Menakar katalis saham energi saat paling cuan sepekan

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Saham sektor energi (IDXENERGY) menjadi yang melonjak paling tinggi dalam sepekan terakhir, 9-13 Februari 2026. Performa saham energi itu sejalan dengan outlook positif di sektor ini yang menjadi katalis kuat bagi pasar.

Melansir statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam sepekan terakhir IDXENERGY tumbuh 11,94%, menjadi pertumbuhan tertinggi dibanding sektor lainnya, bahkan di atas indeks harga saham gabungan (IHSG) yang melonjak 3,49%.

Konsitensi ini terlihat hingga perdagangan terakhir sebelum libur panjang, Jumat (13/2/2026). Saat itu, IDXNENERGY naik 1,32%, berlawanan arah dengan IHSG yang turun 0,64% ke 8.212. Saham konstituen yang menguat dipimpin oleh DEWA yang naik 9.73% ke Rp620, INPS naik 9,66% ke Rp386, ENRG naik 9,64% ke Rp1.535, CANI naik 8,91% ke Rp220, BUMI yang menguat 8,15% ke Rp292, sampai RATU yang tumbuh 4,28% ke Rp6.700.

: IHSG Volatil, Diversifikasi Reksa Dana Dinilai Krusial

Bila menilik valuasi transaksinya, penggerak harga saham energi tersebut mayoritas digerakkan oleh transaksi domestik. Misalnya di DEWA, terdapat transaksi beli investor domestik sebesar Rp665,18 miliar, dibanding transaksi beli asing yang hanya Rp155,04 miliar. Atau, BUMI yang mencatat transaksi beli domestik Rp2,46 triliun dibanding transaksi beli asing Rp737,58 miliar. Bahkan, net sell asing BUMI tercatat sebesar Rp233,28 miliar di pasar reguler.

Sementara itu, RATU mencatat transaksi beli domestik sebesar Rp113,40 miliar, dibanding transaksi beli asing Rp32,87 miliar. Pada perdagangan Jumat (13/2), RATU mencatat net buy asing Rp10,69 miliar di pasar reguler.

: : Jadwal THR PNS TNI dan Polri 2026, Menkeu Purbaya Sediakan Rp55 Triliun

IDXENERGY. – TradingView

: : Danantara Detailkan Empat Proyek Investasi Rp202,4 Triliun pada 2026

Tren kenaikan saham-saham energi tersebut merupakan apresiasi pasar atas outlook komoditas yang positif. DBS Sekuritas dalam riset bertajuk Regional Industry Focus yang dirilis 29 Januari 2026, menyebut bahwa kombinasi antara lonjakan harga minyak imbas geopolitik serta sektor energi yang bisa menjadi instrumen lindung nilai di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi katalis utama.

“Kami memperkirakan tren ini akan berlanjut hingga 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Proksi upstream dan terintegrasi pilihan kami di kawasan ini antara lain PetroChina, PTTEP, dan Medco,” tulis riset tersebut, dikutip Senin (16/2/2026).

Laporan tersebut juga menjabarkan bahwa saham energi secara historis diuntungkan oleh korelasi yang rendah terhadap sektor teknologi. Sebagai contoh, ketika indeks NASDAQ yang didominasi saham teknologi mengalami kejatuhan tajam pada periode Maret 2000 hingga Oktober 2002, dengan penurunan sekitar 78%, saham energi menunjukkan ketahanan relatif. 

Pada periode tersebut, emiten energi terintegrasi berkapitalisasi besar mampu memberikan apresiasi harga yang stabil serta dividen yang andal. Oleh karena itu, DBS merekomendasikan investor sebaiknya mempertimbangkan saham energi berkapitalisasi besar sebagai alokasi defensif terhadap potensi kekhawatiran terkait gelembung sektor teknologi yang dapat muncul seiring berkembangnya AI.

Bila dibedah outlook di tiap segmen komoditasnya, DBS memperkirakan oversupply minyak global akan mereda pada kuartal I/2026 seiring OPEC+ yang untuk sementara menunda rencana peningkatan produksi. Dalam kondisi ini, DBS melihat harga saham perusahaan minyak raksasa tetap resilien meskipun harga minyak tahun lalu moderat.

Sejalan dengan hal itu, belanja modal sektor migas diprediksi relatif datar, namun permintaan proyek ekspansi baru diproyeksi tetap meningkat. Dalam situasi ini permintaan jasa angkutan kapal lepas pantai (offshore) diperkirakan tumbuh.

Untuk komoditas lainnya, harga batu bara Newcastle diperkirakan ada di kisaran US$110-US$130 per ton pada 2026/2027. Ekspansi pasokan batu bara di tahun ini diperkirakan terhambat oleh curah hujan tinggi dan keterbatasan pembiayaan, namun di sisi lain pemulihan ekonomi di China diperkirakan akan mendorong peningkatan impor.

“Saham batu bara masih menawarkan dividen yang menarik, namun kami lebih selektif pada 2026 karena risiko pajak eksposur batu bara. Pilihan kami adalah ADRO dengan potensi aksi korporasi merger dan akuisisi,” tulis riset itu.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.