih Gigit Jari Memasuki Akhir Januari 2026

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.

Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

: : Harga Emas Bertahan di Atas US$5.000 per Troy Ons Terangkat Depresiasi Dolar AS

Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global. 

: : Setelah Harga Emas Tembus US$5.000 per ons

Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas naik 1,2% menjadi US$5.067,84 per ons pada pukul 13.00 waktu Singapura Selasa (26/1/2026). Sementara itu, harga perak menguat 4,3% menjadi US$108,25 per ons, usai menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$117,71 pada sesi sebelumnya. 

Adapun, emas batangan melonjak hingga 1,4% pada Selasa (27/1/2026) atau mencetak kenaikan tujuh hari berturut-turut. Kenaikan harga emas ini disebabkan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif atas barang-barang Korea Selatan.

Sementara itu, indeks dolar AS juga terus melemah pada awal pekan ini karena ada spekulasi bahwa AS mungkin membantu Jepang menopang yen. Kondisi ini membuat logam mulia menjadi lebih murah bagi sebagian besar pembeli dan mendorong permintaan.

Lonjakan harga emas baru-baru ini menegaskan kembali peran historis logam mulia ini sebagai indikator ketakutan di pasar. Setelah mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979, emas telah naik 17% sepanjang tahun ini. 

Daya tarik emas juga tercermin dalam data posisi spekulan, sementara pedagang opsi bersiap menghadapi potensi kenaikan lebih lanjut di pasar yang memanas. Volatilitas harga tercermin lewat kontrak berjangka Comex yang naik ke level tertinggi sejak puncak pandemi Covid-19 pada Maret 2020. 

“Para pedagang membeli saat harga terkoreksi, bukan melawan reli,” kata Fawad Razaqzada, analis di City Index Ltd., dikutip Bloomberg pada Selasa (27/1/2026).

Ke depan, fokus investor mengarah ke pilihan Trump untuk kursi ketua Federal Reserve berikutnya. Trump menegaskan sudah memiliki nama dalam pikirannya yang lebih dovish.