
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Aliran dana asing ke pasar saham Indonesia diperkirakan mengalami perubahan signifikan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan kebijakan interim berupa pembekuan atau freeze rebalancing indeks periode Februari 2026.
Kebijakan tersebut membuat tidak ada penambahan maupun pengurangan saham Indonesia dalam indeks MSCI pada periode tersebut. Dengan demikian, peluang Indonesia untuk meningkatkan bobot di Indeks MSCI tertunda untuk sementara waktu.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai kondisi ini membuka sejumlah risiko lanjutan, mulai dari potensi penurunan bobot hingga kemungkinan degradasi ke status frontier market, apabila perbaikan transparansi pasar tidak terealisasi hingga batas waktu Mei 2026.
: Apa Itu MSCI, Daftar Saham dan Mengapa Penting Bagi Investor
Seiring kebijakan MSCI itu, narasi passive inflows yang selama ini bertumpu pada kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan promosi indeks dinilai tidak lagi relevan dalam waktu dekat. Bahkan, risiko arus keluar tambahan dapat muncul apabila MSCI memangkas FIF atau menurunkan bobot Indonesia dalam Indeks MSCI Emerging Markets.
“Dalam situasi ini, pelaku pasar diimbau untuk lebih selektif, khususnya terhadap saham-saham yang sebelumnya menguat karena spekulasi masuk indeks MSCI,” tulis riset Mirae Asset Sekuritas yang dikutip Kamis (29/1/2026).
Bumi Resources Tbk. – TradingView
Mirae Asset mencatat, dengan skenario perdagangan MSCI untuk peninjauan Februari yang praktis gugur, saham-saham seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) berpotensi kehilangan dorongan sentimen positif yang sebelumnya menopang pergerakan harga. Sebaliknya, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang sempat berada dalam radar risiko dikeluarkan diperkirakan tetap bertahan dalam indeks.
: : The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Global Bergejolak dan Dolar Menguat
Tekanan pasar saat ini juga terlihat terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan kelompok konglomerasi yang menjadi konstituen utama MSCI sekaligus pilar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kondisi tersebut mengindikasikan volatilitas jangka pendek masih akan tinggi, meskipun secara umum fundamental emiten tidak mengalami perubahan berarti.
Meski demikian, Mirae Asset menilai koreksi tajam yang dipicu faktor teknikal ini tidak semata menjadi ancaman. Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, kondisi tersebut justru berpotensi membuka peluang akumulasi selektif, terutama pada saham-saham dengan fundamental solid dan sensitivitas yang relatif rendah terhadap perubahan bobot indeks MSCI.
Sejumlah saham seperti PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT RMK Energy Tbk. (RMKE), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dinilai masih memiliki prospek menarik. Selain itu, saham PT Timah Tbk. (TINS) turut menjadi sorotan seiring dukungan harga timah yang masih tinggi serta proyeksi pemulihan produksi pada 2026.
Pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026), IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada awal sesi kedua setelah tertekan tajam menyusul pengumuman MSCI terkait kebijakan interim freeze terhadap Indonesia.
Dalam kebijakan tersebut, MSCI membekukan kenaikan FIF dan Number of Shares (NOS), dua komponen utama penentu bobot saham Indonesia dalam indeks. Langkah ini diambil setelah MSCI menyelesaikan proses konsultasi metodologi free float saham Indonesia dan meninjau ulang klasifikasi kepemilikan saham.
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan dua skenario ke depan. Pertama, aksi jual saat ini bersifat sementara dan lebih mencerminkan tekanan teknikal. Kedua, situasi berkembang menjadi sentimen negatif struktural apabila respons regulator dan langkah perbaikan tidak berjalan efektif. Kecepatan dan ketepatan kebijakan dinilai akan menentukan arah aliran dana asing ke pasar saham domestik ke depan.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.