Saham BBCA tertekan aksi jual asing, masihkah layak diakumulasi?

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pergerakan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali ditutup tertekan pada perdagangan Selasa (27/1).

Saham BBCA turun 1,96% menjadi Rp 7.500 per saham. Di saat sama investor asing juga terlihat keluar dari saham bank swasta terbesar di Indonesia ini. BBCA mencatatkan net foreign sell senilai Rp 1,79 triliun.

Jka ditarik dalam sepekan, saham BBCA juga masih terkoreksi sekitar 6,54%, dan dalam sebulan terakhir sahamnya susut 6,54%.

BNPL Perbankan Tumbuh Subur, Kualitas Kredit Makin Baik

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, aksi jual asing terhadap saham BBCA masih berlanjut dengan nilai transaksi yang cukup besar, sehingga menekan pergerakan harga saham di pasar.

“Menurut saya, pelemahan BBCA lebih banyak dipicu tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena fundamental BCA yang tiba-tiba memburuk,” ujar Ekky kepada Kontan Selasa (27/1/2026).

Ia menilai, ke depan pergerakan harga saham BBCA pasca paparan kinerja masih sangat bergantung pada apakah arus jual asing mulai mereda atau belum. Jika tekanan tersebut berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpeluang bergerak konsolidatif sebelum mengalami pemulihan secara bertahap.

Dari sisi fundamental, Ekky menilai BCA masih relatif solid. Likuiditas perseroan tetap longgar dengan rasio dana murah (CASA) yang tinggi, kualitas aset terjaga, serta manajemen menyiapkan akselerasi pertumbuhan kredit ke depan. Ia menyebutkan, proyeksi pertumbuhan kredit BCA pada 2026 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan 2025.

“Kalau hasil paparan kinerja tidak mengecewakan, peluang BBCA lebih ke konsolidasi lalu rebound bertahap, bukan langsung naik signifikan,” tambahnya.

Terkait strategi investasi, Ekky menilai level harga di bawah Rp 8.000 per saham dapat menjadi area akumulasi bertahap bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang. Namun, ia mengingatkan bahwa saham BBCA kurang cocok untuk strategi jangka pendek yang mengincar keuntungan cepat.

“Untuk trader jangka pendek, lebih aman menunggu harga stabil karena BBCA masih rawan digerakkan oleh aliran dana asing,” jelas Ekky.

BCA Optimistis Kredit Perbankan Masih Berpeluang Tumbuh Double Digit pada 2026

Secara teknikal, Ekky menyebutkan area support saham BBCA berada di kisaran Rp 7.300, sementara area resistance terdekat berada di rentang Rp 7.800–Rp 7.850.

Adapun Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan bahwa struktur kepemilikan saham BCA saat ini masih didominasi oleh investor asing, dengan porsi mencapai 70%–80%. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga saham BCA sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan pandangan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Pemegang saham BCA saat ini sekitar 70% sampai 80% dimiliki oleh investor asing. Dari sisi manajemen, yang bisa kami lakukan adalah memastikan kinerja perusahaan tetap sebaik mungkin. Namun untuk harga saham, wajar jika terjadi naik turun,” ujar Hendra.

Menurutnya, fluktuasi harga saham tidak bisa dilepaskan dari kondisi eksternal yang berada di luar kendali perseroan, mulai dari dinamika ekonomi global hingga perubahan preferensi investor terhadap pasar negara berkembang.

Terkait dengan pertanyaan apakah kondisi saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membeli saham BCA, Hendra menilai hal tersebut sulit untuk ditentukan. Keputusan investasi, kata dia, sangat bergantung pada persepsi dan strategi masing-masing investor, khususnya investor asing, dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Penyaluran Kredit BCA Capai Rp 993 Triliun pada 2025, Ini Faktor Pendorongnya

“Ini memang sulit dijawab apakah sekarang waktu yang tepat untuk beli atau tidak, karena semuanya tergantung bagaimana investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia,” tutur dia.

Meski demikian, BCA menegaskan komitmennya untuk terus menjaga fundamental kinerja agar tetap solid, sebagai upaya memberikan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham di tengah volatilitas pasar.

Pada 2025, BCA dan entitas anak berhasil membukukan  laba bersih sebesar 4,9% secara tahunan  menjadi Rp 57,5 triliun per Desember 2025. Hal ini salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih BCA yang tumbuh 4,1% secara yoy, dan pendapatan selain bunga naik 16% yoy.

Dari sisi intermediasi, BCA mencatat pertumbuhan total kredit 7,7% secara tahunanmenjadi Rp993 triliun per Desember 2025.

Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali di 1,7% dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%. 

Dari sisi penghimpunan dana, BCA berhasil mencatatkan total DPK BCA mencapai Rp 1.249 triliun tumbuh 10,2% secara yoy pada Desember 2025.