
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Tekanan di pasar saham berlanjut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.956,80 dalam sepekan terakhir atau melemah 2,52 persen. Sepanjang 2026, penurunan sudah mencapai 19,55 persen dari posisi akhir tahun lalu.
Di tengah pelemahan tersebut, investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 5,8 triliun dalam sepekan. Secara akumulasi sejak awal tahun, dana asing yang keluar mencapai Rp 45,38 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan tekanan pasar tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga kondisi global.
“Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa, ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten,” ujarnya, dikutip Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasar cenderung berada dalam kondisi risk-off. Situasi ini berdampak pada kenaikan harga energi dan tekanan inflasi.
Dalam kondisi tersebut, investor ritel disarankan lebih berhati-hati dan selektif memilih saham. Sektor konsumsi dan transportasi dinilai lebih rentan karena tertekan kenaikan biaya.
Sebaliknya, saham berbasis komoditas seperti nikel dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dinilai masih memiliki ketahanan. Untuk sepekan ke depan, pasar diperkirakan masih bergerak dalam tekanan dengan kecenderungan risk-off moderat. IHSG berpotensi menguji level support di kisaran 6.918 hingga 6.696.
Di tengah kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan investor mencermati saham berbasis komoditas serta peluang pada sejumlah emiten seperti AADI, LSIP, dan SSIA. Selain itu, instrumen obligasi seperti seri FR106 juga dinilai menarik sebagai alternatif menjaga stabilitas portofolio.
Pembiayaan UMKM Dikebut Rp 279 Triliun
Sementara itu, pemerintah menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 279 triliun pada tahun ini untuk mendorong pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, rasio pembiayaan UMKM di Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan negara kawasan seperti Thailand dan Malaysia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perluasan akses pembiayaan harus diikuti peningkatan kapasitas pelaku usaha, termasuk pemahaman terhadap risiko. “Bukan hanya finansial inklusif. Pelaku UMKM juga harus punya pengetahuan dan memahami risikonya,” ujar Airlangga.
Menurut dia, penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui akses modal, tetapi juga kesiapan pelaku usaha dalam memanfaatkan layanan keuangan, terutama di tengah perkembangan digital. Program pemberdayaan UMKM hasil kolaborasi sektor swasta telah menjangkau lebih dari 550 ribu pelaku usaha, melampaui target awal 350 ribu peserta.
Di sisi lain, pemerintah mulai mengarahkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif seperti perumahan, industri padat karya, serta pertanian dan pangan untuk memperkuat kontribusi UMKM terhadap perekonomian. Airlangga menilai peningkatan rasio pembiayaan menjadi penting agar UMKM lebih kompetitif dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan ekosistem keuangan, mulai dari literasi, inklusi, hingga digitalisasi sistem pembayaran guna memperluas akses pembiayaan. “Pembelajaran dari program ini perlu direplikasi dan diimplementasikan lebih luas,” kata Airlangga.
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta juga terus didorong untuk mempercepat perluasan akses pembiayaan dan meningkatkan daya saing UMKM di tengah persaingan kawasan.