
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg menunjukkan proyeksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Februari 2026 pada Kamis (19/2/2026) esok.
Survei Bloomberg menunjukkan bahwa sebanyak 22 dari 23 ekonom memperkirakan BI akan menahan suku bunga. Artinya, hanya ada satu ekonom yang memproyeksikan bahwa bank sentral akan menurun BI Rate pada Februari 2026.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual merupakan salah satu yang memproyeksikan bank sentral belum akan melakukan pelonggaran moneter pada bulan ini. Menurutnya, keputusan untuk menahan BI Rate didorong oleh masih terjadinya net outflow atau aliran modal asing keluar pada instrumen aset keuangan Tanah Air.
: Ramalan Pejabat The Fed: Lonjakan Produktivitas AI Dorong Kenaikan Suku Bunga
“Inflasi juga sedikit naik pada Januari. Kuartal I/2026 ini, BI dan The Fed perkiraan saya masih akan menahan [suku bunga],” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Meski demikian, David melihat adanya peluang penurunan suku bunga ke depannya. Kemungkinan risiko dari dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan turunnya harga aset dinilai bisa mendorong pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada RDG bulan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar keuangan.
Josua menyoroti sejumlah tekanan yang saat ini membayangi pasar domestik, mulai dari peringatan MSCI mengenai isu free float hingga revisi lembaga pemeringkat Moody’s terhadap prospek utang negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif.
“Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Dalam konteks tersebut, Josua menilai BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor ketimbang melakukan pelonggaran moneter dalam jangka pendek.
“Sehingga ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas, setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik,” tutup Josua.