
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp17.400 diperkirakan semakin menekan kinerja keuangan emiten farmasi, terutama dari sisi biaya produksi. Namun, dibalik tantangan tersebut, sejumlah analis masih melihat katalis positif masih membuka peluang pertumbuhan kinerja dan menarik minat investor.
Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad memperkirakan industri farmasi domestik masih sangat bergantung pada bahan baku impor, dengan porsi mencapai 80% hingga 90%. Kondisi ini membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan cost of goods sold (COGS), yang pada akhirnya dapat menekan margin laba emiten.
Meski demikian, sektor farmasi tidak sepenuhnya kehilangan daya tarik. Yaki menilai terdapat sejumlah faktor pendukung yang dapat menjaga pertumbuhan industri, di antaranya wacana peningkatan anggaran kesehatan pemerintah serta ekspansi program BPJS Kesehatan. Selain itu, tren konsumsi produk preventif seperti suplemen dan vitamin juga terus meningkat.
: Emiten Farmasi PYFA Target Rights Issue Tuntas Kuartal III/2026
“Permintaan terhadap produk kesehatan preventif menunjukkan tren yang solid, dengan potensi pertumbuhan high single digit hingga low double digit,” jelasnya dikutip, Selasa (5/5/2026).
Dalam kondisi yang penuh dinamika ini, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham farmasi. Emiten dengan lini bisnis terdiversifikasi mencakup obat resep, consumer health, hingga nutrisi dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik. Selain itu, perusahaan yang memiliki natural hedging juga dianggap lebih mampu meredam dampak fluktuasi nilai tukar.
: : Danantara Rombak Holding Farmasi, Kimia Farma (KAEF) Dilepas dari Bio Farma
Sejumlah saham farmasi pun masuk dalam radar rekomendasi BCA Sekuritas. Untuk strategi jangka pendek, saham KLBF, SIDO, dan TSPC direkomendasikan dengan rating trading buy. Masing-masing dengan target harga Rp955, Rp530, dan Rp2.570.
Sementara itu, saham KAEF masuk kategori speculative buy dengan target harga di level Rp550.
: : Fluktuasi Rupiah Bayangi Prospek Emiten Farmasi KAEF, KLBF Cs di 2026
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji memperkirakan kinerja emiten farmasi di tengah kombinasi peluang dan tantangan yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, permintaan produk kesehatan tetap kuat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat tetapi tekanan eksternal dan struktural masih membayangi sektor ini.
Menurutnya pelemahan nilai tukar rupiah berdampak signifikan terhadap industri farmasi, mengingat sekitar 90% bahan baku obat masih bergantung pada impor. Kenaikan biaya produksi akibat depresiasi rupiah pun menjadi beban yang sulit dihindari oleh para pelaku industri.
Tekanan tidak berhenti di situ. Regulasi pemerintah terkait harga eceran tertinggi atau HET, khususnya untuk obat generik, turut membatasi ruang ekspansi margin keuntungan perusahaan farmasi. Di tengah kenaikan biaya, kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan harga jual menjadi terbatas.
Selain itu, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini membuat produsen harus berhati-hati dalam menetapkan harga, terutama untuk produk dengan kandungan impor tinggi yang berpotensi lebih mahal. Di saat yang sama, persaingan industri semakin ketat dengan masuknya produk impor serta maraknya produk substitusi atau imitasi di pasar domestik.
Faktor lain yang turut membebani kinerja adalah struktur permodalan sejumlah perusahaan farmasi yang masih menghadapi tekanan utang. Beban bunga yang tinggi dapat menggerus profitabilitas dan menghambat optimalisasi kinerja keuangan.
Meski demikian, prospek jangka menengah industri ini masih memiliki sejumlah katalis positif. Pemerintah terus mendorong peningkatan layanan kesehatan, termasuk melalui perluasan cakupan program BPJS Kesehatan. Langkah ini berpotensi menjaga stabilitas permintaan obat-obatan, khususnya di segmen generik.
Di sisi lain, tren konsumsi masyarakat juga mulai bergeser ke arah pencegahan atau preventif dibandingkan pengobatan atau kuratif. Perubahan perilaku ini membuka peluang bagi perusahaan farmasi untuk mengembangkan produk-produk kesehatan berbasis wellness dan suplemen.
Secara keseluruhan, industri farmasi Indonesia saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan prospek yang tetap menjanjikan, tetapi dibayangi sejumlah headwinds.
Nafan merekomendasikan wait and see untuk saham-saham emiten farmasi dengan investor bersikap selektif dan mencermati fundamental masing-masing emiten di tengah dinamika yang masih penuh tantangan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.