IHSG dibuka melemah, pasar cermati risiko global dan keputusan BI

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (21/1/2026) pagi bergerak melemah seiring kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil, namun risiko di tingkat global meningkat. IHSG dibuka melemah 40,27 poin atau 0,44 persen ke posisi 9.094,43. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94.

“Kombinasi sentimen domestik yang relatif stabil dan risiko eksternal yang meningkat, seperti ancaman tarif Trump terhadap negara-negara Eropa, tekanan di pasar obligasi global, serta volatilitas pasar saham AS, membuat pasar Indonesia hari ini berpotensi bergerak volatil, dengan arus modal asing dan respons pasar terhadap keputusan BI menjadi kunci arah pergerakan,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diumumkan hari ini, yang akan menetapkan BI-Rate di tengah nilai rupiah yang masih berada di level terlemah sepanjang sejarah.

Konsensus secara umum memproyeksikan BI akan menahan suku bunga di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset rupiah.

Dari mancanegara, bursa saham Amerika Serikat (AS) dan Eropa kompak melemah pada Selasa (20/1/2026), dipicu meningkatnya retorika Presiden AS Donald Trump terkait Greenland, termasuk ancaman tarif bertahap 10 persen hingga 25 persen terhadap delapan negara NATO, tarif 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris, yang memicu lonjakan volatilitas pasar.

Selain itu, pelemahan bursa AS juga dipicu oleh melemahnya indeks dolar AS serta tekanan jual pada aset-aset Amerika Serikat.

Lebih lanjut, kekhawatiran pelaku pasar diperparah oleh sinyal arus keluar dari obligasi AS, termasuk keputusan dana pensiun Denmark untuk melepas US Treasurys, serta meningkatnya risiko perang modal sebagaimana disorot oleh Ray Dalio.

Pelaku pasar menilai kebijakan tarif sebagai instrumen non-ekonomi jangka pendek yang menambah ketidakpastian. Di sisi lain, Eropa mempertimbangkan langkah balasan, sehingga membuat sentimen global semakin rapuh menjelang komunikasi Trump dengan para pemimpin Eropa di Davos, Swiss.

Selain itu, pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti emas yang kembali mencetak rekor. Tekanan juga datang dari pasar obligasi global, terutama Jepang, seiring lonjakan imbal hasil obligasi tenor panjang yang memperkuat sikap hati-hati investor.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan momentum perekrutan, sehingga menambah kehati-hatian pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.

Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), bursa saham Eropa kompak melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,52 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,67 persen, indeks DAX Jerman turun 1,03 persen, serta indeks CAC Prancis melemah 0,61 persen.

Bursa AS di Wall Street juga kompak melemah pada Selasa (20/1/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,76 persen dan ditutup di level 48.488,59, indeks S&P 500 melemah 2,06 persen ke level 6.796,94, serta indeks Nasdaq Composite melemah 2,12 persen dan ditutup di level 24.987,57.

Bursa saham regional Asia pada Rabu pagi, antara lain indeks Nikkei melemah 176,10 poin atau 0,33 persen ke posisi 52.815,00, indeks Shanghai menguat 12,53 poin atau 0,32 persen ke 4.127,64, indeks Hang Seng menguat 57,99 poin atau 0,22 persen ke 26.542,11, serta indeks Strait Times melemah 21,99 poin atau 0,46 persen ke 4.804,04.