Purbaya sebut penguatan rupiah tak hanya berkat Thomas jadi deputi BI

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan penguatan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Namun juga disebabkan oleh langkah Bank Indonesia yang semakin solid dalam menajaga stabilisasi rupiah.

Bila mengacu data Bloomberg, pergerakan rupiah ditutup menguat pada level Rp16.768 per dolar AS. Rupiah terpantau menguat 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan kemarin.

“Bukan hanya karena Pak Thomas, memang langkah Bank Sentral sudah semakin baik dibanding sebelumnya. Saya pikir, kita serahkan semuanya kepada Bank Sentral untuk mengendalikan nilai tukar, dan kami percaya mereka mampu. Dalam waktu singkat, rupiah sudah menguat,” katanya saat ditemui di Thamrin Nine Jakarta, pada Selasa (27/1/2026).

1. Dolar AS berpotensi melemah ke depan

Purbaya juga menyampaikan, dolar AS berpotensi melemah ke depan, sementara mata uang lain seperti yen cenderung akan dikuatkan melalui upaya bersama (concerted effort) oleh negara-negara tertentu. Dengan kondisi ini, Purbaya menilai nilai tukar rupiah seharusnya akan terus menguat jika langkah-langkah yang diambil BI ke depannya tepat.

Purbaya menjelaskan Kementerian Keuangan memiliki peran penting dalam menjaga fundamental ekonomi nasional agar kepercayaan investor tetap terjaga. Hal ini, lanjutnya, berdampak positif pada penguatan rupiah.

“Sebagai pihak yang ada di Kementerian Keuangan, kewajiban saya adalah memastikan program-program ekonomi berjalan dengan baik dan fondasi ekonomi kita kokoh untuk masa depan. Investor akan melihat hal itu dan berinvestasi di sini, yang pada gilirannya akan membuat rupiah menguat signifikan,” ujarnya.

“Saya rasa arahnya ke sana. Perbaikan ekonomi kita bukan hanya sekadar di atas kertas, tapi kita perlahan-lahan memperbaikinya secara nyata,” tambah Purbaya.

Rupiah Menguat Tipis, Pasar Masih Waspadai Drama Politik AS 2. Perhatian pasar tertuju pada pertemuan Bank Sentral The Fed

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan perhatian pasar global tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berakhir pada Rabu waktu setempat.

“Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya,” ujarnya.

3. Faktor yang menekan dolar AS

Selain arah kebijakan moneter, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell juga menjadi sorotan. Ketegangan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral AS dari tekanan politik.

Tekanan tambahan datang dari risiko penutupan pemerintahan AS (government shutdown). Kekhawatiran mencuat setelah senator dari Partai Demokrat berjanji memblokir rancangan undang-undang pendanaan besar, menyusul penembakan yang terjadi di Minneapolis.

“Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8 persen pada hari Jumat menjadi hampir 78 persen pada hari Senin,” ujarnya.

Modal Asing Menyusut, BI Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah