
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sejumlah analis memberikan pandangan optimistis untuk emiten pertambangan nikel terintegrasi PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel.
Adapun, perseroan terpantau terus memperkuat fondasi operasionalnya di Kepulauan Obi, Maluku Utara. BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya memberikan pandangan optimistis terhadap perjalanan turnaround perusahaan di 2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menyatakan Harita Nickel diproyeksikan mencatatkan lonjakan kapasitas produksi secara signifikan seiring dengan tuntasnya fase uji coba sejumlah proyek strategis pada 2026.
Dia menuturkan bahwa manajemen NCKL tengah berfokus pada inisiatif efisiensi biaya secara grup sejalan dengan pengoperasian beberapa proyek baru, seperti KPS Tahap 2, KPS Tahap 3, hingga pabrik kapur tohor (quicklime plant/CKM).
“Total kapasitas produksi NCKL diperkirakan meningkat material menjadi sekitar 305.000 ton pada 2026, dibandingkan dengan estimasi 180.000 ton pada 2025,” tulis Andhika dalam risetnya, dikutip Selasa (17/2/2026).
Meskipun kapasitas melonjak, tingkat utilitas pabrik diproyeksikan akan mengalami normalisasi ke level yang lebih berkelanjutan yakni 68%—70%, setelah sempat menyentuh level tinggi 97% pada tahun sebelumnya.
: Prospek Harita Nickel (NCKL) di Tengah Penguatan Operasional Obi
BRI Danareksa juga menyoroti peningkatan kepemilikan efektif NCKL pada unit bisnis HPAL melalui ONC menjadi 40%, dari sebelumnya hanya 5%. Hal ini dinilai akan memperkuat kontribusi laba dari entitas asosiasi secara konsolidasi.
Dari sisi operasional, volume penjualan nickel pig iron (NPI) diprediksi terjaga di level 205.000 hingga 210.000 ton nikel. Sementara itu, output Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari ONC diperkirakan stabil di angka 68,3 kiloton (kt).
Keberadaan pabrik kapur tohor dan efisiensi di operasional Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) diprediksi mampu menekan biaya tunai konsolidasian (cash cost) per ton sebesar 3% hingga 4% secara tahunan (year on year/yoy).
Melihat prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik perkiraan laba bersih NCKL untuk periode 2026—2027 sebesar 43,7% hingga 67,3%. Peningkatan laba tersebut didorong oleh tambahan kapasitas sebesar 125,5 kilo ton serta kenaikan kepemilikan efektif di joint ventures (JV) utama.
BRI Danareksa Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga yang lebih tinggi di level Rp1.800 per saham, dari sebelumnya di Rp1.300.
“Kami menilai valuasi ini wajar mengingat visibilitas laba yang membaik dan profil operasional yang lebih stabil,” pungkas Andhika.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini mulai merespons positif kenaikan harga jual nikel global.
Situasi tersebut, lanjut Wafi, diyakini mampu memperbaiki margin perusahaan di tengah langkah strategis pemerintah dalam mengontrol pasokan melalui kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
“Pasar lebih merespons kenaikan harga jual global yang bisa memperbaiki margin ketimbang penurunan volume produksi sementara. Pemangkasan ini dilihat sebagai langkah strategis untuk mendongkrak harga komoditas dan mengakhiri era oversupply,” ucap Wafi saat dihubungi baru-baru ini.
: Diam-diam Akumulasi Saham Harita Nickel (NCKL)
Dalam skenario ini, Harita Nickel dinilai memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan para pesaingnya. Hal tersebut tidak lepas dari struktur bisnis perseroan yang telah terintegrasi sepenuhnya dari hulu ke hilir.
“Paling diuntungkan adalah NCKL karena memiliki integrasi supply chain hulu-hilir paling efisien dan biaya cash cost terendah di industrinya,” ungkap Wafi.
Dari sisi valuasi, KISI Sekuritas menilai harga saham nikel saat ini sangat menarik untuk dicermati. Pasalnya, mayoritas saham di sektor ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis rasio price to earnings (PE).
Berdasarkan analisis tersebut, KISI Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk NCKL dengan target harga di level Rp2.100 per saham.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham NCKL berada di level Rp1.450 per saham hingga Jumat (13/2). Harga tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 28,89% sejak awal tahun dan menguat 11,54% selama sepekan terakhir.
TRIMEGAH BANGUN PERSADA TBK – TradingView
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.