
Indeks pasar saham Venezuela, Índice Bursátil de Capitalización (IBC), melonjak 562,07 poin atau 14,42 persen ke posisi 4.458,84 poin dalam penutupan perdagangan Rabu (7/1) waktu setempat. Berdasarkan data Trading Economics, ini merupakan level tertinggi sejak 2017 yang saat itu tembus 4.545,62.
Indeks IBC Venezuela yang berbasis di Caracas juga sempat melonjak 50 persen dalam satu sesi perdagangan pada Selasa (6/1). Lonjakan pada Selasa merupakan lanjutan dari perdagangan sehari sebelumnya yang naik 16 persen dan menutup rangkaian kenaikan tajam yang dimulai sejak akhir bulan lalu. Pada Senin (19/12), indeks naik 22 persen, disusul kenaikan 7 persen pada Jumat, 2 Januari, ketika perdagangan kembali dibuka setelah libur Tahun Baru 2026.
Indeks IBC juga mencatat kenaikan 199,73 persen dalam satu bulan terakhir dan melonjak 3.361,96 persen secara tahunan (year-on-year).
Peningkatan saham terjadi usai Presiden AS Donald Trump mengobrak-abrik Venezuela. Mulai dari blokade kapal tanker, menangkap Presiden Nicolas Maduro, hingga ambil alih 50 juta barel minyak Venezuela. Terbaru, Trump memaksa negara tersebut membeli produk-produk buatan AS dari uang hasil penjualan minyak.
Lonjakan IBC ini dipandang pasar sebagai potensi titik balik bagi arah kebijakan ekonomi dan hubungan Venezuela dengan komunitas internasional. Optimisme tersebut mendorong aksi beli agresif di saham-saham utama yang tercatat di Bursa Efek IBC.

Fokus investor juga beralih ke arus minyak dan langkah lanjutan Gedung Putih. Caracas dan Washington telah mencapai kesepakatan untuk mengekspor hingga USD 2 miliar minyak mentah Venezuela ke AS. Kesepakatan ini menyusul serangan akhir pekan ke Venezuela, serta pernyataan Gedung Putih bahwa AS sedang mengkaji opsi untuk memperoleh Greenland.
Di pasar global, dampaknya terasa cepat. Kontrak berjangka minyak mentah turun sementara saham-saham berbasis sumber daya naik pada awal perdagangan Asia pada Rabu (7/1) seiring pasar mencerna dampak gejolak politik di Venezuela dan nasib cadangan minyaknya.
“Harga kontrak berjangka minyak masih berada dalam tekanan setelah aksi jual pada akhir perdagangan kemarin, menyusul kabar bahwa Venezuela akan memberikan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS,” ujar Senior Vice Presicdent of Trading di BOK Financial, Dennis Kissler, dikutip dari Reuters.