
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah sejak awal tahun, saat Indeks LQ45 mengalami outperform. Strategi pivot ke saham-saham LQ45 yang mengalami peningkatan dinilai menjadi strategi yang bisa dilakukan investor saat ini.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menjelaskan pelemahan IHSG saat ini memang lebih banyak dipicu oleh sentimen kekhawatiran kenaikan harga minyak yang cukup signifikan.
“Pasar merespons secara cukup agresif terhadap potensi risiko inflasi dan tekanan fiskal,” ujar Ekky, Senin (9/3/2026).
: IHSG Anjlok 3,27% Imbas Perang Iran, Ini Kata Bos BEI Tenangkan Pasar
Dalam kondisi seperti ini, menurutnya penurunan yang terjadi bisa dikatakan cukup spekulatif dan cenderung berlebihan, apalagi secara teknikal juga terlihat terbentuk gap.
“Karena itu, meskipun tren besar IHSG masih berada dalam fase bearish, menurut saya tetap ada peluang rebound teknikal jangka pendek yang bisa dimanfaatkan untuk trading,” tutur Ekky.
: : IHSG Ditutup Turun 3,27% ke 7.337, Saham PGAS, AMMN, hingga NCKL jadi Pemberat
Di sisi lain, lanjut dia, indeks LQ45 terlihat relatif lebih resilien, bahkan outperform. Hal ini menurut Ekky mencerminkan adanya rotasi ke saham-saham yang lebih likuid dan berbasis komoditas, terutama yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi dan logam.
Dia juga melanjutkan dalam kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, pivot ke saham-saham komoditas di indeks LQ45 saat ini menurutnya cukup menarik, karena sektor ini cenderung memiliki korelasi positif terhadap kenaikan harga komoditas global dan sering menjadi pilihan defensif ketika risiko geopolitik meningkat.
: : Perang Iran Guncang Bursa Asia, Nikkei dan Kospi Terkapar, IHSG Ikut Anjlok
Lebih lanjut, kata dia, pasar akan menunggu beberapa hal yang dapat mendorong penguatan indeks LQ45 ke depan. Pertama, yaitu meredanya konflik geopolitik, yang dapat menurunkan volatilitas harga energi. Kedua, respons kebijakan dari pemerintah maupun otoritas moneter terkait kekhawatiran inflasi dan stabilitas fiskal.
Menurutnya, jika kekhawatiran tersebut mulai mereda, biasanya risk appetite investor akan kembali membaik dan berpotensi mendorong technical rebound di indeks.
Adapun Ekky menilai sejumlah saham komoditas di LQ45 masih menarik untuk diperhatikan, antara lain AADI, ADRO, AKRA, INCO, MEDC, ITMG, dan MDKA.
Saham-saham tersebut memiliki katalis dari kenaikan harga komoditas masing-masing, baik dari sisi energi maupun logam, sehingga dalam kondisi pasar yang masih volatil, sektor ini relatif memiliki buffer yang lebih baik dibanding sektor lain.
“Namun demikian, strategi yang menurut saya lebih rasional saat ini adalah tetap trading oriented, memanfaatkan momentum rebound jangka pendek dan melakukan akumulasi secara bertahap, karena arah tren IHSG secara keseluruhan masih perlu konfirmasi pembalikan yang lebih kuat,” kata Ekky.
Sebagaimana diketahui, sejumlah saham komoditas dalam indeks LQ45 seperti MDKA tercatat telah menguat 46,05% sejak awal tahun ini atau year to date (YTD). Demikian juga saham AADI yang juga telah menguat 49,82%, serta MEDC yang telag menguat 25,65% sejak awal tahun.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.